KJ di Antara Waktu, Realisme, dan Estetika



Oleh: Leonowens SP







Cinta Seekor Singa (35 Tahun KJ Menyair)

Oleh: Kurniawan Junaedhie

            

ISBN   :           9786028543194

Rilis      :           2009    

Halaman           :           138p

Penerbit:           Bisnis2030

Bahasa :           Indonesia

Rp.42.600

 

 

"Don't look at your form, however ugly or beautiful.
Look at love and at the aim of your quest..." (Jalalud'din Rumi)



Kumpulan puisi-puisi Kurniawan Junaedhie
(KJ) yang terhimpun dalam kumpulan puisi “Cinta
Seekor Singa”, merupakan karya puisi yang bergumul dengan realitas
dan estetikanya. Tentu hal ini adalah bagian dari seni ekspresi emosional
seorang KJ dalam berkarya puisi. Demikianlah dengan permaknaan teologis,
renungan, replika ruang, dan ragam metamorfosa pada alur berpikir; merupakan
hasil dari rentang waktu yang dialektis dengan pemahamannya akan beberapa nilai
kehidupan. Rentang waktu merupakan suatu peran untuk mengabstraksikan beberapa
ilustrasi praktis dari puisi KJ.



Suatu ekspresi manusiawi KJ, ketika perasaan dan ketajaman emosional telah
bekerja sedemikian praktis dalam pengelolaan kata dan kalimat yang tidaklah
metafora. Unsur romantis ekspresif telah terjalin dalam kalimat “kukecup
bekas ciumanmu/ semalam” (“Puisi Bulan September”, 1974). Tentu dalam puisi
ini bukan mengundang suatu pembiasan makna dari setiap pembacanya, jika
diperbandingkan dengan kalimat “tak mungkin kulupa/ terbagi kesadaranku”
(“Tanah Lahir”, 1977); atau dengan puisi yang berjudul “Sajak Kelereng”.



Kita akan kembali dipertanyakan tentang rentang perjalanan hidup KJ dan proses
yang membentuk karakter dalam penulisan puisinya. Hal tersebut tidak hanya
dapat disimplikasikan dengan beberapa catatan dan kesaksian dari orang-orang
yang berada di sekitarnya, tetapi kita perlu untuk memahami penawaran dan 
realitas
yang dibangun dalam puisi-puisinya tersebut. Demikianlah ketika dunia menggali
realitas dari karya-karya puisi dan rentang masa kehidupan Al-Mutanabbi,
seorang penyair klasik Arab di tahun 915-965. 



Makna filosofis yang cukup kental akan relasi ruang, logika sentris, dan
beberapa material yang mendukung timbulnya hasrat hingga rasa; terkandung dalam
puisi-puisi KJ yang termaktub pada beberapa judul karyanya, antara lain: “Saat
Edelweiss Diputar” (1977), “Tamat” (1979), “Jurang” (1982), “Ingin Berjumpa”
(1982), “Antara Padang-Bukit Tinggi” (1983), “Waktu” (1985), “Di Perpustakaan“
(1986), “Sajak Untuk Orang Kecewa” (1993), “Sajak Untuk Orang Kasmaran” (1993),
“Kau Pun Menghilang Di Balik Awan” (1994), dan “Sajak Untuk Ibunda Tercinta”
(2008).



Inilah keindahan dari seni ekspresi emosional, ketika KJ tidak terjebak dalam
suatu sentimen berlebihan di dalam puitika yang melukis gejolak rasanya. 
“Tidak./
aku tak boleh menangis/ Aku adalah pilar besi/ aku harus tetap berdiri/meski
ada yang tiba-tiba hilang” (“Kau Pun Menghilang Di Balik Awan”, 1994);
kalimat dalam baris puisi ini telah berkontribusi bagi suatu keeksotisan dari
ungkapan rasa yang jujur. KJ sangat meminimalisir suatu ego yang bersifat
semantik dalam pengungkapan realitasnya di balik kata-kata. 



Mungkin cukup naif, jika analisis kita hanya memberi dimensi kepada karya-karya
KJ dalam batas “gejolak rasa” atau tersaji hal-hal subyektif yang terdapat pada
keindividualannya,seperti: cinta, penyesalan, penghormatan, kekecewaan,
kerinduan,amarah,keloyalitasan, kecemburuan, dan unsur kenangan atau nostalgia
tertentu; tanpa mengolaborasikan nilai-nilai yang tengah bergulir, hingga
mendukung terjadinya penciptaan puisi tersebut. Salah satu nilai yang
dipertaruhkan, agar puisi-puisi itu menjadi suatu kisah yang tidak
menghilangkan sentuhan puisi adalah: keestetikaan. 



Namun keestetikaan dalam kata akan menjadi sesuatu yang tidak bertanggung
jawab, jika tidak mengalami pemilahan: ruang dan pencitraan tentang ruang
tersebut dalam kata yang tepat dan mampu mewakili keberadaan ruang. Demikianlah
halnya dengan suatu momentum, yang harus terwakili oleh pengondisian waktu.
Puisi-puisi yang berjudul: “Di Bogor” (1979), “Ciawi” (1983), “Nyanyian Pagi”
(1985), “Di Rimba Jakarta” (1992), “Aufwidersehe” (1994), “Dari Ujung Dunia”
(1994), dan “Sketsa Di Rumah Wilson” (1996); adalah puisi yang merepresentasi
pencitraan ruang dalam pengondisian waktu. 



Ada sedikit perbedaan dengan puisi berikut: “Kesepian
melindas hatiku di Amsterdam/
hari hampir malam/suasana dingin muram/ kudengar suara orang menggumam/ o,
suara william” (“Sketsa di Rumah William”, 1996); suatu keestetikaan dari
puisi yang ditempatkan di antara ruang, pengondisian waktu, dan akhiran kata
yang serupa hingga menghasilkan ritme pelafalan yang cenderung stabil. Puisi
tersebut adalah salah satu contoh karya puisi yang mensubordinasi keegoan
penyairnya dalam mengelola kata-kata secara berlebihan (eufemisme), dan tidak
membiaskan makna.



Tentang perbandingan antara keestetikaan dan keindahan dalam puisi-puisi yang
dibangun oleh KJ, dapat kita analogikan dengan karya lukis retable oleh Van
Eyek; bahwa ketika keindahan itu tidak hanya dapat terukur di beberapa nilai
keestetikaan yang tersirat, namun dapat ditempatkan di ruang yang memahami
kebenaran waktu dan masa mengenai makna dari keindahan itu. Artinya, ketika
kesempurnaan dari suatu karya haruslah mampu mengekspresikan hal yang imajiner.
Puisi “Pantun Hati Rindu” (2009), merupakan representasi yang cukup berani.



Kenapa puisi tersebut sedemikian berani?

 

Puisi itu telah berdiri di antara pantun dan kuartrin, dalam perbendaharaan
teoritisnya. Namun sangatlah tragis jika kita hanya terjebak di dalam suatu
perdebatan teoritis, tanpa mewakili beberapa nilai fundamental tentang
simbol-simbol dan bentuk kulturasi untuk melahirkan karyanya. Perbandingan dari
keberanian yang cukup baik dari puisi “Pantun Hati Rindu” (2009), adalah puisi
“Ketika Limbung” (2003). Sesuatu yang simbolis dan liris telah dihadirkan dalam
momen dan fenomena varian rasa dari seorang KJ.



Modifikasi kata yang minim, namun menampilkan ide dasar secara terskenario dan
terkonstruksi dengan proposisional adalah basis dari kekuatan kontemplasi pada
puisi-puisi KJ, seperti: “Lagu Percintaan” (1985), “Umur” (1991), “Cinta Ibu”
(1995), “Surat Untuk Seorang Teman” (1995), dan “Lagu Perkawinan” (1995);
adalah beberapa percontohan puisi, ketika kontemplasi dan kelugasan filosofi
saling berkesinambung dalam struktur tulisan yang menggunakan pola “konteks di
antara teks”. Hampir sama halnya pada roman Tristan and Yseult, ketika
rangkaian cerita berkontemplasi dari beberapa sentuhan yang filosofis.



Puisi yang berjudul: “Kenangan Untuk Si Dia” (2009), adalah demonstrasi kata
yang cukup signifikan kepada penalaran subjek yang dipampangnya. Namun, apakah
subjek yang dimaksud oleh penulisnya adalah entitas dari beberapa objek di
dalam sisi perpuisiannya? KJ telah membangun unsur-unsur pemenuhan syarat
“rangkaian kata menuju suatu tanya yang memaknai,” sehingga mampu mengasah
nalar pembacanya. Dua baris kalimat: “dipalu gelisah/ ditikam gelisah”,
tentu melahirkan multi intrepretasi yang berefek dari keseluruhan isi pada
puisi Kenangan Untuk Si Dia. 



 Unsur relijiusitas dan hal-hal yang berkarakter abstrak dalam beberapa
puisi KJ, termaktub kata-kata seperti: surga, firdaus, tuhan, akhirat, takdir,
Allah; merupakan tahapan transendental yang dipercaya, dikenyam, atau dialami
oleh penulisnya. Dan, KJ mengeksplorasi dunia konotasi yang imajiner, misalkan
tertera kalimat: “1000 masalah dunia” (“Sajak Untuk Ibunda Tercinta”, 2008).
Penempatan kata yang tepat di antara tuntutan untuk mengilustrasikan suatu
objek yang dituju, adalah ketika kata-kata harus mampu menata adanya
representasi dari realita.



Sensasi, sentuhan humor, dan kerumitan yang minim dalam pengelolaan setiap
rangkai kata yang tersaji; telah mempertegas adanya suatu hubungan puisi dengan
proses pencerdasan bagi setiap kalimatnya, atau ketika makna yang harus
dilontarkan kepada para pembaca tanpa membiaskan nilainya. Dalam kaitan ini, KJ
bukanlah mewakili karakter Julien Sorel yang bersifat terus terang dengan
memaksa diri untuk menjadi ambisius dan enerjik. Tetapi KJ adalah seseorang
yang telah berdiri di antara waktu, realisme, dan estetika; tanpa lebih
cenderung kepada salah satu ciri tersebut.***



Jakarta, Juli
2009  

------------------Pemesanan Buku klik link berikut:


http://www.bookoopedia.com/daftar-buku/pid-28813/cinta-seekor-singa-35-tahun-kj-menyair.html


www.bookoopedia.com



Buy Globally, Pay Locally

Beli buku-buku Amazon dari Indonesia

No Credit Card needed, bayar rupiah


      

Kirim email ke