Bersyukur...kalau kita masih bisa mendapatkan THR
Bersyukur kita masih bisa memberi bukan menerima
Bersyukur kita masih bisa naik taksi yang melebihi 30 ribu...  
 more picture below... 
  
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Jenazah usai diotopsi di RSUD dr Soedarsono, Pasuruan. 
/
Demi uang sebesar Rp30.000, ribuan orang di di Jl Wahidin Pasuruan rela 
berdesak-desakkan dan mengakibatkan 21 orang tewas. 
Peristiwa tragis itu terjadi saat pembagian zakat yang dimulai pada pukul 10.00 
WIB. Ribuan warga miskin yang datang dari berbagai pelosok desa di sekitar Kota 
dan Kabupaten Pasuruan itu berebut saling berdesakan guna mendapatkan zakat 
dengan nilai nominal Rp30.000 per orang yang dilangsungkan oleh keluarga 
dermawan H Syaichon di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Kota Pasuruan. 
Keluarga Syaichon yang mengatur para penerima zakat masuk satu per satu ke 
dalam halaman rumahnya, akhirnya membuat  ribuan orang yang terkonsentrasi di 
sebuah gang tak bisa bergerak, bahkan orang yang pingsan pun tidak bisa keluar. 
Puncaknya adalah: 21 orang tewas! 
Makin jelas bagi kita, seperti apa rupa kemiskinan yang terjadi di negeri ini. 
Jelas bukan seperti yang dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengklaim 
angka kemiskinan di Indonesia telah mengalami penurunan sebesar 10 juta jiwa 
selama pemerintah Indonesia dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jika 
sebelumnya angka kemiskinan mencapai 40 juta jiwa, saat ini jumlah penduduk 
miskin di Tanah Air diperkirakan berjumlah 30 juta jiwa. 
Kemiskinan tak lagi menjadi mimpi buruk. Ia telah benar-benar menjelma menjadi 
barisan manusia-manusia tak berdaya yang hadir di mana pun ada remah-remah 
rezeki, termasuk di rumah keluarga H Syaichon. 
Ya, mereka adalah para fakir miskin yang berniat menerima zakat. Sekali lagi 
zakat, sebuah terminologi yang di dalamnya mengandung kemulyaan hidup berupa 
kasih sayang terhadap sesama lewat tindakan berbagi. 
Zakat adalah rukun ketiga dari rukun Islam. Secara harfiah zakat berarti 
"tumbuh", "berkembang", "menyucikan", atau "membersihkan". Sedangkan secara 
terminologi syari'ah, zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan 
dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana 
ditentukan. 
Si pemberi zakat jelas orang mampu secara material. Orang yang memiliki niat 
dan tindakan luhur untuk berbagi dengan sesama dan berharap pahala dari Allah. 
Adapun si penerima zakat di antaranya adalah mereka yang Fakir, yang hampir 
tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup. 
Mereka yang Miskin, yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi 
kebutuhan dasar untuk hidup. 
Secara teoritis, kemiskinan bisa dipahami sebagai gambaran kekurangan materi, 
yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan 
pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi 
kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar. 
Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, 
ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal 
ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan 
dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan 
tidak dibatasi pada bidang ekonomi. 
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna 
"memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan 
ekonomi di seluruh dunia. 
Entah gambaran seperti apa yang tepat untuk melukiskan kemiskinan yang sedang 
melanda masyarakat kita. Gambaran-gambaran di atas boleh jadi telah cukup 
akurat, tapi melihat fakta yang ada, mungkin kata nekat perlu pula ditambahkan, 
termasuk nekat untuk mati demi tiga lembar sepuluh ribuan. 
Saya percaya, sebagian besar yang datang ke rumah keluarga H Syaichon adalah 
orang-orang yang berniat mulia, berniat mencari sedekah untuk menyambung hidup, 
menyenangkan orang rumah untuk beli makanan atau membeli pakaian bekas. 
Saya juga percaya, Pak Syaichon tulus membagikan sebagian kekayaannya untuk 
para fakir miskin. Yang jadi soal, kenapakah ia membagi sendiri zakatnya itu 
kepada ribuan orang. 
Mungkin benar pendapat Pengamat sosial, Prof DR M Ali Haidar MA, yang menilai 
musibah yang mengenaskan itu menunjukkan ketidakpercayaan orang yang berzakat 
kepada institusi yang menangani zakat.
    
"Ketidakpercayaan itu mendorong orang yang berzakat langsung membagikan sendiri 
zakatnya," kata guru besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu. 
Maklumlah, salah satu "penyakit gawat" yang terus mewabah pada bangsa ini 
adalah hilangnya kepercayaan orang per orang dan kepercayaan orang terhadap 
institusi, termasuk institusi negara. 
Orang belajar pada pengalaman, itulah jawabnya. Pada hari-hari yang kita 
lewati, kian susah kita menemukan tauladan luhur dari para pemimpin bangsa ini. 
Yang kita dapati adalah contoh buruk bagaimana para tokoh yang mewakili kita 
justru bertindak deksura. Bagaimana para pemimpin yang mengatur kehidupan 
bernegara kita hidup berfoya-foya. Dan, mereka yang kita percaya sebagai imam 
hidup kita justru membawa kehidupan makin suram. 
Menyakitkan memang. Apalagi ini terjadi saat umat Islam sedang menjalani ibadah 
puasa. Apalagi ini terjadi di kala para tokoh sedang riuh rendah menawarkan 
janji-janji manis dalam rangka menghadapi pemilu 2009. Apalagi ini terjadi di 
bumi gemah ripah... loh kok begini. Hmmm, saya benar-benar tak mampu meneruskan 
ujar-ujar Jawa yang hebat mengenai negeri kita yang makmur jibar-jibur itu. 
Terlalu getir buat saya mendapati fakta sauadara-saudara kita tewas hanya untuk 
uang setara dengan harga tiga bungkus rokok. 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke