Kamis, 18 September 2003  
      http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0309/18/Otomotif/568904.htm 
     
     

      Gunakanlah Oli yang Terbaik 


      OLI adalah penopang utama dari kerja sebuah mesin. Bukan itu saja, bahkan 
oli juga menentukan performa dan daya tahan mesin. Semakin baik kualitas oli 
yang digunakan, semakin baik pula performa dan daya tahan mesin. Fungsi oli 
bukan hanya sebagai pelumas saja, melainkan juga sebagai pendingin dan 
pembersih mesin. Sebagai pelumas, oli melumasi (lubricating) seluruh komponen 
yang bergerak di dalam mesin untuk mencegah terjadinya kontak langsung 
antarkomponen yang terbuat dari logam. Dalam hal ini, unsur kekentalan 
(viskositas) sangat penting.

      Sebagai pendingin, oli juga harus mampu mengurangi panas yang ditimbulkan 
oleh gesekan antarlogam pada mesin yang bergerak, seperti klep (katup) atau 
bearing (laher). 

      Proses pembakaran di dalam dapur pacu mesin dapat menimbulkan oksidasi 
sehingga menghadirkan kerak dan korosi pada logam. Di sinilah, oli berfungsi 
untuk membersihkan bagian-bagian mesin dari oksidasi dan mencegah terjadinya 
karat di dalam mesin. 

      Melihat arti penting oli bagi performa dan daya tahan mesin, maka sebelum 
memilih oli, sebaiknya seseorang lebih dulu mengetahui secara jelas jenis mesin 
kendaraan yang digunakannya. Misalnya memperhatikan tahun pembuatan kendaraan 
dan sistem kerja mesin. Cara yang paling aman adalah mempelajari dari buku 
panduan (manual book) kendaraan untuk mengetahui jenis pelumas dan 
karakteristik seperti apa yang direkomendasikan oleh pabrik.

      Dalam panduan yang dikeluarkan Agip, salah satu merek oli, disebutkan, 
pada setiap oli yang beredar di pasaran akan dijumpai dua istilah karakteristik 
oli, yakni SAE dan API. SAE adalah untuk menandai tingkat kekentalan 
(viskositas). Misalnya, SAE 20W-50. Huruf W berarti winter (musim dingin). Itu 
berarti dalam suhu dingin (pada musim dingin), kekentalan oli berada pada angka 
viskositas SAE 20. Sementara angka 50 berarti pada udara panas tingkat 
kekentalan oli akan berubah menjadi 50. Inilah yang disebut oli multigrade atau 
oli yang memiliki beberapa tingkat (grade) kekentalan. Sedangkan karakteristik 
oli monograde hanya memiliki satu tingkat kekentalan, misalnya SAE 40 dan SAE 
50.

      Adapun API (Automotive Petroleum Institute) adalah petunjuk bagi 
tingkatan mutu oli. Pada mesin kendaraan yang menggunakan bahan bakar bensin 
biasanya diawali dengan huruf S (service station), misalnya SG atau SJ. 
Sementara untuk kendaraan yang menggunakan mesin diesel diawali dengan huruf C 
(commercial), misalnya CD atau CF.

      Mesin kendaraan baru biasanya membutuhkan oli dengan grade tinggi, 
mengingat letak antara komponen yang satu dan yang lain sangat rapat, sehingga 
diperlukan oli yang dapat mengalir ke seluruh celah yang sempit. Pada mesin 
kendaraan keluaran lama, celahnya lebih luas.

      ADA dua jenis oli, yakni mineral dan sintetis. Yang mineral adalah 
campuran antara minyak bumi yang ditambah zat aditif, sedangkan yang sintetis 
adalah minyak bumi yang melalui proses kimiawi diubah menjadi bahan sintetis. 
Bahan sintetis daya tahannya terhadap panas lebih tinggi sehingga oli tidak 
mudah rusak dan tahan lebih lama terhadap oksidasi. Sebab itu, harga oli 
sintetis lebih mahal daripada oli mineral.

      Untuk kebutuhan biasa, tidak ada salahnya apabila menggunakan oli mineral 
mengingat harganya yang lebih murah daripada oli sintetis. Akan tetapi, untuk 
penggunaan ekstrem, seperti balap, mutlak menggunakan oli sintetis.

      Melihat pentingnya arti oli bagi mesin, Manajer Pemasaran PT Bahana Nusa 
Lubrindo, Mico F Kaliki, selaku pemasar oli Agip di Indonesia, menyarankan agar 
konsumen membeli oli di bengkel, atau kios resmi, untuk mencegah penggunaan oli 
bekas, atau oli palsu.

      Persoalan yang selalu menjadi pertanyaan konsumen adalah tiap berapa 
kilometer oli harus diganti. Mico mengatakan, sesungguhnya pertanyaan seperti 
itu sangat sulit untuk dijawab secara pasti mengingat masa pakai oli sangatlah 
tergantung kepada umur serta kondisi mesin kendaraan, dan juga kepada cara 
pemakaian, yakni ekstrem atau normal.

      Namun, secara umum, menurut Mico, biasanya penggantian itu dilakukan 
setiap 7.500 kilometer pada oli mineral, sedangkan oli sintesis bisa sampai 
10.000 kilometer, atau bahkan lebih. "Pada oli mineral, tingkat penguapannya 
cukup tinggi," ujar Mico.

      Menurut dia, pada mobil-mobil papan atas situasinya berbeda karena 
indikator di dashboard akan menentukan kapan oli mesin perlu diganti. Ada 
sensor di dalam mesin yang akan memberi tahu pengemudi kapan oli mesin harus 
diganti.

      MENENTUKAN oli yang baik juga bukan pekerjaan yang mudah mengingat 
pasaran Indonesia kini dibanjiri oli dari merek-merek terkemuka dunia. Bardahl, 
salah satu produsen oli dan aditif terkemuka dunia, pun akan kembali hadir di 
Indonesia. Produk Bardahl akan dipasarkan secara eksklusif awal 2004 mendatang 
di jaringan-jaringan Astra Otopart di seluruh Indonesia.

      Patokan umum yang dapat dipegang adalah, pertama, mengenali jenis mesin 
kendaraan. Kedua, mengikuti petunjuk SAE dan API oli yang direkomendasikan oleh 
buku panduan mobil. Ketiga, membeli pelumas di bengkel atau kios resmi untuk 
menghindari oli bekas atau oli palsu.

      Sejak dikeluarkannya Keppres No 21/2001, yang mengakhiri monopoli 
Pertamina, muncullah berbagai merek oli terkemuka dunia di Indonesia. Bahkan, 
beberapa di antaranya membuka pabrik di Indonesia. Selain menyediakan lebih 
banyak merek dan oli berkualitas di pasaran, Keppres itu juga memacu Pertamina 
untuk lebih meningkatkan kualitas oli yang diproduksinya.

      Data terakhir yang dikeluarkan Asosiasi Produsen Pelumas di Indonesia 
(Aspelindo) memperlihatkan bahwa Pertamina masih menguasai 54 persen pangsa 
pasar, diikuti oleh Pennzoil dan Evalube (12 persen), Top 1 (11 persen), 
Castrol (5 persen), Shell dan Agip (3 persen), dan Motul (1 persen).

      "Kami siap bersaing di pasaran dengan produk oli berteknologi tinggi, 
ramah lingkungan, dan harga terjangkau," kata Mico F Kaliki. Ia menambahkan, 
saat ini, Agip menguasai tiga persen pangsa pasar oli di Indonesia. Ia yakin 
jumlah itu secara bertahap akan mengalami peningkatan seiring dengan meluasnya 
penggunaan oli Agip.

      Agip (Azienda Generale Italiana Petroli), yang memulai kiprahnya pada 
tahun 1926, kini juga memiliki pabrik di Indonesia. Perusahaan oli, yang malang 
melintang di ajang lomba Formula 1 dan ajang lomba dunia lainnya, tersebut 
mengandalkan empat oli unggulannya di Indonesia, yakni Agip Sint 2000, Ekstra 
HTS, 2T Smokeless, dan Formula 2000. Agip 2T Smokeless adalah oli mesin dua tak 
(dua langkah) generasi terakhir yang asap buangnya sangat rendah. (James 
Luhulima)
     

Kirim email ke