Setuju om Yadhi, yuk kita kurangi sampah plastik.
Saya juga selalu bekel 1 liter di tas & refil dari *qua..
Klo mo bepergian jauh selalu siap berliter liter air di bahenol , malah kalo 
bagasinya masih muat saya bawa Galon he he he....

regard,

Yoki #495

  ----- Original Message ----- 
  From: [email protected] 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, June 30, 2010 8:44 PM
  Subject: Re: [baleno] Bensin vs air kemasan


    
  Saya sih lebih sering bawa botol yang diisi dari air *qua galon om.

  Kan lumayan hemat juga 12rb utk 19liter. 
  Lagian air pompa di rumah saya kualitasnya kurang bagus.

  Salam,


  Yadhi

  Sent from my BlackBerry®
  powered by Sinyal Kuat INDOSAT


------------------------------------------------------------------------------

  From: "yoki" <[email protected]> 
  Sender: [email protected] 
  Date: Wed, 30 Jun 2010 20:25:37 +0700
  To: <[email protected]>
  ReplyTo: [email protected] 
  Subject: [baleno] Bensin vs air kemasan


    

  Dari seorang teman..

  4500 + 4000

   03 Juni 2010 jam 9:14
  Long weekend kemarin ceritanya saya sekeluarga rekreasi ke SnowBay, TMII. 
Alhamdulillah kami kebagian rejeki dari saudara yang dapet tiket gratis masuk 
SnowBay dari produk Buavita. Ketika mau berangkat, saya cek indikator bensin 
motor saya, ternyata ada di zona merah. Wah harus isi bensin nih. Jadilah 
diperjalanan mampir dulu ke pom bensin. Syukurlah motor tetap bisa diisi 
premium. Kirain sudah gak boleh karena ada kebijakan aneh. Saya mengisi Rp. 
10rb. lumayan dapet 2,222 ltr bensin :)

  Ketika menunggu saudara di titik pertemuan di daerah pasar rebo, saya membeli 
air minum kemasan ukuran 1 liter, 2 botol dan saya harus membayar Rp. 8rb. Saya 
pun menyerahkan uang Rp. 5rb-an dua lembar. Sambil menunggu kembalian, saya 
sempet mikir.... hemm... ternyata harga bensin satu liter sama harga air satu 
liter cuman beda 500 rupiah....

  Berarti perusahaan-perusahaan minyak dan perusahaan air kemasan, kaya banget 
ya. Lha satu liter bensin sama satu liter air, harganya beda dikit. Padahal 
dulu mungkin gak kepikiran ya, air bisa hampir semahal minyak bumi.

  Saya jadi inget sebuah video yang mengupas tentang bisnis air kemasan di 
Amrik. Video yang berjudul "The Story of Bottled Water". Saya pertama kali 
melihatnya di website 
http://www.inhabitat.com/2010/03/22/annie-leonard-releases-the-story-of-bottled-water-on-world-water-day/
 , ketika peringatan hari air sedunia. Bisa juga di lihat di website resminya 
di: www.storyofbottledwater.org. 

  Video tersebut membeberkan tentang 'Manufactured Demand', bagaimana 
perusahaan air minum kemasan di USA berusaha mengalihkan pilihan orang, dari 
meminum air keran (Tap Water), menjadi membeli air minum kemasan (Bottled 
Water). Meskipun harga Bottled Water itu 2000 kali lebih mahal dari harga Tap 
Water. Namun dengan strategi yang jitu, mereka berhasil membuat orang membeli 
bottled water. Strategi tersebut adalah:
  - Scare us
  - Seduce us
  - Mislead us

  Strategi yang pertama, mereka menakuti masyarakat. Mereka mengatakan bahwa 
air keran itu tidak higienis, dan hanya pantas dipakai untuk memasak dan 
mencuci saja. 

  Strategi yang kedua, perusahaan air minum kemasan merayu masyarakat, dengan 
menggambarkan pemandangan alam seperti pegunungan di kemasannya. Padahal air 
minum kemasan itu, sumber airnya ya Tap Water juga. Dan ini terbukti pada air 
minum kemasan merek "Aquafina" dan "Dasani". Dalam iklan satu halaman penuh 
baru-baru ini, Nestle menyatakan bahwa Air minum kemasan merupakan produk 
konsumsi paling peduli lingkungan. Ini tidaklah benar, karena sebenarnya air 
minum kemasan ini merupakan penghasil sampah, dari sejak pra produksi, sampai 
selesai dikonsumsi.

  Bukti bahwa air minum kemasan itu produsen sampah yang sangat besar 
diantaranya:
  - Setiap tahunnya, pembuatan botol plastik untuk mengemas air minum, 
membutuhkan energi dan minyak bumi yang banyaknya cukup untuk mengisi 1jt 
mobil. Itu baru di Amerika saja, bagaimana dengan seluruh dunia?

  -Meminum air dalam kemasan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 menit saja, 
dan setelah itu botol plastiknya di buang. Nah, disinilah masalah dimulai. Dari 
semua botol plastik yang dibuang itu, hanya 20% saja yang dikumpulkan untuk di 
daur ulang (Recycle). Sisanya 80% masuk ke tempat pembuangan akhir sampah. Dan 
kalau terkubur, botol-botol plastik ini tidak akan terurai sempurna sampai 1000 
tahun! kalaupun ada botol yang dibakar, tetap saja proses pembakaran ini 
menyebarkan gas-gas beracun ke atmosfir.
  Nah botol yang 20% yang masuk daur ulang, sebenarnya mereka punya kisah 
tersendiri. Botol-botol plastik ini dikirim ke India. Annie Leonard, si narator 
dalam video ini, mengatakan bahwa dia datang sendiri ke India, ke sebuah 
perbukitan di wilayah Madras, untuk melihat tempat pembuangan botol plastik 
ini. Dan disana memang terdapat tempat pembuangan botol plastik tersebut. 
  Tujuan dari Recycle sebenarnya adalah memproses kembali botol plastik bekas 
menjadi botol plastik baru yang bisa dipakai kembali. Namun yang terjadi 
sebenarnya bukanlah Recycle namun Downcycle, dimana botol-botol tersebut 
hanyalah jadi sampah yang dibuang di negara lain. (jadi inget Indonesia, tempat 
pembuangan limbah berbahaya he..he..he..)

  Nah cerita tentang botol plastik yang ke India tersebut tidaklah sampai di 
masyarakat. Dan ini merupakan strategi ke 3 perusahaan air minum kemasan, yakni 
misleading us.

  Dan tiga strategi tersebut, Scare us, Seduce Us, dan Misleading Us, merupakan 
core part dari 'manufactured demands'.

  Dalam suatu publikasi, Pepsi nyata-nyata mengatakan bahwa musuh terbesar 
adalah Tap Water. Mereka ingin kita yakin bahwa air keran itu kotor, dan air 
kemasan adalah alternatif terbaik. Memang di banyak tempat, kondisi air 
tidaklah bagus, sudah banyak terkontaminasi. Namun jika kita merunut lebih 
jauh, dari mana sih asalnya bahan berbahaya yang mengkontaminasi air itu? ya 
dari pabrik penghasil air kemasan salah satunya, termasuk pabrik-pabrik bahan 
lain yang tergabung dalam rantai produksi air minum kemasan.

  Dalam video tersebut, annie leonard memberikan beberapa langkah yang bisa 
dilakukan untuk 'memerangi' manufactured demand air minum. yakni:
  - Jangan minum air kemasan, kecuali air di tempat kita benar-benar tidak 
layak konsumsi.
  - Bergabung dengan komunitas yang mencari solusi riil seperti,berinvestasi 
dalam infrastruktur publik. Di Amerika, Sistem Tap Water memperoleh alokasi 
biaya 24 Miliar Dollar. Namun demikian orang-orangnya yang hidup di kota-kota 
besar, tetap saja membeli air minum kemasan. Belum lagi jutaan dolar yang 
dikeluarkan untuk mengurus sampah botol plastik. Tidakkah lebih baik jika uang 
jutaan dolar tersebut dialokasikan untuk membantu orang-orang di luar sana yang 
mengalami kesulitan memperoleh air bersih? atau digunakan untuk mendanai 
gerakan pencegahan polusi.
  - Meloby pemerintah setempat untuk mengaktifkan kembali air mancur tempat 
minum (drinking fountains)
  - Memboykot air kemasan, baik di tingkat sekolah, organisasi, bahkan kalau 
mungkin di seluruh kota.

  Pada bagian akhir video ini Annie Leonard mengajak untuk menyadarkan 
orang-orang, dan kemudian menyelamatkan isi dompetnya, menjaga kesehatannya, 
dan lebih dari itu melindungi planet bumi.

  Video tersebut memang menceritakan yang terjadi di Amerika. Dan dalam 
beberapa hal kondisi di Indonesia tidaklah sama dengan di USA. Contohnya air 
keran, you know what i mean laah. Jadi ya mau tidak mau, kita tetap 
mengkonsumsi air minum kemasan.

  Meski demikian saya tetap saja narik nafas, ketika sadar bahwa harga satu 
liter air hampir sama dengan harga satu liter bensin. 


  

Kirim email ke