FYI

Herliyani

Jawa Pos, Rabu, 16 Okt 2002
>
> Momen Penting Banting Setir
>
> Oleh Ulil Abshar-Abdalla
>
> SAYA baru saja selesai menyampaikan ceramah mengenai Isu-Isu Kontemporer
Islam di Indonesia di STSI
> (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Denpasar ketika ledakan di samping
Konsulat AS di Renon itu terjadi
> sekitar pukul sebelas malam Minggu, 12 Oktober 2002  (Saya belum tahu ada
ledakan besar di Kuta). Begitu
> suara ledakan itu terdengar, saya langsung teriak,  "Ini bom!" sementara
teman-teman lain belum percaya
> dan tersenyum saja. Mungkin mereka masih beranggapan bahwa Bali adalah
"surga" turisme yang paling aman di
> Indonesia dan tak akan tersentuh oleh "tentakel" kekerasan yang sudah
merambah lebih dahulu daerah-daerah yang lain.
>
> Esok harinya, di Kantor Majalah Latitude (majalah  berbahasa Inggris yang
dirintis oleh Degung Santikarma
> dan menurut saya bagus sekali; nomor terakhir majalah itu menurunkan
sebuah liputan yang bagus tentang
> Pesantren Ngruki asuhan Abubakar Ba'asyir berjudul School of Jihad),
seharian saya menonton kanal lokal,
> TV Bali, menyaksikan puluhan jenazah diangkat dari reruntuhan bangunan
dalam latar musik Peter Gabriel
> yang menyayat.
>
> Sambil menyaksikan "tontotan" yang sarat duka dan kesedihan itu, saya
hanya meneriakkan satu kata yang
> saya ulang-ulang, "Kejam!" Sementara saya menghentikan  pikiran saya. Saya
sengaja menghindar untuk
> menganalisis kenapa peristiwa itu terjadi dan kenapa mesti di Bali,
"surga" turisme yang menjadi andalan
> satu-satunya dunia turisme Indonesia yang sudah nyaris sekarat. Saya ikuti
peristiwa itu dengan perasaan yang
> mendalam, dengan kesedihan yang menusuk-nusuk.
>
> Sore harinya, saya berangkat ke Bandara Ngurah Rai untuk kembali ke
Jakarta. Saya sudah siap-siap untuk
> menghadapi segala kemungkinan: penundaan pesawat, proses pengecekan
keamanan yang akan berbelit-belit
> dan lama, serta antrean orang-orang yang buru-buru meninggalkan "Pulau
Dewata" itu. Ternyata perkiraan
> itu keliru. Wajah orang-orang di bandara tidak memperlihatkan kesedihan
atau panik, sementara petugas
> bandara juga tidak tampak "on alert". Yang agak mengagetkan adalah di
bandara itu tidak terlihat tanda
> bahwa Provinsi Bali benar-bendar sedang dirundung musibah. Saya berharap,
ada semacam spanduk, poster,
> bendera, atau tanda-tanda lain yang memperlihatkan bahwa suatu tragedi
sedang terjadi dan "kita" layak
> untuk berduka bersama-sama. Sore, 12 Oktober, di Bandara Ngurah Rai itu,
saya merasakan bahwa tak ada
> sesuatu yang berubah, seolah-olah keadaannya seperti mau membiarkan
"kafilah berlalu" saja atau tepatnya
> businness as usual.
>
> Saya meninggalkan Bali dengan kesedihan yang mendalam.
> Sejumlah hal berkecamuk dalam pikiran saya. Pertama yang membayang:
tragedi ini pasti akan membuat prospek
> pemulihan ekonomi kita yang sudah berjalan seperti siput ini akan makin
"menyiput". Kejadian ini juga
> akan menempatkan umat Islam dalam kedudukan yang makin terpojok lagi.
Sejak dari menit pertama, insting saya
> sudah menuntun bahwa arah pengeboman ini dalam kerangka "protes" terhadap
kebijakan-kebijakan Amerika
> yang terlalu unilateral atas Iraq. Jika serangan itu  benar-benar terjadi,
saya sudah membayangkan bahwa
> chain of violence akan makin panjang lagi. Saya  membayangkan, jika
kekerasan seperti ini menerjang
> kembali Jakarta, apa yang akan terjadi. Dalam perjalanan kembali ke
Jakarta, pikiran saya dipenuhi
> oleh gambaran-gambaran apokaliptik yang agak mengerikan. Saya
megira-ngira, jika pemerintah tidak
> tegas dan firm dalam satu kasus ini, rangkaian kekerasan serupa akan
sangat mungkin terjadi di
> tempat-tempat lain. Jika pemerintah tak becus mengatasi keadaan ini,
sebuah sinyal telah dikirimkan
> ke masyarakat bahwa begitu buruknya sistem pengamanan  di negeri kita ini
sehingga setiap orang dengan mudah
> bisa berbuat hal-hal yang mengancam keamanan umum tanpa harus khawatir
diborgol dan diadili.
>
> Senin pagi saya dikejutkan komentar Abubakar Ba'asyir dan beberapa tokoh
agama di Solo yang dimuat oleh
> beberapa media ibu kota. Komentar itu kira-kira mau mengatakan, ledakan
ini adalah upaya AS untuk
> mengesahkan tuduhan selama ini bahwa Indonesia benar-benar merupakan
sarang terorisme. Dengan
> demikian, AS mempunyai alasan untuk campur tangan di negeri kita. Komentar
ini merupakan sesuatu yang
> "janggal" di tengah-tengah chorus kesedihan dan  kutukan yang dikemukakan
semua pihak dan tokoh-tokoh
> masyarakat atas ledakan itu. (Ponpes Al Mukmin yang dipimpin Ba'asyir dan
ponpes yang lain di Solo juga
> mengecam peledakan di Bali itu, Red). Saya baru sadar bahwa pandangan
semacam itu juga meluas di beberapa
> kalangan masyarakat. Bukan saja di kalangan masyarakat  awam, tetapi juga
kalangan terdidik.
>
> Selama ini orang seperti Abubakar Ba'asyir menyatakan bahwa tuduhan AS
terhadap Al Qaidah sebagai pelaku
> serangan atas WTC tidak didukung oleh bukti yang  memadai. Menurut saya,
hal yang sama juga dilakukan
> Ba'asyir dan kawan-kawan: menuduh tanpa bukti kepada AS merekayasa ledakan
di Bali.
>
> Ledakan di Bali itu seharusnya menjadi "wake up call", bel yang
membangunkan kita yang selama ini bersikap
> "burung unta" bahwa potensi terorisme itu tak ada di Indonesia. Sikap
menolak kenyataan semacam itu (saya
> menyebutnya self -denial) akan menjadi "selimut" yang menguntungkan bagi
kelompok-kelompok yang selama ini
> memang mengesahkan tindakan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan
politiknya.
>
> Bagaimanapun, kita perlu memberikan dorongan dan vote of confidence kepada
pemerintah untuk menegakkan
> keamanan sehingga menjaga proses transisi menuju demokrasi tidak dibajak
oleh "anarki". Ledakan di Bali
> itu, bagi saya, merupakan bab baru yang tak main-main dalam proses
penyelenggaraan negara kita ini. Jika
> sikap yang berkembang dalam masyarakat dan pemerintah adalah sedemikian
"lembek" dan masih menganggap, "Oke,
> keadaan masih baik-baik saja, jangan khawatir, sebentar lagi juga akan
normal lagi," atau, "Jangan
> tuduh kami dong, ini kan perbuatan negara asing untuk menjatuhkan citra
Islam,", saya khawatir, keadaan akan
> makin terpuruk lagi.
>
> Saya mengkritik keras kecenderungan selama ini yang seolah-olah hendak
menyamakan Islam dengan
> kelompok-kelompok tertentu. Setiap tuduhan diarahkan ke Al Qaidah,
tokoh-tokoh Islam langsung bersikap
> negatif dan menganggap hal itu akan mencemarkan nama Islam secara
keseluruhan. Menurut saya, tidak ada
> untungnya Islam disamakan dengan organisasi Al Qaidah pimpinan Usamah Bin
Laden itu. Islam jauh lebih besar
> daripada sekadar satu dua kelompok yang selama ini berkoar-koar
mengatasnamakan diri sebagai "pembela
> Islam".
>
> Tokoh-tokoh Islam harus mengembangkan diskursus baru  yang lebih sehat,
yaitu mengakui tanpa malu-malu bahwa
> potensi Islam (dan juga agama-agama lain) diselewengkan sebagai pengesah
tindakan terorisme
> sangat-sangat mungkin. Kelompok-kelompok keagamaan  yang prokekerasan
harus dikritik terus-menerus
> sehingga kehilangan legitimasinya sebagai "wakil"  tunggal umat Islam.
>
> Dalam era kebebasan yang sangat "murah" ini, barang dagangan yang cepat
laku di mata publik adalah agama;
> barang siapa bisa mengemas "agama" untuk menarik perhatian publik, dia
akan dapat menguasai pendapat
> umum. Pada dasarnya, semua agama bisa dan berpotensi  untuk
"diperdagangkan" sebagai komoditas politik,
> sebagai pengesah kekerasan, dan sebagai alat untuk memonopoli kebenaran.
>
> Pandangan bahwa ledakan di Bali merupakan "rekayasa" negara asing untuk
mengesahkan citra Indonesia sebagai
> sarang terorisme merupakan pertanda adanya sikap  mental yang, menurut
saya, kacau: seolah-olah rakyat
> Indonesia begitu baik dan luhur budi pekertinya  sehingga tak mungkin
berbuat hal-hal yang bodoh. Sikap
> mental yang "sok suci" semacam ini tidak akan banyak  membantu bahaya
kekerasan yang sudah membayang di
> langit-langit negara kita.
>
> Bangsa Indonesia perlu belajar dari bangsa Jerman yang tanpa malu-malu
mengakui bahwa Hitler adalah anak
> kandung mereka sendiri dan tidak usah enggan untuk "mengamputasi"
gejala-gejala ke arah munculnya kembali
> hitlerisme. Bangsa Indonesia tak usah malu untuk mengakui bahwa di bumi
Nusantara ini sangatlah mungkin
> muncul orang-orang yang menyalahgunakan agama untuk mengesahkan kekerasan.
Umat Islam tak usah ragu-ragu
> untuk mengakui bahwa dari rahimnya bisa muncul "anak-anak" yang melakukan
tindakan terorisme dan
> mengabaikan nilai-nilai dasar Islam itu sendiri.
>
> Tak usah kita meneruskan sikap menyalah-nyalahkan  orang lain untuk
kejahatan yang mungkin ada dalam
> tubuh kita sendiri. Kita perlu melakukan mental  switch, banting setir
mental, dan berpikiran yang
> lebih dewasa: apa yang salah pada diri kita, pada umat  kita; apakah kita
telah begitu sucinya sehingga tak
> mungkin berbuat salah?
>
> Penulis adalah ketua Lakpesdam-NU, Jakarta





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Sell a Home for Top $
http://us.click.yahoo.com/RrPZMC/jTmEAA/jd3IAA/MeeolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->



Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/


----------------------------------------------------------------------------
 Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 
250.000 tunai
 ----------------------------------------------------------------------------

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi  : http://buleleng.lp3b.or.id
Arsip      : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke