At 05:16 AM 10/31/2002 +0930, you wrote: >Berikut ini cuplikan sebuah gambaran desa Tarumajaya yang memiliki PLTGU. >Akankah Pemaron dan Lovina bernasib sama seperti desa Tarumajaya ini setelah >PLTGU dibangun ? Marilah kita jangan mengulangi kesalahan yang pernah ada. > >Salam >Gde Wisnaya > > >TARUMAJAYA > > >Sepuluh tahun yang lalu, saya meninggalkan Tarumajaya untuk studi ke luar >negeri. Bagi anda yang belum sempat melihat peta, inilah gambaran "kota" di >mana saya dilahirkan itu. Tarumajaya adalah kecamatan di "pedalaman" Bekasi. >Oleh para pendirinya, Tarumajaya diharapkan menjadi kecamatan yang, seperti >namanya, rumah yang mendatangkan kejayaan, ketentraman dan kesejahteraan. >Fakta berikut ini bisa membantu anda menilai apakah cita-cita para leluhur >itu sudah tercapai atau belum. > >Ke arah selatan, Tarumajaya berbatasan dengan Kecamatan Bekasi Utara. Gebyar >pembangunan kota Bekasi sebagai penyangga Jakarta menjadikan Bekasi Utara >"kota baru" yang dalam rumusan Mac Beith melahirkan "an impresive >development of Indonesia." Kemajuan pembangunan ekonomi nasional pada dekade >90-an menjadikan Bekasi umumnya, dan Kec. Bekasi Utara khususnya kota baru >yang kaya dengan keterkejutan sosial. > >Ke arah barat, Tarumajaya berbatasan langsung dengan Jakarta. Imbas >pembangunan ibukota yang melulu menekankan pembangunan fisik -- dan bukan >budaya -- menjadikan sisa pembangunan dihirup masyarakat Tarumajaya. >Sisa-sisa produksi Jakarta mulai dari limbah pabrik, pembuangan sampah >plastik, barang rongsokan dan bahkan (maaf!) perempuan pelacur eks Kramat >Tunggak pun dapat ditemukan di sana. > >Ke arah timur, Tarumajaya bertetangga dengan Kec. Babelan. Nasib Babelan >sedikit lebih beruntung sebab kecamatan itu masih memiliki pesantren besar >di Bekasi, Attaqwa. Sedikit banyak sentuhan kota santri masih dapat >dirasakan kesegarannya. Dan, kehadiran perumahan Wisma Asri (Untuk pensiunan >TNI), Taman Kebalen Indah dan Babelan Kota menjadikan Babelan lebih >"berperadaban" ketimbang Tarumajaya. Setidaknya, "area of concern" >pembangunan Kec. Babelan lebih manusiawi. Bahwa ia diperuntukan sebagai kota >perumahan. > >Sedangkan ke Utara, Tarumajaya berbatasan langsung dengan "batas akhir >kehidupan." Ke utara itulah Tarumajaya berbatasan dengan laut Jawa. >Kehidupan tepi pantai yang semestinya menjadi tempat rekreasi, di Tarumajaya >menjadi tempat yang seram. Selain berdiri proyek Pembangkit Listrik Muara >Tawar yang sarat dengan KKN itu, di sana juga terdapat tempat kremasi buat >orang-orang kaya (Cina) Jakarta yang telah menemui ajalnya. Laut yang selama >ini mejadi sumber kehidupan mereka kini tak lagi bisa dimanfaatkan. >Ikan-ikan di tepi pantai tak hidup lagi sebab limbah produksi listrik dari >PLTGU Muara Tawar terlalu panas hingga membunuh setiap benih ikan. Kalaupun >ada ikan, sebagian dari mereka tak lagi berani mengkonsumsinya sebab sisa >pembakaran mayat-mayat Cina dibuang ke laut. > >Tarumajaya, sepuluh tahun yang lalu, adalah warna kemiskinan yang dibalut >dengan suasana sepi persawahan. Sepuluh tahun kemudian, ia tetap menjadi >kota dengan "kemiskinan" sebagai menu harian penduduknya. Ketika masyarakat >di Jakarta menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu untuk konsumsi >hariannya, di Tarumajaya masih ada warga desa yang setia dengan kail guna >memancing di tepi pantai yang tak lagi berikan. Masih ada warga desa yang >menghabiskan malam dengan perut melilit akibat lapar. > >Analisa James Clad dalam "Beyond The Myth, Business, Money and Power in >Southeast Asia" (Harfer Collin Publisher, 1991) mungkin bisa menjelaskan >mengapa ketimpangan-ketimpangan tersebut bisa terjadi. Pertama, sentralisasi >ekonomi yang dipusatkan di kota telah mereduksi peran daerah. Jakarta >menjadi metropolitan yang gebyar, tetapi efek dari teori "trickle down >economy" tak menemui wacananya. Ekonomi dikuasi oleh pemilik modal besar >dari hulu hingga hilirnya. Lihatlah bagaimana Indofood menguasai produksi >keperluan dapur dan -- pada saat yang sama -- menguasai penjualannya lewat >Indomart yang didukung iklan besar di Indosiar.. > >Kedua, pembangunan Orde Baru lebih mengejar pertumbuhan nasional dengan >melihat pada indeks produk nasional bruto. Akibatnya, kesejaheraan diukur >dengan angka-angka di tabel pertumbuhan ekonomi, bukan pada pemerataan kue >pembangunan. Ratna Megawangi, dosen Institute Pertanian Bogor (IPB), >mengkritisi hal ini dengan menyebut bahwa marginalisasi kelas ekonomi bawah >menjadi hal tak terbantahkan. Apalagi bila kita lihat bagaimana kaum >wanita -- sebagai pekerja yang dapat digaji dengan murah -- dengan sangat >mudah dieksploitasi oleh para pemilik modal besar. > >Contoh itu terlihat dengan nyata di proyek PLTGU Muara Tawar. Pekerja >berdasi datang dari Jakarta, Cina dan (sebagian) orang bule. Warga setempat >harus rela bekerja pada bagian keras dan mendulang uang dengan keringat >bercucur. Inilah gambaran nyata dari yang dikatakan Tibor Scitovsky tentang >mudharat ekonomi kapitalisme. Katanya, "Kita telah menciptakan kemiskinan di >tengah kekayaan yang melimpah dan kemewahan di tengah keterpurukan sosial." >(Islam and The Economic Challange, Umar Chapra, 1997) > > > >---------------------------------------------------------------------------- > Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 250.000 tunai > ---------------------------------------------------------------------------- > >-- >Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. > >Publikasi : http://www.lp3b.or.id >Arsip : http://bali.lp3b.or.id >Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> >Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> >Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> >
-- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
