-- Tolong segera jawabannya.
Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at http://www.eudoramail.com
Hallo Buleleng, makin panas? Emang udah panas. Pak Gde, Senin, 4Nov' kemarin saya ketemu dengan Mentamben si Hendro. Awalnya saya tanya tentang pemanfaatan sampah -- sistem Jerman -- yang investasinya relatif 1/3 dari investasi sistem matahari untuk memandirikan listrik di Bali. Dia menantang kajian teknis dan ekonomisnya, mana yang lebih efisien, lebih ekonomis antara sampah dan matahari -- termasuk harga jualnya. Kalau sudah ada yang punya -- ini lucu, kenapa tidak dia dengan BPPT yang melakukannya -- ajukan ke PLN dan langsung ke dia -- menteri. Kemudian saya langsung konfirmasi tentang Pemaron. Saya sudah tekankan masyarakat tidak menolak, dengan catatan bukan di Pemaron sesuai saran yang diberikan komisi amdal yaitu di kawasan industri Celukan Bawang atau tempat lain. Keberatan masyarakat setempat adalah hal ''mesin yang kedaluarsa''. Masyarakat Pemaron menunggu penjelasan teknis dan dampak lingkungannya -- dengan penggunaan mesin --dia sudah mengaku itu barang usur dari Tanjung Priok -- . Saya ntegaskan pihak PLN dan ''mitranya'' Indonesian Power tidak berani berhadapan dengan masyarakat setempat dan tidak hadir saat diundang dialog. Saat itu pak menteri langsung panggil PLN dan Indonesia Power, -- mereka berdua membantah tidak hadir dan mengaku sudah 15 kali melakukan sosialisasi -- Saat itu saya langsung jawab, ''Saya tidak tanya anda berapa kali sosialisasi. Anda jelas tidak datang saat di undang dialog dengan masyarakat setempat di Hotel Bali Taman. Masyarakat sudah menunggu. last minute anda berdua membatalkan kehadiran anda. '' Lantas saya tinggal pergi. Menteri, mengejar saya dan tegas mengatakan hal tersebut diajukan ke pihaknya -- kirim ke Jakarta. Pak menteri tidak keberatan hadir berdialog dengan Lp3B di Buleleng. Dengan tantangan ini, saya sarankan: LP3B -- Buleleng yang punya pakar- pakar teknologi -- mencari tahu dulu sistem pengolahan sampah -- kalau tidak salah ingat sistem ini di pakai di Comptown, Jerman --. Hasilnya tidak hanya listrik tetapi sisa pembakaran menghasilkan sirtu. Udara pun dibersihkan melalui proses pembakaran tersebut. Jika kita bisa mencari pembandingnya, kita bisa undang menteri -- kalau masih menjabat -- untuk membicarakan ini. Anda bisa hubungi Jro Karang Tangkid Suarshana? Pemilik Suar Tour di By Pass Tohpati, dia sempat mendapat ekspose sistem ini. Oh ya, Pak Gde aku bisa di e- mail ulang persoalan PLTGU, resume pertemuan di Bali Taman dan kajian teknis mesin rongsok dari Tanjung Priok itu. File saya ikut ''ketendang'' gara- gara bom Legian. Jadi semua liputan diubah, jadi tidak disengaja file dalam komputer terhapus. Maklum terlalu banyak tangan kreatif di redaksi. Aku tunggu segera, akan saya turunkan terbitan minggu lengkap dengan pernyataan Mentamben. Okey saya tunggu Dwi
