Kalo yang saya tahu dari beberapa investor, yang paling mahal adalah
PLTGU sebesar US$1juta (terutama yang menggunakan bahan solar atau
batubara, tapi batubara biaya operationalnya yang paling murah),
sedangkan PLTG saja bisa harganya antara US$500-600 rb karena
kompleksitas ketelnya yang lebih tidak kompleks dibanding PLTGU tadi.
Bahan bakar gas (LNG) memang yang paling masuk akal, namun cari gasnya
yang susah untuk distribusi ke Bali.
Demikian masukan dari saya.
Thanks
mw

> ----------
> From:         Gde Wisnaya Wisna[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         Thursday, November 07, 2002 7:18 PM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      [bali] Re: Fw: Re: Penting U/ Pak Gde Wisnaya
> 
> Menarik sekali masukan dari Pak Mertayasa ini soal peluang adanya
> kebocoran2
> dalam setiap proyek. Untuk PLTGU "butut and rongsok and usur" Pemaron
> ini,
> kita belum tahu nilai proyeknya. Ada barangkali teman milis disini
> yang bisa
> memberi informasi ? Berita yang saya peroleh sangat simpang siur, ada
> yang
> bilang 70 milyar rp, ada yang mengatakan 500 milyar rp, dll. Padahal
> untuk
> PLTGU yang baru, harga per KW nya adalah kurang lebih US $ 500 - US $
> 600.
> Dan angka ini sesuai dengan angka dari Pak Teja kemarin yaitu US $
> 500.000
> per MW.
> 
> Jika PLTGU Pemaron ini 150 MW, maka untuk instalasi pembangkit yang
> baru,
> nilai proyeknya akan kurang lebih rp. 90 milyar. Tapi kalau PLTGU nya
> sudah
> bekas dan tidak perlu beli lagi (karena tinggal memindahkan saja dari
> Tanjung Priok), maka rp. 70 milyar menjadi angka yang tidak logis.
> Agar
> tidak menjurus ke prasangka yang buruk, adakah dari teman-teman yang
> mengetahui nilai proyek PLTGU ini ?
> 
> Salam
> Gde Wisnaya
> 
> 
> 

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke