Ini ada tulisan menarik, bagaimana sebuah proses penyelamatan alam dimulai dengan cara mengurangi subsidi BBM. Kalau kita kaitkan dengan rencana PLTGU Pemaron, maka jelas PLTGU tsb. akan menjadi proyek mahal, mengingat harga solar akan terus membumbung, dan juga merusak ekosistem laut dan lingkungan lainnya.

 

Pak Adji, thanks atas kiriman artikel ini.

 

Salam

Gde Wisnaya

 

-----Original Message-----
From: Seno Adji, Iman [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, December 17, 2002 10:38 AM
To: Aji, Firman; Sudarmo, Sri P.; Santoso, Prijanto
Cc: Chayun Budiono (E-mail); Gde Wisnaya Wisna (E-mail); Lutfi Lesilolo (E-mail); Roy Samuel (E-mail); Titovianto (E-mail); Totok Sulistyanto (E-mail); Adi Lagur (E-mail)
Subject: FW: [fkkm] Fw: PENGHAPUSAN SUBSIDI BBM MEMBANTU KONSERVASI HUTAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

 

FYI (For Your Info). Salah satu contoh sinergi dr kerjasama beberapa lembaga yg punya perhatian thd EBT (Energi Baru dan Terbarukan). Hal ini bisa jd model mekanisme proyek EBT yg berikutnya.

 

Perhatikan aspek yg sangat mendasari dr subyek konsumen pemakai adalah "income generation" dg dana bergulir yg bisa dijamin dr penghasilan perusahaan teh tsb. Jd proyek ini tdk dimaksudkan sbg "hibah" semata tapi sbg sesuatu yg "sustainable" agar kinerja operasi perusahaan bs lbh baik dg upaya "saving" biaya operasi (dan pemeliharaan) utk pembangkit listrik.

 

Cheers,

ImanSA

 

-----Original Message-----
From: Sahanaya, Wouter
Sent: Tuesday, December 17, 2002 6:56 AM
To: Seno Adji, Iman
Subject: FW: [fkkm] Fw: PENGHAPUSAN SUBSIDI BBM MEMBANTU KONSERVASI HUTAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

Iman,  sedikit innformasi (tapi jelas) mengenai proyek anda.  wouter......

 

-----Original Message-----
From: Elfian Effendi [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Sunday, December 15, 2002 9:00 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [fkkm] Fw: PENGHAPUSAN SUBSIDI BBM MEMBANTU KONSERVASI HUTAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

Just info. EE

 

 

-----Original Message-----
From: Mahendra Siregar [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Sunday, December 15, 2002 4:33 PM
Subject: PENGHAPUSAN SUBSIDI BBM MEMBANTU KONSERVASI HUTAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN

REPUBLIK INDONESIA

Gedung Utama Departemen Keuangan Lantai IV, Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4 Jakarta,

Tel: (021) 380-8384    Fax: (021) 344-0394    Website: http://www.ekon.go.id

 

 SIARAN PERS

15 Desember 2002

 

 

PENGHAPUSAN SUBSIDI BBM MEMBANTU KONSERVASI HUTAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

 

 

Pada hari Sabtu, 14 Desember 2002, Menko Perekonomian telah meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Air ukuran kecil (minihydro generation) di Perkebunan Teh Dewata, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pembangkit berukuran 2x120 kW itu adalah hasil kerja kemitraan di antara perusahaan pemilik perkebunan itu, PT Cakra dengan LSM Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL); Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Enerji, Departemen ESDM; organisasi kerjasama teknik milik Pemerintah AS, USAID; organisasi kerjasama ekonomi milik Pemerintah Swiss, SECO; Pusat Enerji ASEAN, ACE; dan organisasi kerjasama teknik Jerman, GTZ. Pembangunan PLTA yang memanfaatkan aliran Sungai Cikahuripan itu dibangun dengan biaya sebesar US$350.000 yang memanfaatkan dana bergulir YBUL dengan bantuan studi kelayakan dari SECO.

 

Direktur Utama PT Cakra, Rachmat Badruddin, dalam sambutannya mengatakan bahwa sejak lama dia selalu mengupayakan konservasi cagar alam dan kawasan hutan di daerah itu dari kegiatan penebangan dan perkebunan liar. Namun demikian hal itu sulit dilaksanakan selama Pemerintah terus memberikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), yang antara lain menjadikan harga bahan bakar solar untuk diesel menjadi sangat murah. Akibatnya, berbagai upaya untuk mengembangkan pembangkit enerji sumber energi terbarukan (renewable), bersih dan efisien seperti air menjadi terlalu mahal. Sehubungan dengan itu, dia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah yang telah menghapuskan subsidi BBM sehingga meningkatkan harga jual produk-produk itu. Sebagai akibatnya, semakin banyak perusahaan dan masyarakat yang mencari sumber enerji alternatif seperti air, yang ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan emisi CO2 seperti halnya BBM. Rachmat selanjutnya mengatakan: “Pada waktu harga minyak solar Rp 600, penggunaan enerji terbarukan seperti air menjadi tidak ekonomis. Sekarang dengan harga solar Rp 1.900, maka penggunaan air menjadi ekonomis karena menjadi lebih murah daripada solar. Pasokan air sungai sangat bergantung sepenuhnya pada kesehatan ekositem hutan yang terletak di hulu dan bukit/gunung tempat sungai itu bersumber sebagai daerah resapan air. Dengan semakin banyaknya pemakai PLTA, maka jumlah stakeholders yang ingin mempertahankan kondisi hutan itu semakin banyak pula, sehingga harapan untuk mencapai tujuan bersama itu dapat dicapai.”

 

Duta Besar Swiss untuk Indonesia mengatakan bahwa keterlibatan Pemerintahnya dalam pembangunan PLTA ini didorong oleh pengalaman Swiss yang telah berabad-abad memanfaatkan potensi air. Saat ini diperkirakan 90% dari sumber enerji Swiss menggunakan air. Duta Besar Swiss selanjutnya mengatakan: “Kami merasa senang dapat ikut serta dalam pembangunan proyek ini yang mencerminkan kemitraan yang baik di antara pihak-pihak di Indonesia dengan di luar negeri."

 

Sementara itu Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Enerji menyampaikan bahwa saat ini baru 5,2% dari enerji di Indonesia menggunakan sumber enerji terbarukan. Alasan rendahnya angka itu adalah karena sumber enerji itu belum dapat bersaing secara komersial dengan BBM yang disubsidi. Namun demikian, Pemerintah telah menyusun konsep “Enerji Hijau” yang akan semakin meningkat pemanfaatan di masa mendatang dengan penghapusan subsidi BBM yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah.”

 

Pada sambutannya Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti mengatakan bahwa selama 30 tahun Pemerintah kerap mensubsidi BBM dengan biaya akumulatif keseluruhan yang mencapai sekitar Rp 1.000 trilyun. Semua biaya itu bukan saja terbuang sia-sia karena tidak pernah mencapai kelompok berpendapatan rendah seperti yang dimaksudkan, namun secara langsung juga telah mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup yang luar biasa. Pemerintahan Megawati telah bertekad untuk menghapuskan subsidi BBM secara bertahap. Pada tahun 2000 dan 2001 biaya APBN yang dikeluarkan untuk subsidi masih mencapai sekitar Rp 50 trilyun per tahun, dan telah berhasil diturunkan menjadi sekitar Rp 30 trilyun pada tahun ini. Pada tahun depan biaya subsidi itu akan diturunkan terus menjadi hanya sekitar Rp 15 trilyun, yang hanya diberikan kepada pengguna minyak tanah oleh kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Penghematan pengeluaran subsidi BBM itu telah meningkatkan kemampuan pemerintah meningkatkan alokasi Dana Kompensasi Sosial yang diberikan kepada mereka secara langsung dalam bentuk 7 program seperti penjualan beras untuk kelompok miskin, penyediaan fasilitas kesehatan dan beasiswa untuk sekolah serta bantuan kepada nelayan dan sektor transportasi yang memerlukan, yang nilainya mencapai Rp 2,85 trilyun tahun ini. Menko Dorodjatun selanjutnya mengatakan: “Pemerintah tidak akan pernah membiarkan lagi bentuk penghambur-hamburan subsidi BBM seperti itu yang bukan saja telah salah arah tetapi juga telah menyebabkan kerusakan lingkungan hidup yang dahsyat selama sekian puluh tahun. Mari kita kembali ke alam dengan memanfaatkan sumber enerji terbarukan seperti air, angin, panas bumi yang banyak tersedia di Indonesia. Untuk itu, saya meminta agar kepada mereka, terutama generasi yang lebih muda, untuk berpikir, berusaha dan bekerja dengan lebih keras lagi dalam mencapai tujuan itu. Saudara-saudara jangan terlalu cepat-cepat menuntut “political will” Pemerintah tanpa melakukan apapun, seakan-akan semua hal hanya dapat dilakukan oleh Pemerintah saja. Reformasi dan demokratisasi justru membuka kesempatan bagi masyarakat untuk dapat berbuat dengan lebih banyak dalam berbagai aspek kehidupannya masing-masing dengan membangkitkan kesadaran dan keikutsertaan dari bawah. Setelah kesadaran dan tekad itu terwujud, seperti yang terjadi pada pembangunan PLTA ini, maka Pemerintah pasti akan ikut serta sepenuhnya mendukung gagasan-gagasan yang baik itu. Kalau semua hal harus didahului oleh political will pemerintah untuk dapat berjalan, maka hal itu akan membuka kemungkinan untuk Pemerintah menjadi terlalu berkuasa kembali dalam menentukan segala sesuatunya seperti di waktu yang lalu.”

 

Setelah acara peresmian itu, Menko Perekonomian meninjau pusat pemantauan penanggulangan banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di kota Majalaya, di sebelah selatan Bandung. Menko kembali ke Jakarta hari ini dari kunjungan kerja akhir minggu ke berbagai daerah yang dilakukannya hampir setiap minggu.

 

===***===


Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.


Online Polling

Kirim email ke