Ysh. Bapak Ngurah Ny, Ketut Rumandiana, Ketut Tejawibawa, Ketut Artana, Ni Made Andarie, Gde Wisnaya, Nyoman Sudarma, Madalila, dan teman-teman anggota milis lp3b yang tidak dapat saya sebut namanya satu persatu.
Selamat bersua kembali lewat milis kita ini, semoga kita selalu berada dalam keadaan sehat walafiat, dan mendapat tuntunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa(Tuhan Yang Maha Esa). Mengomentari tulisan dari Bapak Ngurah Ny, saya sependapat dengan pak Ngurah, kita mesti terus berjuang, dan jangan mau didikte diberi hadiah PLTGU butut. Apabila kita tidak bereaksi, wah rasanya kita akan disalahkan oleh anakcucu kita kelak. Satu hal yang perlu terus menerus kita lakukan yaitu membuat masyarakat Bali sadar akan makna kelestarian lingkungan, khususnya lingkungan Bali yang kita cintai. Contoh keseharian yang sering kita jumpai dimasyarakat kita yaitu sampah plastik yang berserakan, seperti yang dialami teman kita Ketut Artana. Saya salut dengan sikap yang dikembangkan teman kita ini, kendatipun tidak tertutup kemungkinan dikira orang gila, atau minimalpemulung plastik. Menurut hemat saya, gila dalam artian yang positif tentunya tidak apa-apa, iya khan Tut ? Untuk mengatasinya kita bisa melakukan kegiatan yang pada dasarnya sederhana. Salah satunya yaitu menghimbau ibu-ibu yang berbelanja ke pasar ataupun swalayan untuk membawa tas/kantong dari rumahnya masing-masing. Semua barang bawaannya tinggal dimasukkan ke dalam tas yang ia bawa, dan anjurkan untuk menolak tas plastik. Pedagang-pedagang di pasar juga dihimbau agar tidak menggunakan tas plastik lagi. Bila memang dimungkinkan, kenapa tidak digunakan daun pisang atau daun jati sebagai pembungkus barang- barang yang dijual. Dalam prakteknya pasti akan mengalami hambatan- hambatan pada awalnya. Hanya saja kita tidak boleh patah arang, mengingat kita mesti mengubah budaya masyarakat, dari budaya butuh plastik menjadi budaya bebas plastik. Perlu upaya yang sungguh-sungguh, berkesinambungan dan pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi informasi mengenai satu topik yang sempat kami bahas dalam pertemuan warga Bandung pada bulan desember 2002 lalu. Salah satu topik yang kami bahas yaitu Bali Masa Depan. Kedengarannya seperti mengkhayal dan mengada-ada. Topik tersebut dibawakan oleh Bapak Gede Raka. Ada butir-butir penting yang bisa saya sampaikan dari makalah yang dibawakannya yaitu : Butir/hukum pertama : Bila kita tidak melakukan maka orang lain yang akan melakukannya. Fenomena ini sudah terasakan di Bali. Orang Bali tidak mau berjualan pisang goreng, sate, bakso dsb. Maka sektor informal ini diisi oleh orang luar. Jangansalahkan orang lain, ya salah sendiri kenapa tidak mengambil/mengisi kesempatan yang ada. Butir/hukum kedua : Usahakan dalam setiap aktifitas, kendalinya ada di tangan anda. Jika tidak maka orang lain yang akan mengendalikannya. Ilustrasinya sederhana sekali, coba kita lihat sektor pariwisata di Bali. Apakahkendalinya ada di tangan orang Bali ? Apabila kita tidak mampersiapkan diri, maka kendalinya akan dipegang orang luar. Khusus untuk bidang ini kendalinya ada di tangan biro perjalanan yang adadi luar negeri. Orang Bali hanya jadi guide saja, berapa sih uang yang diperolehnya ? Dalam pertemuan tersebut saya mencoba mengusulkan agar Bali mempunyai kelompok pemikir. Generasi muda kita mau dibawa kemana, Bali mau dibawa kemana, bidang-bidang apa saja yang mesti ditekuni oleh anak-anak muda Bali, sektor-sektor jasa apa yang perlu dikembangkan di Bali dst...dst, perlu diperbincangkan/dibahas oleh kelompok pemikir yang dimaksud. Mungkin akan muncul pertanyaan, mulainya dari mana ? Salah satu alternatif, kita bisa memulainya dari potensi yang ada, baik itu potensi manusianya, potensi alamnya dsb. Berangkat dari potensi yang ada, baru kita beranjak ke langkah pemberdayaan potensi yang ada. Langkah lanjutannya, yah sebaiknya saya tunggu komentar dari teman-teman semua. Untuk sdri. Ni Made Andarie, walaupun kita belum pernah bertemu muka, toh kita sudah bisa ngobrol lewat milis kita ini. Marilah kita berdiskusi , memperbincangkan berbagai hal melalui milis ini. Untuk Ketut Rumandiana, saya tunggu-tunggu kementarnya, eh ternyata belum muncul juga, udah terbangun dari mimpi indah ? Saya kira saya sudahi dulu mail saya ini, takut nanti terlalu panjang, sehinggateman-teman sampai bosan membacanya. Salam sejahtera dari Bandung, semoga kedamaian selalu menyertai kita. Om Shanti Shanti Shanti Om. salam hangat dari Nyoman Bangsing -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
