Ysh. sdri Dwi Yani, Pak Popo dan teman-teman anggota milis lp3b Saya sebenarnya berharap sdri Dwi yang mengekspos Nagasepaha, terutama Jro Dalang Diah ke media massa. Seorang wartawan, tentunya kajian maupun analisanya akan jauh lebih tajam daripada saya yang orang awam.
Perlu juga saya sampaikan, bahwa jejak kaki yang ada masih bisa kita pertanyakan, apakah benar jejak memedi ? Mungkin kita perlu pakar dalam bidang itu. Pakarnya ada dimana ? Sdri Dwi bisa mewawancarai seseorang yang tinggal di Desa Padangbulia. Mudah-mudahan beliau masih hidup. Sewaktu saya kecil, saya sering mendengar cerita, bahwa yang bersangkutan punya teman memedi, dimana dia sering diundang ke rumahnya memedi. Ada satu cerita menarik yang bisa saya sampaikan pada teman-teman. Beliau ini(yang punya teman memedi) pekerjaannya adalah petani. Bila dia lagi membajak sawahnya, maka bekal nasi yang dia bawa akan selalu dia bawa dibalik sarungnya, sambil membajak. Menurut yang punya cerita, bila nasinya diletakkan di pematang sawah atau di gubuknya, khawatir akan dikrubutin sama teman-temannya, ya... itu para memedi. Mulai penasaran ? Datang saja ke desa Padangbulia, letaknya berdekatan dengan desa Nagasepaha. Di desa Padangbulia anda bisa mengamati Gelinding(semacam alat pengeras jalan), yang dulu pada jaman penjajahan, digunakan untuk mengeraskan jalan. Anggota masyarakat bekerja rodi menarik Gelinding tersebut. Buat Pak Popo Danes, apakah Gelinding ini perlu diselamatkan, sebagai bukti sejarah ? Kelihatannya sepele, tapi benda tersebut mempunyai nilai sejarah. Termasuk bangunan-bangunan tua di pelabuhan Buleleng, jangan dirobohkan. Jika bangunan-bangunan tua yang ada diratakan dengan tanah, rasanya program yang Pak Popo garap akan kehilangan maknanya. Saya sedikit khawatir, program pelestarian budaya Bali yang sedang dikaji, agak melenceng dari rohnya. Apabila kita mau berbicara budaya Bali, kita mau memulainya dari mana ? Kita mesti buka lagi prasasti-prasasti yang ada dan ditemukan di Bali. Ada Prasasti Sukawana, ada prasasti Tamblingan, ada prasasti yang tersimpan di desa Bulian. Di Desa Kubutambahan, Buleleng kita bisa temukan Pura Penegil Dharma. Di Buleleng Barat, kita jumpai Pura Pulaki. Pak Popo, kita mau memulainya dari mana ? Apabila dalam proyek kali ini akan digarap Pelabuhan Buleleng, Taman Ujung di Karangasem, dan situs arkeologi Gilimanuk, rasanya agak sedikit bias. Misinya bukan lagi untuk budaya, melainkan untuk pariwisata. Dari tiga obyek yang akan digarap, menurut saya, hanya situs arkeologi Gilimanuk yang pas, bila kita berbicara pelestarian budaya Bali. Kata pelestarian budaya, mungkin perlu juga diluruskan. Kata pelestarian mengandung makna seolah budaya itu adalah benda yang sudah jadi. Sementara menurut tulisan yang pernah saya baca, budaya sendiri bersifat dinamis. Tolong saya dikoreksi Pak Popo, kalau saya salah. Trim's. Segitu dulu dari saya, selamat bekerja, semoga sukses. Suksma salam sejahtera dari Nyoman Bangsing =================================== Nyoman Bangsing Engineering Physics Department Bandung Institute of Technology Ganesha 10. Bandung Indonesia Phone/fax : +62-22-2504424/2504424 e.-mail : [EMAIL PROTECTED] =================================== -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
