Ysh. Semeton titiang sinamian

Pak Popo, berhubung banyak kalangan yang menaruh perhatian terhadap
Buleleng, tolong dalam pertemuan jumat 1 agustus 2003 ini, juga dilempar
isu mendasar, Buleleng mau dibawa kemana ?
Mari kita ajak semua pihak untuk bersama-sama memikirkan Buleleng di masa
depan. Bila kita tidak memikirkannya secara serius, kita mungkin akan
terkejut, Buleleng 20 tahun mendatang bisa jadi akan jauh dari harapan
kita semua.
Darimana memulainya ? Yah PR buat kita semua.
Satu contoh konkret, Pariwisata Buleleng mau diarahkan kemana ?
Tolong tanyakan pada Pak Puja Erawan, apakah Pak Puja sudah mempunyai
konsep yang jelas tentang hal itu ?
Di media massa pernah ditulis, bahwa Pariwisata Buleleng mestinya lebih ke
arah pelestarian lingkungan dan wisata spiritual. Jika memang demikian,
tentunya PLTGU tidak boleh ada di Buleleng, bila perlu nggak usah ada di
Bali !
Bila kita mau berfikir ke depan, jelas persaingan nantinya akan ditentukan
oleh kualitas SDM yang kita miliki. Nah kita di Buleleng(atau Bali), ingin
mempersiapkan generasi penerus kita untuk bermain/berlaga dalam bidang apa
saja ?
Kita bisa memulainya dari pemetaan kopetensi yang kita miliki, disamping
itu kita juga mesti rajin melihat perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan
teknologi di negara maju.
Di Bali kita punya lontar yang memuat usada Bali. Kenapa kita tidak
siapkan orang-orang yang nantinya mampu mengekstrak kandungan dari
tumbuh-tumbahan yang kita miliki. Industri farmasi masih sangat
menjanjikan.
Apabila kita memilih pariwisata, maka kita siapkan orang-orang yang akan
mengisi level menager ke atas. Jangan jadi Bell boy saja. Untuk itu,
sekolahkan mereka ke swiss atau jerman.
Bila kita mau menggarap permata, sekolahkan mereka ke Belgia, untuk
belajar pengasahan intan/berlian. Lulusannya akan diakui di dunia
internasional.
Kita juga mempunyai banyak bahan penghasil warna alami. Kenapa kita tidak
mempersiapkan orang-orang yang akan menekuni bidang ini ?
Mungki teman-teman bisa membedah bidang-bidang lainnya.

Butir lain yang tidak kalah pentingnya yaitu tuntunan buat anak didik,
untuk menemukan minat dan bakatnya secara dini. Bila seseorang bisa hidup
dari profesi yang sesuai dengan bakat dan minatnya, rasanya dunia ini akan
dipenuhi oleh orang-orang sekaliber Lempad, Tjokot, Lotring, Limbak, Jro
Dalang Diah, Gde Manik, Mangku Cedet, dan sederetan nama yang
akan mengharumkan nama Bali.
Hal-hal seperti inilah yang bisa kita bicarakan/diskusikan bersama.
Mudah-mudahan kita bisa mempersiapkan tenaga-tenaga yang handal di kelak
kemudian hari.

Inggih asapunika dumun titiang matur, selamat berdiskusi. Mohon maaf bila
ada hal-hal yang kurang berkenan di hati teman-teman sekalian.

salam sejahtera dari
Nyoman Bangsing
Purnawarman 45. Bandung



--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke