On Thu, 22 Jan 2004 11:08:49 +0930 Gde Wisnaya Wisna (GWW) wrote: [ ... ]
> Saya sendiri sebetulnya nggak senang pakai > singkatan-singkatan,...bikin pusing aja. Tapi Pak Sudja betul sekali, > kita hanya perlu mengetahui hal-hal yang nggak standar di bahasa umum, > walau (memang betul sekali) bikin beban tambahan buat otak kita. > Karena kadang atau sering kita sebagai pengirim/penerima email membaca > istilah/singkatan2 itu, nah lu kalau nggak ngerti, bisa-bisa kita > hanya jadi bingung aja. Contohnya FYI, kalau kita nggak tahu, ya > ketinggalan. Seperti di bahasa prokem anak-anak muda, mereka kan bikin > istilah2 : bokap, nyokap dokat, escudo (esekutif kurang > dokat)..makanya jangan bangga punya mobil escudo deh:-). Bahasa itu digunakan sesuai dg environmentnya, dg perkataan lain setiap environtmment punya terminologi yg berbeda. FYI, IMHO, LOL dst muncul dari lingkungan chatting yg merupakan media komunikasi online (kita harus selalu dalam status online ke internet dan connect ke chatserver saat chatting). Untuk menghemat bandwidth dan billing telephone (khususnya yg pakai dial up) maka digunakanlah singkatan-2x. Hal ini juga terjadi di era Telex dahulu kala, misalkan di telex message sering ditemukan : - TX = thanks - U = You - N = And - ADO = After Delivery Order - 2 = to - 4 = for dst Kekurangan bahasa text dibanding bahasa verbal adalah tidak bisa terlihat emosi dari pembicara (tidak ada tone dan body languange yg "terlihat"), utk itulah dibuat orang emoticon seperti :-) = smile :-( = sad dst Kalau bahasa prokem dimaksudkan utk berbicara secara "rahasia" dikalangan sendiri, dg cara itu maka mereka bisa bicara "bebas" tanpa kuatir diketahui maksud sebenarnya dari orang diluar lingkungan mereka. -- syafril ------- Syafril Hermansyah -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
