Semeton sareng sami, nunas lugra, Tertarik ikut memberi sekedar komentar tambahan mengenai tema ulang tahun dengan pemberian nasi bungkus. Apa hanya itu caranya merayakan ulang tahun apalagi yang ke- 400 Kota Singaraja? Di negara maju ulang tahun besar seperti ke-400, perayaannya disiapkan/ direncanakan jauh hari sebelumnya dengan baik. Misalnya dengan rencana penggelaran/pertunjukan pesta seni, riwayat kota dengan perkembangan, kemajuan dan permasalahan yang dihadapi, pemberian hadiah bagi kegiatan tertentu,atau perorangan karena jasanya bagi kota, pemberian bea-siswa guna kemajuan kota, mulainya pembangunan sarana yang penting bagi kenyamanan hidup.Kalau hanya sekedar pemberiaan nasi bungkus, ini cermin ke- terbelakang/backward kita? Pemberiaan sekedar nasi bungkus mencerminkan kebodohan dan kemiskinan kita. Kita ini benar jadi miskin karena kita tidak punya/pernah mimpi /DREAM, artinya tak mampu berpikir panjang. Karena tak punya mimpi kita lalu tidak punya harapan/HOPE.Tidak punya harapan berarti tak ada yang ingin dikejar untuk dicapai / direalisasikan/ ACHIEVEMENT. Perjalanan jauh ke bulan dimulai dengan a DREAM. Karena itu jangan heran kita ini sebagai bangsa akan tetap terkebelakang, karena kita tak lagi sadar akan mimpi cita-cita tinggi bapak-bapak pendiri bangsa ini. Kini pemilu dilihat dengan tujuan untuk berkuasa, tidak sebagai sarana untuk mengatur pelaksanaan menjalankan pemerintahan yang baik. Apa kita sudah mengerti politik sebagai " A NOBLE GAME AMONG NOBLE PEOPLE". Kenyataannya kini yang diolah permainan kotor-kotor, tentu saja oleh para politisi busuk..Jangan heran permainannya terbatas pada pemberian nasi bungkus ( kalau mau, mengapa tak dibagi mentah/ uangnya saja bagi orang miskin???), perkara dana " purnabakti", yang besarnya tanpa malu ditetapkan sendiri. Jangan tanya untuk jasa apa yang telah diberikannya bagi kepentingan masyarakat ? Apa terkait dengan perbaikan sarana, pendidikan, kesehatan? -Yang justeru kini dibayar masyarakat dengan gaji yang tinggi bagi birokrasi adalah untuk kegagalan mereka. Rupanya inilah hasil pembinaan bhineka tunggal ika selama ini. Bhineka permainan kotor di mana-mana yang eka di seluruh negeri. Dan BALI juga bagian dari INDONESIA. Matur suksema. Nengah Sudja,---- Original Message ---- From: "LP3B Buleleng" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Sunday, March 28, 2004 3:03 PM Subject: [bali] Re: nasi bungkus
> Dear All, > Setelah lama nggak mengikuti, ternyata banyak topik-topik menarik yang > didiskusikan teman-teman disini. Mulai dari luar negeri minded, nasi bungkus > dan geothermal. > > Soal rencana membagikan nasi bungkus ini dalam rangka hut kota singaraja, > setelah saya cek ke teman yang punya depot makanan, ternyata memang benar > adanya. Dia sendiri dapat kuota pesanan 6000 bungkus. Nggak tahu > depot/warung makanan yang lain. Saya sendiri juga ikut bingung, berapa > banyak nasi bungkus yang harus/akan disiapkan oleh pemda, sebab banyak hal > belum jelas: siapa saja/kelompok masyarakat mana yang menjadi sasaran, usia > mereka, kemampuan ekonomi mereka, tempat tinggal mereka dll. Jadi, saya > membayangkan, konsep yang sederhana ini justru rumitnya di teknis. Belum > lagi soal bagaimana cara membaginya, siapa yang membawakan mereka, ataukah > mereka akan dikumpulkan di suatu tempat, bagaimana mencegah agar nasi tsb. > tidak keburu basi, apakah satu bungkus cukup membuat mereka kenyang, lauknya > apa, siapa yang mengontrol lauknya, yang mengawasi pembagian dll. > > Saya mendapat kesan rencana pembagian nasi bungkus ini tidak disiapkan > dengan matang. Jumlah uang yang akan digunakan untuk program ini cukup > besar. Sebut saja, 50.000 nasi bungkus x Rp. 3.000,- maka dibutuhkan > sebanyak rp. 150 juta. Dari mana anggaran akan diambil ? Padahal dana pemda > sudah dikuras habis oleh para anggota DPRD yang terhormat, melalui dana > purnabhakti dan jalan2 ke India (TirtaYatra). Sekedar informasi, bahwa untuk > dua program tersebut, setiap anggota Dewan sedikitnya mengantongi 130 juta > rupiah. Buleleng memiliki 45 anggota DPRD, hampir 6 miliar rupiah hanya > untuk 45 orang yang akan pensiun !! > > Bukti bahwa rencana nasi bungkus ini tidak disiapkan dengan matang, adalah > bahwa Bupati kesulitan mencari dana. Lalu diminta kepada setiap kepala dinas > urunan nasi bungkus. Ada yang diminta 1000 bungkus, 2000 bungkus dst. Pak > Camat juga diminta 500 bungkus. Dengar-dengar, banyak kepala dinas yang > menolak. Belum lagi, banyak warung makan/depot yang ragu-ragu, takut nggak > dibayar. Ingat kasus nasi bungkus jaman TT dulu ? Banyak warteg yang belum > dibayar. > > Sementara hut kota singaraja tinggal 2 hari lagi, gaung nasi bungkus ini > sudah tidak kedengaran lagi. Kita akhirnya curiga, bahwa pemberian nasi > bungkus hanya sekedar wacana yang dilemparkan begitu saja. Dengan alasan, > tidak disetujui masyarakat, maka pemberian nasi bungkus dibatalkan. Jadi, > pemerintah sudah bermaksud baik dalam rangka hut, tapi karena masyarakat > nggak setuju, ya nggak jadi. Hal seperti ini juga pernah muncul tahun lalu, > dalam rangka hut, maka akan diundang INUL untuk menghibur warga masyarakat. > Entah karena nggak kuat bayar INUL, lalu muncul isu bahwa ibu-ibu PKK nggak > setuju, akhirnya INUL batal datang ke singaraja. > > HUT Singaraja kali ini yang ke 400, warga singaraja kembali mendapat > musibah. Kemarin (27 maret 2004 jam 16.30) Pasar Banyuasri kebakaran, dan > sebagian besar pedagang disana kehilangan tempat berdagang (hangus), barang > dagangan dan mata pencaharian. Ini adalah kebakaran yang ketiga menimpa > pasar di Buleleng, semuanya pasar utama. Pertama adalah kebakaran Pasar > Anyar th 2001, Kedua Kebakaran Pasar Seririt 2003 dan Ketiga Kebakaran Pasar > Banyuasri ini. > > Dengan peristiwa kebakaran ini, kita nggak tahu bagaimana nasib rencana nasi > bungkus. > > Salam > Gde Wisnaya Wisna > ----- Original Message ----- > From: nimade widiasari <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Saturday, March 27, 2004 8:18 AM > Subject: [bali] Re: nasi bungkus > > > > Dear All, > > Mungkin nasi bungkus ini hanya sebagai pengikat acara, > > semacam ngelawar bareng gitu??? > > Membaca "filosofi" baru..."Kalau bisa dipersulit > > kenapa dipermudah" membuat saya > > terpingkal-pingkal....ha..ha...ha...hal yang sangat > > penting untuk memahami pikiran para pemegang > > kekuasaan. > > Pak untuk nyoblos kayaknya kita semua nggak terlalu > > mikir khan?? Jujur aja, perasaan saya begitu gundah, > > sebel dan segala macam. Mungkin juga apatis....jadi > > "Sing Milu..Pe" > > Eh...Salah ketik ya...? balik aja... > > Cheers: Widi > > > > > > > > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. > > Publikasi : http://www.lp3b.or.id > Arsip : http://bali.lp3b.or.id > Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
