Dear All,
This is a forwarded letter from one of our mailing list members, and she wants to inform us concerning polluted beach in Lovina by oil.


SALAM
Gde Wisnaya Wisna


--- the forwarded message follows --- ============================================= Netkuis Instan untuk wilayah Bandung (kode area 022) - SD,SMP,SMA Berhadiah total puluhan juta rupiah... periode I dimulai 1 April 2004 =============================================
--- Begin Message ---

Gede, could you please try to forward that letter to sos and lp3b, I always get failure delivery, already for days....????
trims,
Silvia. 
 
-------Originalmeldung-------
 
Datum: 09/29/04 11:40:54
Betreff: Weiterl.: Betreff: [sos-bali] Re: Oil on Lovina Beach!!!
 
Dear friends,
I wrote that letter already a few days ago, but seems the server was down....
 
(karena di mailinglist sos juga ikut banyak tamu - tamu asing emailnya di dalam Bahasa Indonesia di bawah ini)
 
nobody seems to know exactly where the oil came from... well for sure some people know, but do not wish to tell to the people living in the affected areas...
If it comes from a broken tanker or from the pipeline of PLTGU in the sea in front of the beach of Pemaron, it seems it really does not matter so much...
 
Fact is -
there is quite a lot of oil on Lovina beach, which I have seen with my own eyes.
When PLTGU Pemaron will start operating on a so called "normal", regular basis, there will be constant tanker traffic in the sea bringing oil from Depot Manggis to Pemaron, passing the whole of East Bali, (including Tejakula) and a big part of North Bali. Consequently there will be an every day risk of an "accident" as we could see probably only part of its sad results a few days ago...
 
Nobody seems to know exactly what is happening with the machines. Are they really broken? If so, how comes there are "test runs" on and on? But also that does not seem to really matter so much...
 
Fact is -
each time PLN is making their "test runs", or whatever that is supposed to be (always at nighttime...), it is unbearable noisy (3 km away, in Pemaron it is hell...) and I feel like I have built my hotel in the middle of a frequented airport with big planes constantly taking off and landing. Last night some people were just checking in my hotel 9 o clock in the evening. What does PLN suppose us to answer to the questions of the guests about the noise? Something like - "Oh, sing ken ken, he, he, its just the noise of a test run of a newly built power plant nearby, don`t you worry".... and don`t you (despite your brains and your stomach is already revolting because of the noise and the anger you feel...) forget to put the friendly smile of a good and welcoming host on your face when saying a thing like that...
 
Tourists coming here made a choice to stay in Lovina as they have been looking for a quiet, natural place, like Lovina is being promoted in the media so far. It costs them a lot of money and some effort to come here, and being in the tourist trade we are obliged to fulfill their expectations as good as we can. So what?
 
Maybe someone wants to work on a new promotion for the area - for example offering a workshop to the visitors  - something like - "Come and experience Northern Bali! See how fast a natural and prosperous environment can be damaged by bringing development to a rural area using out of time technologies which, on top of it, are being opposed by the local society. Learn how definitely NOT to do things..."
 
Nobody seems to know exactly what is the meaning of a designated tourist area issued by law of the Balinese government. But seems that does not matter too much either...
 
Fact is - 
being an investor in the tourist trade in Lovina area I feel, politely expressed, cheated by the local government that does not follow up their own laws.
 
Finally -  
 
A few comments from the tourists about this project  -
"Oh, how can that happen here in this particular surroundings?" 
"Doesn't`Bali have an industrial area to build a thing like that?" 
"Why don`t they use environmental friendly technologies?"
"Oh my God, they build it in the middle of a village????"
"What a pity! Why do people have to destroy all the last paradise destinations on earth? We will have to go somewhere else..."
For reasons of politeness I will not comment on all the other sayings using a more rough language...like - BEEEP that BEEEP BEEEP BEEEP power plant...
 
and finally - "Oh yeah, this is how things go in Indonesia, the Indonesian way.... " which probably hurts most...at least as long as one still identifies with the country we are living in...
 
Thats it for today about the BEEEEEEEEP PLTGU in Pemaron.
Regards,
Silvia.
 
By the way now it is 12  at night and my guests have gone back to their verandas or beds wishing to enjoy a tranquil night at Lovinas seaside... I am afraid they will not be lucky, nor am I sitting in my office. Just another "test run" ...
 
 
Kawan - kawan,
sampai sekarang tidak ada yang tahu tepat darimana minyaknya datang...apakah kemungkinan ada, tetapi tidak dikasih tahu sama masyarakat di tempatnya.
Apakah minyak tersebut datang dari kapal tangki yang tenggelam atau dari pipa PLTGU di laut di depan pantai Pemaron,  hal ini kelihatanya seperti tidak begitu penting - penting sekali. ..
 
Kejadian yang nyata  -
ceceran minyak yang di pantai Lovina cukup banyak dan saya melihat dengan mata saya sendiri. 
Kalau PLTGU Pemaron sudah akan mulai operasi dengan kondisi "normal" dan tetap, di laut Bali akan ada lalu lintas kapal tangki bertekad yang memangkut minyak dari Depot Manggis ke Pemaron, lewat Bali Timur (termasuk Tejakula) ke Bali Utara. Sebagai akibatnya risiko untuk terjadi masalah lingkungan seperti kami dapat melihat beberapa hari yang lalu akan ada seterusnya...
 
Seperti tidak ada yang tahu tepat bagaimana dengan mesinya? Apakah mesinnya benar benar sudah rusak?  Kalau memang begitu bagaimana bisa jadi "test run" seterusnya? Tetapi kelihatanya hal ini seperti juga tidak begitu penting -  penting sekali. ..
 
Kejadian yang nyata  -
setiap kali PLN membuat "test run", selalu malam hari..., bunyi dari timur hampir tidak dapat ditahan (3 km dari Pemaron, apalagi di desa Pemaron sendiri..) dan saya merasa hotel saya dibangun di tengah - tengah lapangan terbang dengan frekwensi pesawat besar take off dan landing bertekad.
Kemarin malam pas ada tamu check in sekitar jam 9 malam di hotel saya. Menurut dugaan PLN apakah kami bilang sama tamu yang baru datang dan bertanya tentang bunyi itu? Mungkin perlu dikatakan seperti - "sing ken ken, he, he, itu hanya percobaan pembangkit listrik yang baru dekat dekat ini, anda jangan khekawatir"...dan, walaupun otak dan perut kami sudah memasang kait karena ribut dan merasa marah,  jangan lupa - lupa kami senyum cara ibu/tuan rumah ramah tamah pada waktu kami menjawab seperti itu sama tamunya...
 
Tamu yang datang ke sini memilih tinggal di daerah Lovina sebab mereka mencari lokasi sepi dan alami, seperti promosinya Lovina di media sampai sekarang. Mereka membayar mahal untuk ke Bali dan kami yang berkerja di sektor parawisata berhutang budi kepada tamu untuk memenuhi pengharapan mereka dengan baik. Dengan situasi seperti ini - bagaimana???
 
Mungkin ada yang mau membuat promosi baru untuk daerah parawisata Lovina ini - contoh workshop yang bisa ditawarkan untuk tamu datang  - "Mengalami Bali Utara dan belajar bagaimana bisa menghancurkan daerah yang alami dan makmur paling cepat dengan membawa perkembangan memakai teknologi kuno yang tidak disetujui oleh masyarakat. Belajar tentang caranya yang TETAP SALAH..."
 
Tidak ada yang tahu tepat apakah artinya daerah parawisata dengan Perda No 4 berasal dari pemerintah Bali. Tetapi kelihatanya hal ini seperti juga tidak begitu penting - penting sekali.... 
 
Kejadian yang nyata  -
Sejadi investor di dalam perusaahan parawisata di daerah Lovina,  saya merasa dibodohi (terbilang sopan) oleh penguasa di daerah ini yang seharusnya mengikuti aturan yang mereka buat tersebut.
 
Akhirnya beberapa ulasan dari tamu - tamu pada rencana PLTGU di Pemaron -
"Oh, bagaimana bisa terjadi di daerah ini?"
"Apakah Bali tidak mempunyai daerah industri untuk membangun proyek seperti itu?"
"Kenapa tidak dipakai teknologi yang ramah lingkungan?"
"Oh my God, mereka membangun pembangkit listrik di tengah - tengah  desa....?????"
"Sayang! Kenapa manusia harus menghancuran semua tempat firdaus di dunia ini? Kami harus berlibur ke tempat lain...."
Karena saya masih mencoba jadi orang sopan saya tidak akan mengulangi kata  - kata tamu yang pakai bahasa yang lebih kasar....BEEP that BEEP BEEP BEEP power plant...
 
dan akhirnya
"Oh ya, itu caranya di Indonesia,  the Indonesian way...."  kata - kata yang barangkali paling menyakitkan...sekurang - kurangnya selama kami masih ingin mempersamakan dengan negara ini...
 
Itu saja untuk hari ini tentang hal BEEEEEEP  PLTGU di Pemaron.
Salam,
Silvia.
 
Pada waktu ini saya menulis email ini jam 12 malam, tamu - tamu saya sudah kembali ke bungalownya dia, langsung ingin tidur apakah masih mau menikamati satu malam sepi di verandanya dia di pinggir pantai Lovina.  Mereka sial. Sama seperti saya di kantor saya...Ada lagi "test run"...
 
Silvia Binder and her team from
KUBU LALANG
International Restaurant and Beach Bungalows
Pantai Tukadmungga - Lovina - Singaraja
Bali
    0062/362/42207
    [EMAIL PROTECTED]
    http://kubu.balihotelguide.com
 
 
 
 
 
 

--- End Message ---

Kirim email ke