Visi dan Mimpi
Mimpi

SEORANG teman psikolog mengatakan, di antara sekian banyak teori
tentang mimpi, ada yang menyebutkan bahwa mimpi adalah
percikan-percikan pulsa otak kita. Mereka saling memancar tak
terkendali. Persis semburan "random energy", energi acak. Teori ini
memperlihatkan bahwa ketidakaturan itulah yang membebaskan pola pikir
kita yang biasanya terkotak-kotak. Sehingga dalam mimpi, fantasi
apapun diperkenankan muncul. Itu sebabnya mimpi juga memiliki arti
lain. Misalnya, cita-cita atau visi.

Cerita penemuan patung Garuda terbesar di dunia, yang dipahat utuh
dari sebatang pohon, juga berawal dari mimpi. Pada 1981 Made Ade,
pemahat kondang di Bali, dalam mimpinya diberi visi tentang patung
Garuda yang besar. Pucuk dicinta. Pada 1985 ia dikirimi sebatang pohon
trembesi dari Madura. Usianya ratusan tahun, beratnya 8 ton. Serta
merta ia ingat pada mimpinya dulu. Dari pohon inilah ia akhirnya
menciptakan patung Garuda terbesar di dunia yang posisinya sedang
menari. Sangat anggun.

Tinggi patung ini tak tangung-tanggung, 4.25 meter. Lebarnya 3.50
meter, tebalnya 2 meter lebih. Saking beratnya kayu trembesi ini, Made
Ade memahatnya dalam keadaan terbaring. Tahun 1988, Made Ade berhasil
mewujudkan mimpi dan juga karya agungnya. Patung Garuda terbesar di
dunia, yang dipahat utuh dari sebatang pohon, akhirnya lahir gagah
perkasa. Sungguh sebuah rekor dan prestasi luar biasa.

Namun karya agung Made Ade ini tak mendapat sambutan semestinya. Aneh
tapi nyata, banyak tokoh selebriti, dari pengusaha kaya, hingga
menteri yang pernah melihatnya, justru tak menghargai karya agung ini.
Patung Garuda ini malah tidak laku dijual karena ukurannya yang
kelewat besar. Ironis bukan ? Adeline Yen Mah, penulis buku Watching
The Tree, menulis "It has been said that the act of discovery lies not
in seeking new views but in finding new eyes" .

Akhirnya, selama 12 tahun patung Garuda terbesar di dunia ini harus
tergolek di tanah. Ia terlantar dihantam cuaca dan rayap. Baru pada
2000 ini ia ditemukan lewat "mata baru" yang dikatakan Adeline.
Oktober lalu, Anhar Setjadibrata, pemilik Hotel Tugu, Bali, berkunjung
ke Desa Pakudui di Gianyar, Bali, yang terkenal sebagai komunitas
artis pembuat patung Garuda. Di desa itu pula Made Ade tinggal. Sore
itu, Anhar juga sedang mencari patung Garuda untuk ditempatkan di
restoran Tugu Malang yang baru, yang dinamakan Tirtaggangga.

Lanjut cerita, seluruh studio pematung di desa Pakudui telah
ditelusurinya, namun tak ada satu pun patung Garuda yang ditaksirnya.
Ketika matahari mulai surut, Anhar tiba di studio terakhir, milik
pematung terkenal Made Ade. Entah kenapa, di tempat ini, hatinya
berdesir kencang. Dibantu lampu senter akhirnya Anhar menemukan patung
Garuda terbesar di dunia, yang kebetulan selama 12 tahun terlantar
terbaring di tanah. Lewat "mata baru" Anhar , patung Garuda ini
diselamatkan, dan diberdirikan untuk pertama kalinya. Kini,
kalaukebetulan mengunjungi hotel Tugu di Bali, Anda bisa menyaksikan
sang Garuda yang sedang menari di Bale Agung, hotel Tugu Bali.

Cerita penemuan ini sangat menggugah hati saya. Karena membuktikan
secara pas perkataan Adeline diatas. Made Ade sebagai pemahat memiliki
mimpi atau visi besar untuk membuat patung Garuda terbesar di dunia.
Namun visi agungnya gagal dimengerti banyak orang. Barulah ketika
Anhar datang dengan new eyes-nya, visinya baru disambut.

Didalam bisnis, keadaannya juga mirip. Visi besar hanya dilahirkan
pemikiran besar. Pengarang buku Counter-Intuitive Marketing, Kevin J.
Clancy dan Peter C. Krieg, menulis bahwa dalam riset yang melibatkan
500 perusahaan peringkat Fortune, hanya 20% perusahaan dan 8% merek
yang memiliki visi besar. Selebihnya lemah dalam visi, atau tak
bervisi sama sekali. Akibatnya tak jarang perusahaan itu tumbang dalam
waktu singkat. Pemasar-pemasar agung rata-rata memiliki visi agung
pula. Seringkali bukan karena konsepnya, melainkan justru sudut
pandangnya yang unik.

Visi bukan semata dibuat sebagai arahan cetak biru. Melainkan juga
sebagai radar, untuk meraba dan memperlihatkan apa-apa yang tidak
terlihat nyata.

Kafi Kurnia [Gatra Nomor 8 Tahun ke 7, Beredar 8 Januari 2001]
Copyright (c) 2002-04 Gatra.com

Hangtuah Digital Library

--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke