Konsisten baca buku

Dalam konteks pendidikan, keluarga merupakan faktor yang memegang
peranan paling penting. Dalam keluarga yang normal, sebagian besar
waktu anak dihabiskan bersama keluarganya. Oleh karena itu diperlukan
suasana keluarga yang kondusif bagi pertumbuhan mental dan spriritual
anak. Jika hal itu bisa diciptakan, maka anak akan menjadi pribadi
yang dipenuhi hal-hal positif.

Demikian pula dalam hal kebiasaan membaca, keluarga adalah pendidikan
yang paling penting. Jika kedua orang tua mampu menciptakan suasana
yang mendukung terciptanya kebiasaan melahap buku, maka secara
otomatis sang anak akan terbawa dan menjadi pecinta buku. "Untuk itu
sebagai orang tua harus konsisten. Tidak perlu harus terus membaca
buku di depan anak, tetapi terus menciptakan suasana membaca yang
ideal," ujar Marketing Director Nestle Indonesia Maurits Klavert,
baru-baru ini.

Menurut dia, ada dua jenis buku yang selalu konsisten untuk dibacanya
yaitu buku manajemen dan pengembangan diri. Pria kelahiran Malang itu
memang termasuk gemar membaca buku manajemen a.l.tulisan Peter
Drucker, Leading the Revolution-nya Garry Hammel, dan Service Strategy
karya J. Horovitz. "Saat ini saya sedang membaca buku The World is
Flat karya Thomas L. Friedman. Sedangkan buku renungan pribadi yang
baru saya selesaikan adalah karya Eckhart Tolle yang berjudul The
Power of Now," tuturnya.

Dalam sehari Maurits hanya membaca beberapa lembar buku setiap kali
akan tidur dan melanjutkan sisanya di akhir pekan. Tetapi hal itu
dilakukannya dengan konsisten. Hasilnya, keempat anak Maurits yaitu
Rafael, Fabian, Amanda, dan Jonathan yang berumur antara 10 dan 20
tahun jadi gemar melahap buku tanpa harus dipaksa. "Sama seperti kalau
disuruh minum susu. Kalau disuruh justru susah, tapi kalau sudah suka,
malah jadi susah untuk disetop," ujarnya.

Salah satu anak Maurits yang terbesar, Rafael malah memilih belajar di
Belanda untuk menekuni dunia media massa yang dekat dengan dunia
informasi.

Tak membatasi
Pria ini juga termasuk tak pernah membatasi belanja buku anak-anaknya.
"Uang yang keluar rasanya tidak sebanding dengan manfaat yang akan
didapatkan. Setiap akhir pekan pasti ketiga anak saya pergi ke toko
buku."

Bagi Maurits, pentingnya membaca buku ini rupanya juga terkait dengan
pekerjaan yang ditejuninya saat ini. Soalnya sejak lama hal itu sudah
menjadi salah satu strategi pemasaran Nestle Indonesia. Tiga kali
dalam setahun, Nestle selalu menerbitkan booklet cerita bagi
anak-anak. Bahkan pada 2000, bekerja sama dengan studio animasi Red
Rocket yang berpusat di Bandung, Nestle melalui Dancow mensponsori
pembuatan film seri animasi untuk acara Dongeng untuk Aku dan Kau.

"Tidak hanya booklet dongeng yang diterbitkan sejak 10 tahun yang
lalu, tahun ini juga diterbitkan satu seri booklet mengenai kecerdasan
emosional juga learning dan science," tuturnya. Penerbitan booklet
tersebut akan berjalan bersama dengan peluncuran Program Edukasi Orang
Tua untuk Anak Indonesia (Prestasi) di bawah payung Dancow Parenting
Center (DPC).

DPC adalah serangkaian program pendidikan pola asuh anak yang meliputi
mental, fisik, maupun lingkungan yang dikemas dalam bentuk seminar
kepada orang tua dan pendidik. (Algooth Putranto)

Copyright (c) PT. Jurnalindo Aksara Grafika

Hangtuah Digital Library

--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke