Pak Ketut Astawa yang baik,

Sepengetahuan saya untuk bantuan-bantuan yang mengalir ke Indonesia dari
mana saja sumbernya saat ini agak meragukan. Salah satu contohnya berapa
miliar Dollar (bukan Juta Lho) yang mengalir ke Indonesia untuk Tsunami di
Aceh sampai saat ini juga banyak yang menguap, begitu juga yang di
Yogyakarta.

Nah para NGO's itu, yang dari di Eropa mereka melaporkan keluhan dan ketidak
becusan burokraktis kita sehingga apa-apa yang dikirimkan selalu/ banyak
yang tidak dinikmati langsung oleh sipenderita. Saya sendiri ikut dalam
acara temu muka dengan para NGO's ini. Sampai rasa-rasanya saya malu untuk
ikut menghadiri acara ini. (Ich war als Vorstandsmitglied des Fachkomitees
"Hospitation und Volontariat" für ausländische Studenten in Deutschland)

Bayangkan kalau anak-anak sekolah pun mereka ikut menjual kue-kue hanya
ingin membantu bangsa kita, nah dengan berita korupsi yang selalu kita
dengar, membuat anak-anak itu juga menjadi kecewa. Apalagi ada sebagian
Golongan yang ikut-ikutan mengambil kesempatan.

Setiap proyek yang akan dimulai, kita selalu mengharapkan bantuan-bantuan
tangan dari luar negeri. Kalau dilihat keadaan kita di Indonesia sebetulnya
ada kemampuan untuk berdikari sendiri. Hanya jiwa sosial kita sangat kurang.
Mari kita mulai dari yang kecil, nah jika itu bisa berhasil tanpa ada "noda
korupsi" maka kita bisa maju selangkah lagi untuk projek yang lebih besar.
Hal yang ini hanya dapat berhasil jika pelaksannya mempunyai jiwa idealis
yang tinggi.

Ada banyak mahasiswa yang selesai dari Jerman dan diberikan bimbingan
seperti program pak Ketut utarakan tadi, dari yang namanya Biogas, Solar
Cell, Kincir Angin, Tata Kota,.....wah pokoknya banyak untuk peningkatan
kesejahteraan masyarakat kecil diTanah Air.
Hanya merealisasikannya banyak mendapat kesulitan, artinya dalam ilmu kita
sudah bisa menerapkan tetapi realisasinya jatuh disoal "DUIT" dan
infrastruktur kita.

Nah saya kira...begitu juga apa yang Pak Ketut akan alami. Maaf ini hanya
perkiraan saya...., mohon maaf sekali lagi bukan saya meragukan pak Ketut.
Saya cuma berbicara dari pengalaman saya selama di Jerman. Saya harap pak
Ketut bisa berhasil.

Yang kita perlukan menurut pendapat saya adalah meningkatkan kwalitas NGO's
Lokal kita dari yang bergerak dibidang sosial/budaya dan technik. Mereka ini
yang memonitoring apa yang diperlukan bagi masyarakat yang terbelakang.
Sedikit contoh kecil sudah dilakukan oleh Mbak Viebeke, Pak Wis, Ibu
Widi...dllnya.

Sekian dahulu sampai kemudian.
mudah-mudahan Pak Ketut enggak kena banjir sampai basah kuyup tuh di UK!

Salam
Th. Lengkey

----- Original Message ----- 
From: "Ketut Astawa" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, July 25, 2007 12:07 PM
Subject: [bali] Fwd: Ashden Awards 2007


> Dear all,
>
> silakan share ide dan komentar akan info dibawah,
> khusus mba vieb dan  bung Lengkey, bila kita terapkan di
> kubu atau kawasan timur Bali rasanya sangat optimis.
>
> namun saya masih di UK saat ini,
> silakan nanti ada yg buat proposalnya, lewat e-mail kita
> diskusi, dan saya yg akan bawa ke Imperial college London.
>
> sukses
> k astawa
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>



--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke