Made Wirata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Terimakasih Wirata Pak Tjahjo, kalo boleh saya ingin sedikit urun rembuk ttg PLTB ini, ref info yg sy proleh rekan- rekan dilapangan di Bandung plus internet ttg PLTB, sbb: 1. Banyak perusahaan (LN)sudah bergerak dan menawarkan PLTB ini sejak 1-2 th lalu, al: Cina (yg paling gencar), Jerman, Denmark, dll. Dari segi harga Cina selalu yg unggul, tapi kualitas belum tentu bagus. Betul itu yang sedang saya tentang karena mereka Pemborong tidak menghendaki Peneliti/ Perencana 2. Cina menawarkan yg ukuran kecil, 5, 10, 50 kW, Jerman, Belanda sd 250 kW per set nya. Saya pernah merekomendasikan GE untuk kapasitas besar dan untuk instalasi penelitian climate change melalui bottom up proses, tapi makin keatas makin besar mark up nya, ya saya setop saja. 3. khusus yg dari belanda (kalo enggak salah namanya WESS) punya mitra di RI yang targetnya memasang 4 PLTB di Nusa Dua kapasitas 80 kW, rasanya baru mulai yg kedua, PLN mereviewnya, hasilnya agak kecewa. Betapa tidak, karena yg ditawarkan 80 kW, rata-rata keluarrannya dibawah 30 kW.. Sebenarnya yang direkomendasikan oleh saya adalah Denmark (negara yang pertamakali mendapat fasilitas Bank Dunia). Tapi kalau Belanda, kita tidak harus menyiapkan Cooperatives nya jadi lebih beresiko hanya sebagai Proyek Selesai tapi tidak berfungsi Menurut saya, setiap ada yg menawarkan / khususnya dari LN, perlu dicek dg cermat. Masalahnya: a) yang ditawarkan Kapasitas atau output. Kapasitas yg didesain biasanya untuk kecepatan maksimum, misalnya yg di Nusa Dua itu 80 kW pada kecepatan angin 12-13 m/s, sedangkan angin di kita rata-rata cuman 5 s/d 7 m/s. b) kecepatan terendah yg didesain mereka biasanya 4m/s yg berlaku di LN, dikita rata-rata angin awal 2 s/d 3 m/s artinya, untuk start muter baling baling saja lama. jadi desainnya harus disesuaikan dg kondisi angin di RI. c) Teknologi dibawah 250 kW sudah ketinggalan, karena sebenarnya di LN sudah tdk laku, maka dibawa ke RI, seperti WESS-Belanda td pabriknya sdh tidak buat lagi yg dibawah 100 kW, dan jumlah blade cuman 2bh (biasanya yg bagus 3bh). 5. Harga yg disebutkan rata-rata terlalu tinggi, yg kapasitas 80 -100 kW cukup 2-2,5M, yg 250kW dibawah 10M tidak sampai 15M
Kita mesti pasti pasti saja, mohon otonomi daerah, pangdam. universitas, pemda, perencana daerah, koperasi harus bangkit. Untuk itu saya sedang menyusun Gerakan AP2I (Asosiasi Perenncana Pemerintah Indonesia) untuk menghasilkan local planner yang berwawasan global dst Sementara itu dari sy, mudah-mudahan ada yg berguna. Sangat berguna. UN Climate Change Conference perlu ditargetkan Pak. Indonesia punya hak yang sangat besar untuk menyuruh Negara Maju karena sudah tandatangan Kyoto Protocol. Tks MW Tjahjo -- Open WebMail Project (http://openwebmail.org) ---------- Original Message ----------- From: CHPStar To: [email protected] Sent: Mon, 17 Sep 2007 22:50:07 -0700 (PDT) Subject: [bali] Pemerintah Akan Bangun 6 PLTB di Bali dan Sulawesi > AKARTA(SINDO)-Departemen Energi Sumber dan Daya Mineral (ESDM) berencana > membangun enam pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di Sulawesi dan Bali. > Pembangunan PLTB berkapasitas 80 kilowatt itu ditujukan untuk memasok listrik > di daerah-daerah terpencil."Di Sulawesi kita akan mempunyai dua-unit di > SangirTalaud dan empat unit di Nusa Penida, Bali," ujar Dirjen Listrik dan > Pemanfaatan Energi Departemen ESDM J Purwono di sela rapat kerja dengan > Komisi > VII DPR di Jakarta, kemarin. Dia menambahkan, pembangunan PLTB tersebut > membutuhkan investasi masing-masing sebesarRp4 miliar. Di Bali, kata dia, > saat > ini sudah ada dua unit PLTB sehingga dengan dibangunnya empat unit tambahan > akan menjadikan pulau tersebut terbanyak menggunakan PLTB. PLTB yang ada di > Bali saat ini, menurut Purwono, pembangunannya menghabiskan dana Rp3,5 miliar > per unit..Dengan proyek ini, kata Purwono, pemerintah bercita-cita menjadikan > Bali sebagai daerah percontohan wisata energi. Purwono menambahkan, tahun > depan pemerintah juga berencana membangun kembali lima unit PLTB berkapasitas > 200 kilowatt dengan investasi sekitar Rp 15 miliarper unit. PLTB ini,jelas > dia, > akan menggunakan tenaga hibrid, yaitu selain mengandalkan angin sebagai > tenaga pembangkit, juga akan disokong bahan bakar nabati untuk mengantisipasi > saat angin lemah. Proyek ini,jelas Purwono, merupakan proyek Departemen ESDM > dan peran PLN hanya sebagai pembeli. Tetapi, kata dia, harga listrik yang > dihasilkan PLTB lebih mahal, sekitar dua kali lipat dari pembangkit yang > berkisar USD4,5sen perkwh. Pada kesempatan itu, Purwono mengatakan bahwa > pengusaha swasta dari Jerman dan Amerika Serikat juga telah menyatakan minat > untuk membangun PLTB di Indonesia. Menurut Purwono, saat ini pengusaha swasta > tersebut sedang melakukan kajian daerah manayang cocok dan mana pengusaha > lokal yang akan digandeng. "Sebenarnya dulu sudah banyak yang tertarik, tapi > terbentur krisis. Lalu mulai ada lagi, seperti tahun ini dariJerman dan > Amerika," ujarnya. Menurut dia, daerah di Indonesia yang berpotensi untuk > dibangun PLTB adalah di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi > Utara, Sulawesi SeĀlatan, dan Maluku. Pembangunan PLTB menurut dia, relatif > mudah dan hanya memakan waktu tiga bulan. Dia berharap PLTB yang akan > dibangun > pengusaha swasta itu bisa terlaksana pada 2008. > > Sumber: Seputar Indonesia > > Back-up email for: [EMAIL PROTECTED] > > --------------------------------- > Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. > Play Sims Stories at Yahoo! Games. ------- End of Original Message ------- -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : Berlangganan : Henti Langgan : --------------------------------- Check out the hottest 2008 models today at Yahoo! Autos.
