waaah itu rencana ku cocok banget tuh.... aku lagi ngomong dengan beberapa 
temen untuk sosialisasi lewat cenk blonk.... sekalian jug amau buat sosialisasi 
untuk pms perempuan

Coba aku tanya ya berapa biayanya....


  ----- Original Message ----- 
  From: ngurah beni setiawan 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, October 03, 2007 2:13 PM
  Subject: [bali] [RE]Re: Mahabarata


        Mbo Vieb,



        berapa yang biayanya kalo mo ngundang cenk blonk..pengen nih..

        koleksi di rumah komplit (sepertinya) ada dyah ratna takeshi, katundung 
ngada, suryawati ilang, sampe kumbakarna lina..

        tapi semua ada di bali..

        Pak de wis, gimana kalo sekali2 kita ngundang wayang cenk blonk...untuk 
sosialisasi global warming...kayanya efektif tuh..hehehe



        Rahajeng,

        Ngurah Beni Setiawan




          ---------[ Received Mail Content ]----------
          Subject : [bali] Re: Mahabarata
          Date : Wed, 3 Oct 2007 13:59:51 +0800
          From : "Asana Viebeke Lengkong" <[EMAIL PROTECTED]>
          To : <[email protected]>

          Ngaleh gae gen Ngurah Beni ya..... aku juga suka sekali dan pernah 
main di jalan depan rumah ku loooo... 

          Aku kecil ya bisa nari srimpi dan dan gatotkaca gandrung, tapi kalau 
nonto wayang wong juga wah sampai pagi... soalnya dulu ketika kecil juga nggak 
boleh main kalau nggak bisa cerita satu aja episode wayang .... Eyang ku 
galak.... 

          P Ngurah Ambara suka nggak ya sama wayang Cenk Blonk? kelamaan di 
Kalimantan nanti malahan ketularan sama suku dayak lagi... masuk kristen.... 
nggak apa kok.... 

          Seorang Kiayi curhat ama Gus Dur : gimana nih Gus, saya punya anak 2 
tapi yang satu masuk Kristen..... 

          Gus Dur santai aja jawab : ah jangan bingung jangan cemas wong Tuhan 
punya anak satu aja masuk Kristen ...... 

          hehehehe 
          ----- Original Message ----- 
          From: ngurah beni setiawan 
          To: [email protected] 
          Sent: Wednesday, October 03, 2007 1:40 PM 
          Subject: [bali] Mahabarata 


          Om Suastiastu 



          ikut nimbrung dikit ah...tapi yang ringan aja... 

          kalo ngobrol masalah Mahabarata dan Ramayana...saya jadi ingat wayang 
Cenk Blonk karena kebetulan saya pecinta (kecanduan .red) sama dalang 
Nardayana..hehe 

          kalo ada yang mau pinjem koleksi cenk blonk saya, tak pikir2 dulu 
ya...hehehe.... 



          salam, 

          Ngurah Beni Setiawan 




          ---------[ Received Mail Content ]---------- 
          Subject : [bali] Re: Kasta : kesalah pahaman 
          Date : Wed, 3 Oct 2007 12:38:23 +0800 
          From : "Asana Viebeke Lengkong" 
          To : 

          Wah ternyata benar juga intuisi saya yang saya sampaikan ke P Wis, 
kasi waktu untuk berdialog masalah Mahabaratha, sangat menarik dan malahan bisa 
membuka wawasan. 

          Salam kenal Niluh Made Ashanapuri...... 

          Dalam filsafat Hindu ada astika yang berpegang pada Veda, dan ada 
Nastika yang menolak Veda.... keduanya tetap dalam Hindu. 

          Kini, dalam Era wiracarita, epos yang di pakai.... 

          Kita tidak perlu takut pada dialog agama kalau bisa meletakkan dari 
mula bahwa kita dialog kita tidak punya maksud untuk manyakiti orang lain. 
Jangan pernah merasa tidak nyaman kalau itu hanya di dasari ketakutan, 
bayangkan semua leluhur kita hidup dan mati dengan proses dan salah satu proses 
nya adalah beragama... kita juga perlu berjuang untuk keyakikan dgn menggunakan 
pengetahuan dan nalar..... 

          Selamat datang Niluh.... 

          vieb 
          ----- Original Message ----- 
          From: niluh made ashanapuri 
          To: [email protected] 
          Sent: Wednesday, October 03, 2007 10:56 AM 
          Subject: [bali] Re: Kasta : kesalah pahaman 


          Dear All, salam kenal 

          Saya mengikuti diskusi mengenai mother nature ini, kalau mau 
disambung ke forum lain harap ajak-ajak saya juga ya... ini merupakan bahasan 
yang cukup menarik dan menggelitik saya sebagai manusia yang merupakan bagian 
dari society, yang saat ini tampaknya agak terlena dengan keberadaan 
golongannya masing-masing dan agak lupa bahwa di dunia ini kita adalah bagian 
dari yang lainnya. Selayaknya kita menghargai perbedaan yang ada. 

          Dan mungkin perlu digarisbawahi bahwa ketertarikan saya mengikuti 
diskusi ini sama sekali bukan untuk mempertajam perbedaan yang ada akan tetapi 
justru untuk kita bersama-sama melihat bahwa kebersamaan dan saling menghormati 
antara manusia tanpa melihat dari mana dia berasal atau siapa dia merupakan hal 
yang jauh lebih penting demi keberlangsungan kehidupan di muka bumi. 

          Lagipula kalau terlalu sibuk mengurusi perbedaan nanti kita nggak 
punya waktu lagi untuk ngurusin yang lainnya. Padahal lingkungan hidup juga 
butuh perhatian kita dan jelas bahwa itu adalah tanggung jawab kita semua 
bersama sebagai penghuni alam semesta ini, sedangkan kalo agama kan itu urusan 
individu masing-masing dengan Yang Maha Kuasa. 

          Terimakasih 

          Regards 

          Ashanapuri 

          "Ambara, Gede Ngurah (KPC)" wrote: 
          Mbak Asana 

          Sebenarnya tidak ada masalah dengan : warna : "penggolongan 
Kerja/profesi" seperti dinyatakan dalam Veda, penggolongan ini bermasalah 
ketika diturunkan. 
          Kebingungan masalah wangsa (bukan warna) di bali adalah hal lain, 
wangsa tidak sama dengan warna, wangsa lebih kearah mencari siapa leluhur 
mereka sebelumnya, dan wangsa secara umum saat ini tidak berkaitan lagi dengan 
profesi/kerja. 

          Warna dan wangsa adalah hal yang berbeda..masalah kasta saya tidak 
tahu, karena ini bukan istilah Hindu, ini adalah propaganda Barat yang akhirnya 
diterima oleh orang-orang Indonesia untuk menjelekkan agama Hindu.kasta di 
Indonesia di masa sekarang?? Ini adalah omong kosong.. kalau di Afika Selatan 
pernah ada dengan politik Apartheid demi menindas pribumi sehingga ada kelompok 
putih dan kulit hitam ini adalah contoh perbedaan klas/golongan/kasta.demikian 
juga di Amerika sebelum perang sipil ..Dimana budak-budak negro menjadi warga 
kelas dua. 

          Jadi panjang deh diskusinya..oke deh sepertinya mesti ditutup kawatir 
yang lain pada protes karena bosan/tidak tertarik. 

          Suksme 
          GNA 


          -----Original Message----- 
          From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Asana 
Viebeke Lengkong 
          Sent: Tuesday, October 02, 2007 7:17 PM 
          To: [email protected] 
          Subject: [bali] Re: Kasta : kesalah pahaman 

          P Lengkey betul juga untuk forum special agama, tapi sabar ya... ini 
tidak akan berlarut larut karena memang tidak ada maksud demikian. 

          Untuk P Ngurah, Mohon baca buku KASTA DALAM HINDU - Kesalahpahaman 
berabad-abad oleh Ketut Wiana. 

          Ketut Wiana saya kenal sekali dan yakin bahwa tulisan beliau di 
dasari pengamatan dari berbagai aspek. 

          Disana beliau menerangkan dengan jelas bahwa istilah warna di 
terjemahkan dengan kasta. Memang benar di tubuh agama Hindu sama sekali tidak 
dikenal pembagian kasta dst. Namun kenyataan di masyarakat tidak sama dengan 
konsep yang kita pahami. Dalam kurun waktu 30 tahun saya banyak mendengar 
diskusi tentang Kasta di Bali; saya juga ingat sekitar 20 tahunan yang lalu 
ketika masyarakat Bali di hinggapi sindrom Kasta (timbul para Gusti baru) 
tetapi mereka menemui jalan buntu ketika tidak bisa menemukan silsilah 
keturunan warna, wangsa dan kasta. 

          Yang saya maksud adalah bukan KASTA atau WANGSA nya atau WARNA nya 
tetapi lebih ke PENGGOLONGAN. 

          Saya rasa memang sudah cukup apa yang bisa saya share disini karena 
yang di jawab oleh P Ngurah hanya konteks KASTA dalam teoritis. Kalau soal 
agama, saya rasa banyak anggota milis ini yang tidak nyaman, kapan kapan kita 
sambung lagi. 

          Namun saya ingin sedikit 'nyambat sara' dengan P Ngurah Ambara selaku 
semeton: Pak.... mohon jaga diri, hati-hati di jalan, karena kalau saja ada 
pendatang yang berani melampiaskan pendapat ataupun pernyataan seperti yang P 
Ngurah sampaikan di forum ini selama 3 hari terachir; maka 'kul-kul bulus kal 
nyambut'; kita semua kan anak Tuhan...... 

          Ampurayang, Suksme, 

          Vieb 

          From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 
          To: [email protected] 
          Sent: Tuesday, October 02, 2007 2:08 PM 
          Subject: [bali] Kasta : kesalah pahaman 

          Sepertinya Mbak Asana terpengaruh terhadap propaganda pandangan 
orang-orang Barat tentang Kasta, padahal di Hindu (Veda) tidak ada kasta yang 
ada adalah warna: 
          Kasta sendiri berasal dari bahasa portugis : caste, bukan dari bahasa 
India. 

          Sementara itu warna sangat berbeda dengan kasta: Warna adalah 
penggolongan manusia karena pekerjaan/profesi. Di dalam Veda disebutkan tentang 
warna ini: 
          Brahmana adalah orang-orang yang menekuni kehidupan spiritual dan 
ketuhanan, para cendikiawan, intelektual 
          Ksatria adalah orang-orang yang bekerja/bergelut di bidang pertahanan 
dan keamanan/pemerintahan 
          Wesia adalah orang-orang yang bergerak dibidang ekonomi 
          Sementara sudra adalah orang-orang yang bekerja mengandalkan 
tenaga/jasmani .. 
          Dan penggolongan ini tidak diturunkan..Artinya kalau sang Ayah 
Brahmana, tidak otomatis anaknya menjadi Brahmana. 
          Menurut Veda, Brahmana menempati posisi yang diagungkan, artinya Veda 
mendukung masyarakat yang dipimpin oleh orang-orang Intelektual/Bijaksana 
          (Civil society) dan tidak sekedar kekuasaan/kekuatan. 

          Apa yang terjadi di India adalah distorsi dari ajaran-ajaran Veda.. 
di Indonesia sendiri kasta tidak ada, yang ada adalah wangsa (garis leluhur). 
          Wangsa yang ada di Bali sebagai contoh hanya sebagai pengenal bahwa 
garis leluhurnya mereka dahulu berasal dari keluarga tertentu : misalnya soroh 
pande, artinya keluarga mereka pada jaman dahulu adalah "pengrajin/pande-besi", 
arya tegeh kori contoh lain artinya jaman dahulu keluarga mereka dari kelompok 
"arya" (ksatria yang berasal dari jawa masuk ke Bali). 

          Jadi tidaklah benar kalau umat Hindu itu mengenal kasta..ini 
merupakan bentuk pelecehan, dengan tujuan halus agar nama Hindu menjadi buruk, 
sehingga agama-agama baru (Kristen, Islam) lebih mudah berkembang ..kalau Mbak 
Asana yang lama tinggal di bali saja masih salah paham tentang Kasta, apalagi 
orang-orang lain yang tinggal di luar Bali.mungkin karena Umat Hindu tidak 
pernah menjelaskan secara gamblang apa itu wangsa/warna.atau seperti tadi, 
memang secara politis, mass media yang telah dikuasai oleh orang-orang 
Kristen/Islam cendrung lebih menonjolkan Ke Islaman dan Kekristenan dan dengan 
sengaja merendahkan agama Hindu. 

          Mahatma-Gandi berusaha memperbaiki keadaan ini, sehingga Gandi 
menyatakan bahwa tidak ada perbedaan diantara umat manusia sehingga ia 
menyatakan 
          Semua manusia sebagai Hari-Jan (anak-anak Tuhan). 

          Dan nama yang ada di Bali bukan berarti itu kasta, itu sekedar nama: 
nama saya misalnya Gede Ngurah Ambara, apakah saya ksatria?? Tentu bukan! 
          Saya seorang engineer bekerja di pertambangan, seorang yang digaji, 
maka saya sebenarnya sudra (buruh).siapa itu para ksatria?? Para ksatria adalah 
bapak-bapak yang bekerja di pemerintahan, para polisi, militer yang bergerak 
dibidang pertahanan. 

          Suksme 

          -----Original Message----- 
          From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Asana 
Viebeke Lengkong 
          Sent: Tuesday, October 02, 2007 1:41 PM 
          To: [email protected] 
          Subject: [bali] Re: mother-nature 

          Saya jawab dengan interaktif saja ya (jawaban saya dengan tanda **** 
dibawah tulisan P Ngurah) .... kita terbuka saja, jadi tidak ada yang merasa 
perlu 'tidak nyaman' ya... kita nyaman nyaman kan saja; karena ini adalah 
termasuk kebebasan berpendapat... jangan perlu ada yang tersinggung atau tidak 
nyaman, semua perlu proses pendewasaan... 

          Saya sendiri berdialog dengan P Ngurah nggak mau dianggap ada agama 
saja.... kalau saya bawa agama... pasti banyak yang tersinggung... jadi jangan 
buang tenaga lah untuk tersinggung... hehehe 
          ----- Original Message ----- 
          From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 
          To: [email protected] 
          Sent: Tuesday, October 02, 2007 11:07 AM 
          Subject: [bali] mother-nature 

          Mbak Asana. 

          Toleransi dalam kehidupan sosial memang sangat diperlukan, karena 
sesungguhnya manusia adalah mahkluk sosial..dan kalaupun misalnya tidak ada, 
tidak pernah muncul agama-agama di muka bumi, maka toleransi ini bisa tetap 
terjadi, karena manusia saling memerlukannya untuk hidup/bertahan hidup. 
          Tapi begitu menyangkut masalah-masalah yang subtle dari agama, maka 
manusia dengan agama berbeda menjadi tidak bisa ketemu, karena secara mendasar 
: Hindu, Buddha, Islam dan Kristen sangat berbeda. 
          - Islam/Kristen tidak mengenal Karma-reinkarnasi maupun moksa 
(nirvana), tapi mengenal sorga. 
          - Hindu-buddha mengakui adanya hukum karma-reinkarnasi dan menuju 
moksa (bersatunya Roh dengan Maha Roh: Tuhan) . 
          Hindu dan Budda menyatakan hidup ini bukan sekali, tapi ribuan kali 
bahkan tidak terhitung kita pernah dilahirkan dalam tubuh yang berbeda-beda.. 
          Menyadari bahwa hidup ini tidak hanya sekali maka orang Hindu-budda 
melihat dunia ini dengan cara yang lebih bijaksana, Hindu-budda cendrung lebih 
menyatu dengan alam, seimbang dengan alam, jarang sekali ada orang Hindu 
merusak alam sekitarnya, karena mereka percaya, alam adalah bagian integral 
dari dirinya, roh yang sama juga terdapat pada tumbuhan dan hewan, sama seperti 
roh yang ada pada manusia.. 

          ****P Ngurah mengarah ke perbedaan jadi kapan ketemunya? Karena sorga 
ya pengertiannya persatuan antara kita dengan Tuhan kata lainnya mungkin 
kehidupan kekal; jadi mungkin bahasanya yang berbeda.... 

          Sebalikya orang Islam/Kristen menganggap bahwa tumbuhan/hewan berbeda 
dengan pada manusia, sehingga agama-agama semitik (Islam, Kristen, Yahudi) 
cendrung dengan mudah melakukan exploitasi terhadap alam.namun sebenarnya pada 
kondisi sekarang, orang-orang Kristen/barat mulai mengakui adanya peranan alam 
ini, sehingga sekarang ini bukan hanya umat Hindu yang sering berkata : Ibu 
Bumi (Pertiwi) yang lagi menderita, tapi orang-orang Barat juga berkata dengan 
terminolgi serupa mereka menyebutnya sebagai : the Mother-nature is suffering, 
padahal istilah mother-nature ini saya yakin tidak pernah muncul di Bible 
(Injil).. 

          **** Saya tidak berani YAKIN bahwa Mother Nature tidak muncul dalam 
Bible - coba di telaah asal muasal istilah Mother Nature dalam Wikipedia, agama 
agama baru itu melanjutkan agama kuno dengan proses evolusi yang cukup panjang, 
jadi tidak valid lah kalau kita menilainya melalui superioriti....bukankah yang 
superior adalah Tuhan? 

          Sehingga konsepsi Veda bahwa : Alam semesta ini sesungguhnya 
perwujudan dari Brahman (Tuhan) : sarwa-idam kalu Brahman, maka seluruh alam 
semesta ini adalah suci menjadi dasar kuat bagi umat penganut Veda (tidak mesti 
orang Hindu, tapi siapapun yang percaya Veda) untuk senantiasa mengupayakan 
kelestarian alam. 

          ***** Saya adalah pembaca Veda bukan penafsir... jadi mencoba untuk 
melihat segala sesuatunya dengan pengetahuan dan nalar..... 

          Orang-orang suci di Bali, para leluhur dari sebelum masa Mpu Kuturan 
telah menggariskan konsep keseimbangan yang sempurna antara : 
Manusia-Tuhan-Alam. 
          Tri Hita Karana : Urip-pawongan-palemahan.. 

          *****Cantik ya konsep di "Bali"... kita sekarang menghadapi realita 
yang berbeda yang belum ada solusi nyatanya.... 

          Kalau menurut saya, dengan agama kita memang mesti serius (tidak 
boleh setengah-setengah) karena bisa fatal. Suatu contoh, mantan raja Buleleng: 
I Gusti Panji Tisna, yang pernah pindah menjadi Kristen (sebelumnya beragama 
Hindu), akhirnya setelah meninggal, kehidupan di alam sana tidak jelas 
(terkatung-katung), teman saya, masih keturunan Panji Tisna, menuturkan bahwa 
sang roh Panji Tisna masuk ke salah satu keluarga (kesurupan) meminta agar 
dibuatkan upacara pengabenan.. Keluarga Panji Tisna yang sebagian sudah Kristen 
menolak, karena mereka tidak percaya, sang Roh Panji Tisna bercerita di alam 
sana, ia tidak mendapat tempat, di tempatnya Kristen ditolak, sebaliknya di 
tempat Hindu juga ditolak.akhirnya keluarga Panji Tisna yang masih Hindu 
melakukan upacara pengabenan ini, agar roh Panji Tisna ini bisa mendapatkan 
tempat yang layak di alam sana.. 

          *****Jadi Roh Panji Tisna sudah PASTI ya SEKARANG mendapatkan tempat 
layak di alam sana.....apakah melalui proses cenayang makluk luar-bumi bentara 
zaman baru (new age extraterestrial communicators), saya perlu nomor HP nya 
kalau ada (becanda ya Pak); wah kalau hal yang begini saya kurang paham; 
apalagi kalau baca dan nonton di Discovery sejarah para Firaun dari 3500 tahun 
lalu yang sampai sekarang pun masih utuh dan sejarahnya jelas; nama, umur dan 
mereka tidak melalui proses ngaben. 

          Sehingga menurut saya, kita masing-masing dengan agama berbeda 
sebaiknya serius di agama masing-masing, dan menjaga toleransi diantara sesama 
umat beragama. karena Veda ternyata juga membuat arahan/guidance yang serupa : 
salah satu sloka Bhagavadgita Tuhan bersabda sbb 
          "Jalan apapun yang engkau tempuh padaKU, berbakti sepenuhnya di jalan 
itu, maka engkau akan mencapai Aku" 

          ***** Wah sama dengan yang tertulis di Al Q'uran dan Kitab Injil; 
persis sekali lo.... apa yang nulis sama kali ya..... penerbitnya yang 
berbeda..... 

          Kehidupan saya di perantauan sejauh ini cukup nyaman, mungkin karena 
jauh dari tempat-tempat yang potensial konflik tinggi seperti Sampit, Kalteng. 
          Namun sekarang ini yang cukup memprihatinkan adalah orang-orang Dayak 
masuk (merusak) Taman Nasional Kutai, dengan dalih politis bahwa mereka sampai 
sekarang terpinggirkan oleh kaum pendatang yang kebanyakan suku Bugis, Jawa 
dlll..dengan tindakan ini mereka berharap bisa diperhatikan dan bisa 
mendapatkan hak-hak politik mereka di pemerintahan dan dewan perwakilan yang 
saat ini malah sebagian besar dikuasai oleh pendatang. 

          Pura di Balikpapan sekarang ini juga masalah, karena di sebelahnya 
persis dibangun Gereja, umat Hindu protes sudah diajukan ke wali-kota, namun 
mereka, orang-orang Kristen justru menantang balik, mereka bilang, kalau kita 
tetap ribut maka mereka bisa saja bikin seperti di Sampit dengan mengerahkan 
orang-orang Dayak. 
          Menurut undang-undang aturannya sudah jelas, rumah ibadah yang 
berbeda tidak boleh didirikan pada jarak kurang dari 200 meter satu sama 
lain..nah Gereja ini jaraknya Cuma 1 meter dari Pura, langsung berbatasan 
dengan tembok pura. 

          **** Di BALI di NUSA DUA, mererot lo antara mesjid, vihara, gereja 
dan pura..... dan OK OK saja semua; jadi saya rasa yang 'bler' itu 
orang-orangnya ya... nggak ada hubungannya dengan agama, yang protes sekelompok 
orang yang belum paham, agamanya sih ok saja...... 

          Pendapat saya ya P Ngurah cocok hidup di jaman sebelum Axial Age 
dimana penggolongan menjadi cara kehidupan manusia ketika itu... sedangkan kita 
yang hidup sekarang mencoba untuk menyederhanakan dan meminimalisasi adanya 
penggolongan yang mencolok antar manusia hidup. 

          Saya kutip: "Mengapa begitu besar perubahan terjadi selama jaman 
Aksial yang seribu tahun itu? Dalam kurun masa tersebut penduduk bertambah 
dengan cepat dan senyampang dengan bertambahnya jumlah anggota serta kerumitan 
masyarakat, agama-agama besar terpaksa menghadapi masalah-masalah baru yang 
timbul. Pada mulanya, agama Hindu dan Yahudi menghadapi ketegangan-ketegangan 
sosial dalam lingkungan masyarakat sendiri dengan menempatkan orang dalam 
berbagai penggolongan. Penggolongan seperti PENAKLUK DAN TAKLUKAN, KAYA DAN 
MISKIN, menyebabkan agama Hindu menerapkan sistem kasta. Dalam Agama Yahudi 
golongan parisi membedakan orang yang baik dari yang jahat. Timbulnya agama 
Budha, Kristen dan Islam adalah akibat gelombang reaksi penggolongan tersebut" 
Donal B. Calne. 

          Kita belajar dari sejarah ya P Ngurah supaya kita bisa membangun 
masyarakat kedepan yang lebih berani because IT TAKES COURAGE TO BE A HUMAN 
BEING.... and the Key is UNDERSTANDING.... 



          Suksme 
          GNA 


          -----Original Message----- 
          From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Asana 
Viebeke Lengkong 
          Sent: Tuesday, October 02, 2007 10:05 AM 
          To: [email protected] 
          Subject: [bali] Re: Mahabaratha 

          P Ngurah Ambara, 

          Kalau sebatas ignorance yang di jabarkan oleh P Ngurah ini, ya bagi 
saya agak sedikit terlalu sempit.... tapi kita tetap tidak bisa berhenti 
ber-dialog jadi jangan pernah memberi perintah kepada orang lain untuk 
menghentikan dialog hanya karena pendapat bahwa orang lain kurang memiliki 
potensi untuk berbicara soal Mahabharata, karena sudah ada ribuan tahun yang 
lalu. Kita semua memiliki keterbatasan dalam segala hal. 

          Saya kecut sekali ketika membaca email Bapak terdahulu tentang 
Mahabharata; saya jadi tidak ingin beragama, bayangkan saya ini hidup di 
keluarga yang menganut multi agama, jadi pengertian serta toleransi di tuntut 
mutlak oleh semua anggota keluarga dalam kesepakatan bahwa kita boleh berbicara 
bebas dengan menggunakan nalar bebas juga ketika kita melakukan kritik dan 
lainnya. Karena tentunya ada hal lain juga yang harus diperhatikan, moral dan 
etika dan banyak hal lagi. 

          Ketika keluarga berkumpul kita membicarakan agama secara bebas; saya 
ingat (masih umur 7 tahun) salah satu anggota keluarga sepuh bicara soal Jaman 
Axial sekitar 500 sebelum masehi sampai 600 Masehi yang disebut jaman renaisans 
agamawi. Di jaman itu lahir kesemestaan dan hidup sesudah mati terbuka bagi 
siapa saja yang melaksanakan kehidupan yang baik (karma); gagasan hak-hak yang 
setara untuk bisa memasuki kehidupan surgawi itu secara cepat sekali merambah 
ke berbagai budaya seantero jagad. Tapi sayangnya setiap agama punya pandangan 
yang beda tentang yang di anggap sebagai kehidupan yang baik. Banyak masalah 
masalah agama ketika itu yang sangat rumit dan membingungkan yang melatar 
belakangi terbangunnya Axial age itu dengan dogma-dogma agama yang lebih 
sederhana dan juga terjadi reformasi sosial. 

          Apakah kemudian ajaran Budha, Kristen, Islam tentang toleransi itu 
sifatnya agamis atau politis? tentunya untuk menerima gagasan bahwa orang yang 
sakit, miskin, atau kaum minoritas, marjinal perlu mendapat perhatian itu 
menjadi tugas yang bersifat agamis dan politis. Agama-agama baru itu terbuka 
untuk semua orang karena para pemeluknya diberikan kebebasan untuk dapat ikut 
serta dalam kegiatan agamawi dan juga mendapatkan pengakuan terhadap kehidupan 
sosial mereka. 

          Jadi, P Ngurah, ayolah berbagi dalam dialog terbuka dengan 
menggunakan nalar yang bebas tanpa ada rasa benci, marah dan mari kita buang 
syak wasangka. 

          Kalau boleh saya bertanya; P Ngurah kan hidup di perantauan antara 
Jakarta dan Kalimantan (maaf kalau salah); bagaimana hubungan P Ngurah dengan 
orang lain dari budaya dan agama yang lain pula yang ada di sekitar? Nyamankan 
P Ngurah? atau terganggu? Bisa share nggak? 

          Maaf kalau tidak berkenan. 

          Vieb 
          ----- Original Message ----- 
          From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 
          To: [email protected] 
          Sent: Monday, October 01, 2007 1:46 PM 
          Subject: [bali] Mahabaratha 

          Ok Suksme Mbak Vieb atas info-nya..kejahatan yang dibuat oleh manusia 
karena ignorance (ketidaktahuan) bahwa sang roh (atma) berasal dari sang 
Maha-Roh (Maha-Purusa) yang sama .dan bahwa sang roh tidak bisa membunuh dan 
tidak bisa dibunuh, abadi, selalu sama (selalu muda), bukan laki-laki bukan 
perempuan (ardanareswaria), tidak terfikirkan (acintya), tidak dilahirkan 
(awyakta) dsb.sudahlah jadi terlalu berat diskusi-nya he-he-he...:)) 

          Ok nanti kalau sempat saya akan baca Info Bali-post ini. 

          Semoga damai selalu..suksme 







          
------------------------------------------------------------------------------ 
          Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web 
links. 



          pi = 3.14 
          love just like 'pi'...it's natural, irrational and very important -- 
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id 
Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : Berlangganan : Henti Langgan :  



  pi = 3.14 
  love just like 'pi'...it's natural, irrational and very important -- Milis 
Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : 
http://bali.lp3b.or.id Moderators : Berlangganan : Henti Langgan : 

Kirim email ke