Khusus untuk P Ngurah Ambara : Saya dedikasikan kepada P Ngurah Ambara pendapat pendapat rendah hati dari teman dekat saya. Semoga dapat di terima dengan baik.
"Saya senang dengan foward yang vieb kirim mengenai pendapat pendapat mahabrata. Nah, tiang niki anak bali, yang belajar pelahan-lahan mengenai lontar-lontar mahabrata ala nusantara. Kenapa saya bilang demikian karena dalam tradisi sastra kakawin di nusantara, penulisan Arjuna Wiwaha, sebagai contoh adalah karya Mpu Kanwa sebagai puja sastra kepada Airlangga, kemudian Bratayudha itu ditulis di zaman Jayabaya oleh Mpu Sedah dan Panuluh. Begitupun Adi Parwanya Jawa-Bali, yang ada slokanya dalam bahasa sangsekerta. Ini era mataram Hindu antara abad 9-12 masehi. Bandingkan dengan sejarah perjalanan hindu. Dimana maharsi Byasa mewariskan mahabrata itu sebelum pra masehi-an. Jarak antara satu penulisan ke penulisan lain, di berbagai wilayah dunia berbeda-beda, dan dengan motivasi berbeda-beda. Karena itu mahabrata makin dipercaya dia kisah suci, karena terus dibahas. Dan kesuciannya adalah pada daya kharismanya yang membuat semua pembaca dari berbagai keyakinan merasa terwakili oleh berbagai karakter yang ada dalam mahabrata. (he he). Dalam tradisi Hindu, memang Mahabrata ditempatkan sebagai itihasa, cerita-cerita suci, namun harus diingat sampai kini baik di india asal kisah brata warsa ini sampaipun sekarang selalu ada tafsir mengenai kisah, karakter dan terakhir saya mendengar sendiri bagaimana Pak Agastya dan Sashi Tahoor di Ubud writers menjelaskan bagaimana tafsir terhadap mahabrata terus terjadi. Karena karya besar itu memang selalu konteks dan hidup apabila dibaca dengan tidak sebatas leksikal,tidak sebatas teks, namun harus menjawab kebutuhan zaman. Nah,tiang niki anak kari melajah, bin belog sajan-sajan, itu sebabnya tiang terus belajar tentang uger-uger dadi manusia. Kenken sebenehna. Yan dadi anak sugih, dadi anak mepangkat, jeg jelas gati uger-ugerna, yan dadi manusia, jeg keweh. Itu sebabnya, penting selalu dengan rendah hati, jujur, membuka diri, tidak dengan satu referensi. Ada baiknya membaca N.Pal, dia juga nulis mahabrata, sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, juga banyak penulis mahabrata lainnya. termasuk komik kosasih. Semua itu ranting-ranting yang sesungguhnya berakar dari hasrat puja sastra, kekaguman kepada karya yang terus menerus hidup, tanpa diiklankan loh! nah, kalau ada yang fanatik, itu jadi lucu, sebab kalau membaca mendalam mahabrata, maka yang kita dapatkan adalah bahwa pengetahuan, keberanian belajar dan bertukar pikiranlah yang diminta sebagai tanda pemeluk teguh kepada sang penulis mahabarata............keto kone, vieb. He he" Salam damai, Asana Viebeke L
