P Ngurah Ambara... ini terusannya..... terus vieb...
kalau mau tekun sedikit, harus juga disertai membaca historikal perjalanan penulisan mahabrata, dan dalam sejarah resmi Hindu yang sangat tua itu, bhagawad ghita itu belakangan memasuki kisah mahabrata. karena wangsa brata (keluarga kuru) keturunan byasa itu memang beda pulau dgn bangsa yadu (yadava) sang Kresna. Dan secara arkeologi misalnya, harus mempelajari juga bahwa rentang wilayah kejadian mahabrata itu dari dari daerah afghan sampai india, terus harus diingat dalam cerita itu, dunia belumlah dibelah-belah oleh samudera luas, konden kene global warming. Nah, berbagai bangsa dengan nama-nama sangsekerta dituliskan di sana dari yunani sampai bangsa cina juga terlibat dalam perang kurusektra itu. Tafsir asyiknya, perang itu dalam diri, perang itu antara diri dengan diri. He he...... semua orang merasa memiliki, karena itu kalau dalam tradisi nusantara, dari adiparwa ke sarasmuscaya, mare ke bhagawaghita, ane ken ento? soalne di india anak liu sajan bersi bhagawaghitana. He he, kresna saja banyak loh....... kalau saya sih, anak melajah, harus terus adeng-adeng gati yen lakar meurusan ajak sastra, ten dadi jeg menunjukan salah. Yen itungang, kita berhutang budi, kepada para pengawi tua....dan pertanyaan saya, dimana mereka ditempatkan sang pewarta kebaikan ini? anak kocap, gumi johin.....gunung ngenah elah, vieb. Amun paekin, keweh dadi pendaki gunung. begitu analognya kalau memakai mahabrata perdebatan. sebab memang mahakarya, dia tidak memerlukan pembelaan, anak tetap top sajan-sajan. pilihanku, belajar mengapresiasi untuk kepentingan pengetahuan dan kemanusiaan. P Ngurah Ambara.... dumogi rahayu.... Asana Viebeke L......
