Pak Ambara yang baik,

Di Bandung* tidak ada *yang begitu koq.Ini ingin saya sampaikan lebih rinci ya, agar jangan salah informasi :

Saya bisa mewakili kawan kawan di Bandung, dan hal yang tertulis unutk Jawa Barat, khususnya Bandung, cara penyajian tulisan ini tampaknya hanya kajian pribadi dan subyektif sekali bahwa Pura di Bandung berada di komplek kesatian saja. Saya ingin luruskan bahwa membangun Pura itu tidak mudah, mahal dan bertahap. Baik harga tanah maupun seluruh isi pura spt padma,anglurah,pewedaan,cadi bentar,gelung,pewaregan,bale gong dan yang lainnya.Apalagi dengan proses upacaranya yang secara rutin dan terusmenerus harus kita kerjakan dengan hikmat (piodalan), tanpa pamrih sebagai yadnya dan inilah swadarma masing masing pengempon. Apalagi tanggung jawab untuk pendidikan agama Hindu anak anak kita dimana sekarang sudah lengkap dipenjuru Bandung ini.

Pak Ambara yang baik,
Justru kita sudah memasuki usia wanaprasta ini menjadi eling lan waspodo, dan di Bandung sendiri ada suatu ikrar kebersamaan antar umat beragama, yg digalang oleh pemda prop jabar, dan parisadha kita turut aktif menggalang ini. Kami ingin mengundang bapak ke bdg, kami memiliki WASUDHANA ( Warga Suka Duka Dharma Kencana) yang bertugas untuk membantu rekan sedarma bilamana ada halangan , sede misalnya, dan ini sampai upacara pengabenan, kita laksanakan lengkap di Bandung dan nganyut di pura segara Cilincing. Kami punya juga Dewan pengurus Banjar, yang setiap tiga bulan sekali kami berkonsulidasi untuk kepentingan umat dan kegiatan upacara guna mendekatkan diri kepada sang pencipta. Setiap pura juga punya kegiatan kesenian bali yg dipentaskan setiap odalan dan pesertanya anak2 diutamakan sehingga budaya tari bali salah satunya anak2 kita bisa pentaskan.

Pak Ambara, singkat kata, saya *berkeberatan *dengan tulisan anda.

Salam

Ketut Teja

Ambara, Gede Ngurah (KPC) wrote:

Pak Chepy dan semeton yang lain...

Penindasan yang saya maksud saat ini lebih ke monopoli Informasi, pembiasaan informasi, menjelek-jelekkan agama Hindu baik di media massa maupun di kotbah-kotbah di Mesjid (terutama dimesjid) maupun di Gereja, dan ini memang lebih sering terjadi di luar Bali...Sinetron-sinetron yang sering di putar di Indonesia dalam banyak kejadian sering sekali melecehkan umat Hindu, misalnya tokoh Ulama selalu menang terhadap tokoh jahat yang digambarkan biasanya berupa dukun dengan pakaian tertentu biasanya selalu dikaitkan menggunakan ritual seperti Hindu, ada hio kemenyan dll, bahkan di latar belakang sering terlihat ada patung maupun tapel/topeng serupa topeng rangda di Bali..singkat cerita Ulama/tokoh Islam selalu menang terhadap lawan-lawan kleniknya apakah yang kejawen ataupun seolah-seolah tokoh-tokoh jahat ini orang Hindu (berbudaya Hindu)...umat Hindu pada diam saja, beberapa sempat protes, tapi setelah itu sinetron semacam ini terus saja jalan...

Dan selama bulan Ramadan satu bulan penuh televisi dimonopoli oleh Siar Islam dan beberapa kali melukai hati umat lain..misalnya saat covering tentang Islam Pegayaman di Bali, mereka (penyiar) menyatakan Sinar Suci Allah ternyata sampai juga di Bali di sebuah desa...dengan kata lain desa-desa lain selain pegayaman tidak atau belum mendapat Hidayah Tuhan (ALLAH)...ini maksudnya apa?? Terjemahan bebasnya selain pegayaman sisa dari Bali yang lain adalah KAFIR dan semuanya masuk neraka.....

Di daerah Klaten Jawa tengah, umat Hindu Jawa selama puluhan tahun dan sampai saat ini sering sekali mendapat intimidasi karena semata-mata mereka Hindu dan bukan Islam, dari pengurusan KTP yang di persulit, sengaja di salah-salahkan, dan pengurusan ijin-ijin yang lain, demikian juga di sejumlah desa-desa kantong-kantong umat Hindu Jawa, seperti misalnya di Jatim...

Pura Krembung di Sidoarjo, 6 km dari pusat Lumpur, dalam masa pembangunannya sering dilempar batu, mau dirusak oleh orang-orang muslim sekitarnya, tapi atas perlindungan Hyang Widhi mereka tidak berhasil merusak pura ini, bahkan batu-batu ini terlempar kembali ke penyerangnya oleh tangan-tangan gaib yang tidak terlihat..

Di Jawa Barat, khususnya Bandung dan sekitarnya sangat susah sekali membangun pura di daerah sipil, satu orang saja (biasanya ulama) tidak setuju maka pura tidak boleh dibangun. Akibatnya apa, di Bandung sekitarnya Pura hanya bisa berdiri di daerah militer. Pura Cimahi, Pura Ujung Berung, Margahayu Sulaeman semuanya berdiri di daerah militer..tapi kalau di Bali gampang sekali orang membangun mesjid ataupun gereja..karena orang Bali (Hindu) sangat polos tidak neko-neko....

Tahun 65-66, pada masa pembantaian PKI, sejumlah orang-orang Ansor (NU) dengan mendompleng militer masuk ke Bali terutama di daerah Jembrana, mereka orang-orang Islam ini dengan senang hati ikut membantai ribuan orang-orang Bali PKI, karena menganggap orang-orang Bali layak dibunuh karena kafir.(tidak beragama)..saya mempunyai saksi Hidup yang bercerita pada saya saat masih mahasiswa di bandung, namanya Pak Nyoman Sirna Mph. Saat itu kebetulan ia berusaha melindungi beberapa orang yang dikejar-kejar orang-orang militer dan Ansor ini ..200 ribu orang yang tidak berdosa, dan sama sekali tidak tahu tentang politik di bantai di Bali...cerita gelap ini tidak pernah di buka karena sangat melukai dan merupakan trauma mendalam bagi rakyat bali, dan juga di luar bali terutama di Jawa Timur (korban terbesar setelah bali)..sampai sekarang tidak ada pernyataan minta maaf atas kejadian ini baik oleh orang-orang Militer maupun Ansor...dan seperti biasa pemerintah diam saja (mungkin pemerintah tidak mau minta maaf, takut harus memberikan santunan)...padahal permintaan maaf dan rekonsialisi nasional ini sangat penting, terutama bagi para korban/keluarga yang ditinggalkan...kami orang-orang Bali tidak dendam, tapi sedih sangat sedih sekali atas kejadian ini...

Kristen sama saja, Cuma jarang menggunakan kekerasan phisik, penindasan yang dilakukan mereka kepada orang-orang Hindu lebih halus, yang sama seperti Islam, menganggap orang-orang Hindu belum mendapatkan Kebenaran dari Tuhan Yesus, sehingga perlu di-konversi (dirubah agamanya menjadi Kristen)...

Sebagian orang bali mungkin sudah tahu : 1 desa di Dalung Tabanan setengahnya dikonversi menjadi Kristen dengan cara --cara halus dan licik..dibangun gereja dengan ornament Bali, bahkan ritual serupa dengan ritual adat Hindu Bali, menggunakan banten dsb..Cuma rohnya dicabut, doa-doa menggunakan bahasa Bali, tapi Sang Hyang Widhi diubah namanya menjadi Sang Hyang Yesus..benar-benar cara-cara yang halus dan licik untuk mengkonversi orang-orang yang sudah beragama....akibatnya Bale banjar dibagi dua...setengah untuk yang sudah pindah ke Kristen, setengahnya masih Hindu. Beberapa donatur Hindu baru-baru ini memberikan sumbangan buat membangun kembali pura kecil, yang sederhana yang ter-abaikan di bagian desa yang masih hindu di Dalung...sungguh kasihan dan merana kehidupan sisa warga Hindu yang masih bertahan di desa ini.

Toko buku Gramedia, hanya menjual buku-buku Agama Kristen dan Islam!..kecuali di Bali, diluar Bali buku-buku Hindu di Gramedia jarang sekali bahkan tidak ada...

Oke lah Gramedia memang grup kepunyaan Kristen, tapi sangat mencolok sekali sama sekali tidak membantu saudaranya yang minoritas (Hindu), menurut saya ini disengaja, mereka tidak mau Hindu berkembang. Hanya di Bali mereka terpaksa memajangnya takut di-protes....

Di daerah saya ada sejumlah kejadian provokas/siar misi Kristen ke kantong umat Hindu asal transmigrant dari Bali (daerah Sangkulirang, Kutai Timur). Seorang pendeta Kristen meng-iming-imingi warga Hindu dengan memberikan kredit motor, dengan tujuan agar suatu saat mereka bisa pindah/beralih ke Kristen...

Paus di Vatikan secara tegas menyatakan beberapa tahun lalu untuk mengkristen-kan belahan India (yang belum Kristen) dan Asia sisanya. Memberikan Sinar Cahaya Suci Allah menerangi Asia, untuk segera mewujudkan Sorga di Bumi. Dalam pandangan Gereja Katolik surga di Bumi baru muncul setelah semua manusia menjadi pengikut Yesus...pantas saja Islam dan Kristen selalu bentrok dan saling membunuh di Indonesia dan belahan lain di bumi. Kerusuhan Poso, Kerusuhan Ambon..ini karena kedua agama ini (Kristen dan Islam) saling berebut pengaruh dalam siar agama masing-masing...saya punya teman Kristen di tempat kerja, waktu saya tanya, kenapa ya di kota Sangata yang kecil ini banyak sekali ada Gereja (tidak kurang dari 20 gereja)..jawaban dia kalem saja: "Bli itu berarti sorga di bumi sudah dekat"...

Saya cuma bisa terdiam....

Agama Hindu memang bukan agama missi tidak seperti Islam maupun Kristen, tapi dengan demikian bukan berarti seenaknya boleh di-konversi baik secara halus maupun dengan kekerasan. Sayangnya Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika Cuma sekedar slogan. Pasal 29 UUD 45, Cuma mengatur kebebasan beragama dan menjalankan ibadah agama, tapi tidak ada perlindungan terhadap kaum minoritas. Seharusnya ada undang-undang yang melarang mengkonversi orang-orang yang sudah beragama yang diakui resmi di Indonesia (saat ini ada 6 : masuknya Konfucu kembali) ....

Mudah-mudahan penyampaian fakta-fakta ini tidak membuat orang-orang Islam dan Kristen menjadi tersinggung, karena kami umat Hindu adalah korban, yang pantas marah, sedih atau tersinggung adalah kami umat Hindu bukan kalian orang-orang Kristen maupun Islam...tapi kami umat Hindu tidak dendam, Cuma sedih, berharap agar penindasan yang selama ini terjadi dan terus terjadi bisa berkurang..paling tidak biarkan kami yang jumlahnya sangat sedikit ini untuk bertahan, tolong jangan ubah kami menjadi Islam ataupun Kristen...terimakasih...

Note : Ini hanya garis besar, kalau semua saya ceritakan akan menjadi 1 buku tebal.....

Gede Ngurah Ambara

-----Original Message-----
*From:* [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On Behalf Of *Chepy R.Nasution
*Sent:* Friday, October 05, 2007 7:31 PM
*To:* bali@lp3b.or.id
*Subject:* [bali] Re: bukti Ilmiah Mahabaratha

Yth Pak Ngurah Ambara,

Salam kenal dulu Pak, Nama saya Chepy Nasution, saya selalu mengaku sebagai orang Sumber Kima walaupun saya tidak lahir disana, saya mengikuti Milis ini semenjak beberapa tahun yang lalu, dan saya merasa comfortable mengikuti Milis LP3B ini, kalau saya di Buleleng saya telah terbiasa berbaur dengan masyarakat disana, bahkan mereka bagai saudara sekampung bagi saya. Tidak pernah saya menghadapi perbedaan masalah agama disana. Seperti yang saya sampaikan diatas bahwa saya selalu mengaku orang Sumber Kima itu saya buktikan dengan perbuatan dimana saya dengan bantuan Masyarakat berhasli mengadakan kegiatan Aero Sport Show di Lapangan Terbang Let.Kol Wisnu pada tahun 2001 dan tahun 2006 yang lalu, bahkan saya dan teman teman berhasil menjadikan desa Sumber Kima dinobatkan Menjadi Desa Dirgantara karena Desa tersebut telah berhasil mengadakan kegiatan Aero Sport Show. Bahkan, di Jully 2008 yang akan datang kami akan mengadakan lagi Bali Buleleng Fly-In 2008 yang mudah2an jauh kebih besar dari yang lalu. Saat ini lebih dari 30 Pesawat terbang dari Thailand telah bersedia berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Semua itu saya lakukan deng ikhlas untuk dapat membantu saudara saudara saya di Buleleng dengan pengetahuan yang saya miliki.

Telah lebih dari tujuh tahun saya dekat dengan Saudara2 saya di Bali tidak pernah saya merasakan adanya perasaan ataupun ungkapan saudara saudara saya di Bali bahwa agama yang saya anut telah menindas umat Hindu, apakah mereka tidak tahu?, nah untuk itu saya meminta kepada Pak Ngurah Ambara untuk dapat menjelaskan pada saya penindasan macam apa dan kezoliman apa yang dilakukan oleh umat Islam kepada umat Hindu?.hal ini "terpaksa" saya tanyakan kepada Bapak karena saya membaca beberapa diskusi Bapak yang selalu akhirnya menyatakan pernah ada penindasan yang dilakukan oleh umat lain (Islam dan Kristen), dan inilah yang menggelitik saya untuk menanyakan kepada Bapak.

Kalau boleh saya usulkan Pak mungkin sudah bukan saatnya lagi kita bangsa Indonesia mendebatkan masalah golongan maupun Agama, karena saat ini kita sebaiknya membicarakan bagaimana kita membangun Negara ini agar tidak menambah keterpurukan bangsa kita, lebih khusus lagi membangun Bali Utara.

Mohon maaf jika ungkapan saya kurang dapat diterima oleh Bapak.

Wasallam,

Chepy R.Nasution

------------------------------------------------------------------------

*From:* [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On Behalf Of *Ambara, Gede Ngurah (KPC)
*Sent:* 05 Oktober 2007 15:40
*To:* bali@lp3b.or.id
*Subject:* [bali] Re: bukti Ilmiah Mahabaratha

Agnostik memang sebuah pilihan, menyakiti atau tidak menyakiti orang lain itu bukan karena mereka beragama atau tidak beragama, agama tidak terkait dengan itu...

Apakah Mbak Asana menilai selama ini pembicaraan saya telah menyakiti Mbak Asana? Kalau ya bagian yang mana? Dan kalau itu benar saya minta maaf, selama ini saya berkata dengan fakta, bahwa uma Hindu sering ditindas oleh umat lain (Islam dan Kristen), dan saya mengungkapkan fakta itu. Pertanyaannya mana yang lebih menyakitkan, saya yang mengungkapkan fakta ini ataukah orang-orang yang melakukan penindasan terhadap umat Hindu?

-----

Kirim email ke