Terimakasih Pak Teja, mungkin sekarang sudah berubah, tapi waktu saya
ada di Bandung saya tahu persis, sebuah pura di Jawa barat (kalau tidak
salah di Cianjur?) di daerah sipil, tidak jadi dibangun, hanya karena
karena ada 1 ulama protest. Kenyataan Pura-pura di Bandung hanya di
daerah kesatian saja, bukan pendapat saya, tapi ini adalah fakta. Karena
pada masa itu susah sekali mendapatkan ijin dari warga sekitar. Silahkan
bapak bertanya pada tokoh-tokoh senior di bandung seperti Pak Esser,
mantan Wasudana di Bandung, bisa juga bertanya ke Pak Agung Murdana, di
Taman Kopo Indah...Saya dahulu sebagai aktifis Peradah dan pernah
menjadi ketua Asrama Ciung, tahu persis tentang kondisi dan situasi
tertekannya umat Hindu di Bandung...

 

Para aktifis Mesjid Salman ITB sebagai contoh beberapa kali hendak
mengganti lambang ITB : Ganesha, mereka protes kenapa bisa Dewa Hindu
menjadi Lambang Institute paling prestius di negeri ini? Gerakan mereka
tidak berhasil sampai sekarang, karena banyak tokoh-tokoh ITB yang
non-Hindu justru menentang upaya menganti lambang ITB. Lambang Ganesha
dipilih dahulu pada tahun 1920 saat mana Ir.Sukarno kuliah di kampus ITB
ini. Jadi ini adalah sejarah pendirian, yang kalau diubah akan
menghilangkan makna kesejarahannya...

 

Suksme

GNA 

 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Ketut Tejawibawa
Sent: Monday, October 08, 2007 10:52 AM
To: bali@lp3b.or.id
Subject: [bali] Re: penindasan terhadap umat Hindu

 

Pak Ambara yang baik,

Di Bandung tidak ada yang begitu koq.Ini ingin saya sampaikan lebih
rinci ya, agar jangan salah informasi :

Saya bisa mewakili kawan kawan di Bandung, dan hal yang tertulis unutk
Jawa Barat, khususnya Bandung, cara penyajian tulisan ini tampaknya
hanya kajian pribadi dan subyektif sekali bahwa Pura di Bandung berada
di komplek kesatian saja.
Saya ingin luruskan bahwa membangun Pura itu tidak mudah, mahal dan
bertahap. Baik harga tanah maupun seluruh isi pura spt
padma,anglurah,pewedaan,cadi bentar,gelung,pewaregan,bale gong dan yang
lainnya.Apalagi dengan proses upacaranya yang secara rutin dan
terusmenerus harus kita kerjakan dengan hikmat (piodalan), tanpa pamrih
sebagai yadnya dan inilah swadarma masing masing pengempon. Apalagi
tanggung jawab untuk pendidikan agama Hindu anak anak kita dimana
sekarang sudah lengkap dipenjuru Bandung ini.

Pak Ambara yang baik,
Justru kita sudah memasuki usia wanaprasta ini menjadi eling lan
waspodo, dan di Bandung sendiri ada suatu ikrar kebersamaan antar umat
beragama, yg digalang oleh pemda prop jabar, dan parisadha kita turut
aktif menggalang ini. Kami ingin mengundang bapak ke bdg, kami memiliki
WASUDHANA ( Warga Suka Duka Dharma Kencana) yang bertugas untuk membantu
rekan sedarma bilamana ada halangan , sede misalnya, dan ini sampai
upacara pengabenan, kita laksanakan lengkap di Bandung dan nganyut di
pura segara Cilincing. Kami punya juga Dewan pengurus Banjar, yang
setiap tiga bulan sekali kami berkonsulidasi untuk kepentingan umat dan
kegiatan upacara guna mendekatkan diri kepada sang pencipta. Setiap pura
juga punya kegiatan kesenian bali yg dipentaskan setiap odalan dan
pesertanya anak2 diutamakan sehingga budaya tari bali salah satunya
anak2 kita bisa pentaskan.

Pak Ambara, singkat kata, saya berkeberatan dengan tulisan anda.

Salam

Ketut Teja

Ambara, Gede Ngurah (KPC) wrote: 

Pak Chepy dan semeton yang lain...

 

Penindasan yang saya maksud saat ini lebih ke monopoli Informasi,
pembiasaan informasi, menjelek-jelekkan agama Hindu baik di media massa
maupun di kotbah-kotbah di Mesjid (terutama dimesjid) maupun di Gereja,
dan ini memang lebih sering terjadi di luar Bali...Sinetron-sinetron
yang sering di putar di Indonesia dalam banyak kejadian sering sekali
melecehkan umat Hindu, misalnya tokoh Ulama selalu menang terhadap tokoh
jahat yang digambarkan biasanya berupa dukun dengan pakaian tertentu
biasanya selalu dikaitkan menggunakan ritual seperti Hindu, ada hio
kemenyan dll, bahkan di latar belakang sering terlihat ada patung maupun
tapel/topeng serupa topeng rangda di Bali..singkat cerita Ulama/tokoh
Islam selalu menang terhadap lawan-lawan kleniknya apakah yang kejawen
ataupun seolah-seolah tokoh-tokoh jahat ini orang Hindu (berbudaya
Hindu)...umat Hindu pada diam saja, beberapa sempat protes, tapi setelah
itu sinetron semacam ini terus saja jalan...

Dan selama bulan Ramadan satu bulan penuh televisi dimonopoli oleh Siar
Islam dan beberapa kali melukai hati umat lain..misalnya saat covering
tentang Islam Pegayaman di Bali, mereka (penyiar) menyatakan Sinar Suci
Allah ternyata sampai juga di Bali di sebuah desa...dengan kata lain
desa-desa lain selain pegayaman tidak atau belum mendapat Hidayah Tuhan
(ALLAH)...ini maksudnya apa?? Terjemahan bebasnya selain pegayaman sisa
dari Bali yang lain adalah KAFIR dan semuanya masuk neraka.....

 

Di daerah Klaten Jawa tengah, umat Hindu Jawa selama puluhan tahun dan
sampai saat ini sering sekali mendapat intimidasi karena semata-mata
mereka Hindu dan bukan Islam, dari pengurusan KTP yang di persulit,
sengaja di salah-salahkan, dan pengurusan ijin-ijin yang lain, demikian
juga di sejumlah desa-desa kantong-kantong umat Hindu Jawa, seperti
misalnya di Jatim...

 

Pura Krembung di Sidoarjo, 6 km dari pusat Lumpur, dalam masa
pembangunannya sering dilempar batu, mau dirusak oleh orang-orang muslim
sekitarnya, tapi atas perlindungan Hyang Widhi mereka tidak berhasil
merusak pura ini, bahkan batu-batu ini terlempar kembali ke penyerangnya
oleh tangan-tangan gaib yang tidak terlihat..

 

Di Jawa Barat, khususnya Bandung dan sekitarnya sangat susah sekali
membangun pura di daerah sipil, satu orang saja (biasanya ulama) tidak
setuju maka pura tidak boleh dibangun. Akibatnya apa, di Bandung
sekitarnya Pura hanya bisa berdiri di daerah militer. Pura Cimahi, Pura
Ujung Berung, Margahayu Sulaeman semuanya berdiri di daerah
militer..tapi kalau di Bali gampang sekali orang membangun mesjid
ataupun gereja..karena orang Bali (Hindu) sangat polos tidak
neko-neko....

 

Tahun 65-66, pada masa pembantaian PKI, sejumlah orang-orang Ansor (NU)
dengan mendompleng militer masuk ke Bali terutama di daerah Jembrana,
mereka orang-orang Islam ini dengan senang hati ikut membantai ribuan
orang-orang Bali PKI, karena menganggap orang-orang Bali layak dibunuh
karena kafir.(tidak beragama)..saya mempunyai saksi Hidup yang bercerita
pada saya saat masih mahasiswa di bandung, namanya Pak Nyoman Sirna Mph.
Saat itu kebetulan ia berusaha melindungi beberapa orang yang
dikejar-kejar orang-orang militer dan Ansor ini ..200 ribu orang yang
tidak berdosa, dan sama sekali tidak tahu tentang politik di bantai di
Bali...cerita gelap ini tidak pernah di buka karena sangat melukai dan
merupakan trauma mendalam bagi rakyat bali, dan juga di luar bali
terutama di Jawa Timur (korban terbesar setelah bali)..sampai sekarang
tidak ada pernyataan minta maaf atas kejadian ini baik oleh orang-orang
Militer maupun Ansor...dan seperti biasa pemerintah diam saja (mungkin
pemerintah tidak mau minta maaf, takut harus memberikan
santunan)...padahal permintaan maaf dan rekonsialisi nasional ini sangat
penting, terutama bagi para korban/keluarga yang ditinggalkan...kami
orang-orang Bali tidak dendam, tapi sedih sangat sedih sekali atas
kejadian ini...

 

Kristen sama saja, Cuma jarang menggunakan kekerasan phisik, penindasan
yang dilakukan mereka kepada orang-orang Hindu lebih halus, yang sama
seperti Islam, menganggap orang-orang Hindu belum mendapatkan Kebenaran
dari Tuhan Yesus, sehingga perlu di-konversi (dirubah agamanya menjadi
Kristen)...

Sebagian orang bali mungkin sudah tahu : 1 desa di Dalung Tabanan
setengahnya dikonversi menjadi Kristen dengan cara -cara halus dan
licik..dibangun gereja dengan ornament Bali, bahkan ritual serupa dengan
ritual adat Hindu Bali, menggunakan banten dsb..Cuma rohnya dicabut,
doa-doa menggunakan bahasa Bali, tapi Sang Hyang Widhi diubah namanya
menjadi Sang Hyang Yesus..benar-benar cara-cara yang halus dan licik
untuk mengkonversi orang-orang yang sudah beragama....akibatnya Bale
banjar dibagi dua...setengah untuk yang sudah pindah ke Kristen,
setengahnya masih Hindu. Beberapa donatur Hindu baru-baru ini memberikan
sumbangan buat membangun kembali pura kecil, yang sederhana yang
ter-abaikan di bagian desa yang masih hindu di Dalung...sungguh kasihan
dan merana kehidupan sisa warga Hindu yang masih bertahan di desa ini. 

 

Toko buku Gramedia, hanya menjual buku-buku Agama Kristen dan
Islam!..kecuali di Bali, diluar Bali buku-buku Hindu di Gramedia jarang
sekali bahkan tidak ada...

Oke lah Gramedia memang grup kepunyaan Kristen, tapi sangat mencolok
sekali sama sekali tidak membantu saudaranya yang minoritas (Hindu),
menurut saya ini disengaja, mereka tidak mau Hindu berkembang. Hanya di
Bali mereka terpaksa memajangnya takut di-protes....

 

Di daerah saya ada sejumlah kejadian provokas/siar misi Kristen ke
kantong umat Hindu asal transmigrant dari Bali (daerah Sangkulirang,
Kutai Timur). Seorang pendeta Kristen meng-iming-imingi warga Hindu
dengan memberikan kredit motor, dengan tujuan agar suatu saat mereka
bisa pindah/beralih ke Kristen...

 

Paus di Vatikan secara tegas menyatakan beberapa tahun lalu untuk
mengkristen-kan belahan India (yang belum Kristen) dan Asia sisanya.
Memberikan Sinar Cahaya Suci Allah menerangi Asia, untuk segera
mewujudkan Sorga di Bumi. Dalam pandangan Gereja Katolik surga di Bumi
baru muncul setelah semua manusia menjadi pengikut Yesus...pantas saja
Islam dan Kristen selalu bentrok dan saling membunuh di Indonesia dan
belahan lain di bumi. Kerusuhan Poso, Kerusuhan Ambon..ini karena kedua
agama ini (Kristen dan Islam) saling berebut pengaruh dalam siar agama
masing-masing...saya punya teman Kristen di tempat kerja, waktu saya
tanya, kenapa ya di kota Sangata yang kecil ini banyak sekali ada Gereja
(tidak kurang dari 20 gereja)..jawaban dia kalem saja: "Bli itu berarti
sorga di bumi sudah dekat"...

Saya cuma bisa terdiam....

 

Agama Hindu memang bukan agama missi tidak seperti Islam maupun Kristen,
tapi dengan demikian bukan berarti seenaknya boleh di-konversi baik
secara halus maupun dengan kekerasan. Sayangnya Pancasila dan Bhineka
Tunggal Ika Cuma sekedar slogan. Pasal 29 UUD 45, Cuma mengatur
kebebasan beragama dan menjalankan ibadah agama, tapi tidak ada
perlindungan terhadap kaum minoritas. Seharusnya ada undang-undang yang
melarang mengkonversi orang-orang yang sudah beragama yang diakui resmi
di Indonesia (saat ini ada 6 : masuknya Konfucu kembali) ....

 

Mudah-mudahan penyampaian fakta-fakta ini tidak membuat orang-orang
Islam dan Kristen menjadi tersinggung, karena kami umat Hindu adalah
korban, yang pantas marah, sedih atau tersinggung adalah kami umat Hindu
bukan kalian orang-orang Kristen maupun Islam...tapi kami umat Hindu
tidak dendam, Cuma sedih, berharap agar  penindasan yang selama ini
terjadi dan terus terjadi bisa berkurang..paling tidak biarkan kami yang
jumlahnya sangat sedikit ini untuk bertahan, tolong jangan ubah kami
menjadi Islam ataupun Kristen...terimakasih...

 

Note : Ini hanya garis besar, kalau semua saya ceritakan akan menjadi 1
buku tebal.....

 

Gede Ngurah Ambara

 

 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Chepy R.Nasution
Sent: Friday, October 05, 2007 7:31 PM
To: bali@lp3b.or.id
Subject: [bali] Re: bukti Ilmiah Mahabaratha

 

Yth Pak Ngurah Ambara,

 

Salam kenal dulu Pak, Nama saya Chepy Nasution, saya selalu mengaku
sebagai orang Sumber Kima walaupun saya tidak lahir disana, saya
mengikuti Milis ini semenjak beberapa tahun yang lalu, dan saya merasa
comfortable mengikuti Milis LP3B ini, kalau saya di Buleleng saya telah
terbiasa berbaur dengan masyarakat disana, bahkan mereka bagai saudara
sekampung bagi saya. Tidak pernah saya menghadapi perbedaan masalah
agama disana. Seperti yang saya sampaikan diatas bahwa saya selalu
mengaku orang Sumber Kima itu saya buktikan dengan perbuatan dimana saya
dengan bantuan Masyarakat berhasli mengadakan kegiatan Aero Sport Show
di Lapangan Terbang Let.Kol Wisnu pada tahun 2001 dan tahun 2006 yang
lalu, bahkan saya dan teman teman berhasil menjadikan desa Sumber Kima
dinobatkan Menjadi Desa Dirgantara karena Desa tersebut telah berhasil
mengadakan kegiatan Aero Sport Show. Bahkan, di Jully 2008 yang akan
datang kami akan mengadakan lagi Bali Buleleng Fly-In 2008 yang mudah2an
jauh kebih besar dari yang lalu. Saat ini lebih dari 30 Pesawat terbang
dari Thailand telah bersedia berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Semua itu saya lakukan deng ikhlas untuk dapat membantu saudara saudara
saya di Buleleng dengan pengetahuan yang saya miliki.

 

Telah lebih dari tujuh tahun saya dekat dengan Saudara2 saya di Bali
tidak pernah saya merasakan adanya perasaan ataupun ungkapan saudara
saudara saya di Bali bahwa agama yang saya anut telah menindas umat
Hindu, apakah mereka tidak tahu?, nah untuk itu saya meminta kepada Pak
Ngurah Ambara untuk dapat menjelaskan pada saya penindasan macam apa dan
kezoliman apa yang dilakukan oleh umat Islam kepada umat Hindu?.hal ini
"terpaksa" saya tanyakan kepada Bapak karena saya membaca beberapa
diskusi Bapak yang selalu akhirnya menyatakan pernah ada penindasan yang
dilakukan oleh umat lain (Islam dan Kristen), dan inilah yang
menggelitik saya untuk menanyakan kepada Bapak.

 

Kalau boleh saya usulkan Pak mungkin sudah bukan saatnya lagi kita
bangsa Indonesia mendebatkan masalah golongan maupun Agama, karena saat
ini kita sebaiknya membicarakan bagaimana kita membangun Negara ini agar
tidak menambah keterpurukan bangsa kita, lebih khusus lagi membangun
Bali Utara.

 

Mohon maaf jika ungkapan saya kurang dapat diterima oleh Bapak.

 

Wasallam,

Chepy R.Nasution

 

 

 

________________________________

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Ambara, Gede Ngurah (KPC)
Sent: 05 Oktober 2007 15:40
To: bali@lp3b.or.id
Subject: [bali] Re: bukti Ilmiah Mahabaratha

 

Agnostik memang sebuah pilihan, menyakiti atau tidak menyakiti orang
lain itu bukan karena mereka beragama atau tidak beragama, agama tidak
terkait dengan itu...

Apakah Mbak Asana menilai selama ini pembicaraan saya telah menyakiti
Mbak Asana? Kalau ya bagian yang mana? Dan kalau itu benar saya minta
maaf, selama ini saya berkata dengan fakta, bahwa uma Hindu sering
ditindas oleh umat lain (Islam dan Kristen), dan saya mengungkapkan
fakta itu. Pertanyaannya mana yang lebih menyakitkan, saya yang
mengungkapkan fakta ini ataukah orang-orang yang melakukan penindasan
terhadap umat Hindu? 

 

-----

Kirim email ke