Bagaimana Pak Moderator ? Apakah diskusi ini perlu dilanjutkan ? Beberapa 
temen-temen sudah sampaikan dan merasa terganggu. Saya kira moderator perlu 
ambil keputusan. Diskusi seperti ini bagusnya ada tempat tersendiri. Ada 
beberapa hal yang sudah tidak relevan saat ini (khusunya untuk komunitas di 
Bandung sekarang ini).

Untuk Pak Ketut Teja, secara khusus saya mengucapkan terima kasih dan salut 
Pak, atas segala pengabdiannya kepada umat, khusunya di Bandung Utara saat ini. 
Kemarin saya sudah terima informasi untuk Odalan tanggal 20 ini. Tetap semangat 
Pak.

Untuk Beni, kapan turun gunung Ben, ngaturang ngayah...di Hegarmanah, Ntar .ada 
Drama Cupak Grantang Lho......

Salam,
Kiwi  
  ----- Original Message ----- 
  From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 
  To: bali@lp3b.or.id 
  Sent: Monday, October 08, 2007 10:12 AM
  Subject: [bali] penindasan terhadap umat Hindu


  Terimakasih Pak Teja, mungkin sekarang sudah berubah, tapi waktu saya ada di 
Bandung saya tahu persis, sebuah pura di Jawa barat (kalau tidak salah di 
Cianjur?) di daerah sipil, tidak jadi dibangun, hanya karena  karena ada 1 
ulama protest. Kenyataan Pura-pura di Bandung hanya di daerah kesatian saja, 
bukan pendapat saya, tapi ini adalah fakta. Karena pada masa itu susah sekali 
mendapatkan ijin dari warga sekitar. Silahkan bapak bertanya pada tokoh-tokoh 
senior di bandung seperti Pak Esser, mantan Wasudana di Bandung, bisa juga 
bertanya ke Pak Agung Murdana, di Taman Kopo Indah.Saya dahulu sebagai aktifis 
Peradah dan pernah menjadi ketua Asrama Ciung, tahu persis tentang kondisi dan 
situasi tertekannya umat Hindu di Bandung.



  Para aktifis Mesjid Salman ITB sebagai contoh beberapa kali hendak mengganti 
lambang ITB : Ganesha, mereka protes kenapa bisa Dewa Hindu menjadi Lambang 
Institute paling prestius di negeri ini? Gerakan mereka tidak berhasil sampai 
sekarang, karena banyak tokoh-tokoh ITB yang non-Hindu justru menentang upaya 
menganti lambang ITB. Lambang Ganesha dipilih dahulu pada tahun 1920 saat mana 
Ir.Sukarno kuliah di kampus ITB ini. Jadi ini adalah sejarah pendirian, yang 
kalau diubah akan menghilangkan makna kesejarahannya.



  Suksme

  GNA 



  -----Original Message-----
  From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Ketut 
Tejawibawa
  Sent: Monday, October 08, 2007 10:52 AM
  To: bali@lp3b.or.id
  Subject: [bali] Re: penindasan terhadap umat Hindu



  Pak Ambara yang baik,

  Di Bandung tidak ada yang begitu koq.Ini ingin saya sampaikan lebih rinci ya, 
agar jangan salah informasi :

  Saya bisa mewakili kawan kawan di Bandung, dan hal yang tertulis unutk Jawa 
Barat, khususnya Bandung, cara penyajian tulisan ini tampaknya hanya kajian 
pribadi dan subyektif sekali bahwa Pura di Bandung berada di komplek kesatian 
saja.
  Saya ingin luruskan bahwa membangun Pura itu tidak mudah, mahal dan bertahap. 
Baik harga tanah maupun seluruh isi pura spt padma,anglurah,pewedaan,cadi 
bentar,gelung,pewaregan,bale gong dan yang lainnya.Apalagi dengan proses 
upacaranya yang secara rutin dan terusmenerus harus kita kerjakan dengan hikmat 
(piodalan), tanpa pamrih sebagai yadnya dan inilah swadarma masing masing 
pengempon. Apalagi tanggung jawab untuk pendidikan agama Hindu anak anak kita 
dimana sekarang sudah lengkap dipenjuru Bandung ini.

  Pak Ambara yang baik,
  Justru kita sudah memasuki usia wanaprasta ini menjadi eling lan waspodo, dan 
di Bandung sendiri ada suatu ikrar kebersamaan antar umat beragama, yg digalang 
oleh pemda prop jabar, dan parisadha kita turut aktif menggalang ini. Kami 
ingin mengundang bapak ke bdg, kami memiliki WASUDHANA ( Warga Suka Duka Dharma 
Kencana) yang bertugas untuk membantu rekan sedarma bilamana ada halangan , 
sede misalnya, dan ini sampai upacara pengabenan, kita laksanakan lengkap di 
Bandung dan nganyut di pura segara Cilincing. Kami punya juga Dewan pengurus 
Banjar, yang setiap tiga bulan sekali kami berkonsulidasi untuk kepentingan 
umat dan kegiatan upacara guna mendekatkan diri kepada sang pencipta. Setiap 
pura juga punya kegiatan kesenian bali yg dipentaskan setiap odalan dan 
pesertanya anak2 diutamakan sehingga budaya tari bali salah satunya anak2 kita 
bisa pentaskan.

  Pak Ambara, singkat kata, saya berkeberatan dengan tulisan anda.

  Salam

  Ketut Teja

  Ambara, Gede Ngurah (KPC) wrote: 

  Pak Chepy dan semeton yang lain.



  Penindasan yang saya maksud saat ini lebih ke monopoli Informasi, pembiasaan 
informasi, menjelek-jelekkan agama Hindu baik di media massa maupun di 
kotbah-kotbah di Mesjid (terutama dimesjid) maupun di Gereja, dan ini memang 
lebih sering terjadi di luar Bali.Sinetron-sinetron yang sering di putar di 
Indonesia dalam banyak kejadian sering sekali melecehkan umat Hindu, misalnya 
tokoh Ulama selalu menang terhadap tokoh jahat yang digambarkan biasanya berupa 
dukun dengan pakaian tertentu biasanya selalu dikaitkan menggunakan ritual 
seperti Hindu, ada hio kemenyan dll, bahkan di latar belakang sering terlihat 
ada patung maupun tapel/topeng serupa topeng rangda di Bali..singkat cerita 
Ulama/tokoh Islam selalu menang terhadap lawan-lawan kleniknya apakah yang 
kejawen ataupun seolah-seolah tokoh-tokoh jahat ini orang Hindu (berbudaya 
Hindu).umat Hindu pada diam saja, beberapa sempat protes, tapi setelah itu 
sinetron semacam ini terus saja jalan.

  Dan selama bulan Ramadan satu bulan penuh televisi dimonopoli oleh Siar Islam 
dan beberapa kali melukai hati umat lain..misalnya saat covering tentang Islam 
Pegayaman di Bali, mereka (penyiar) menyatakan Sinar Suci Allah ternyata sampai 
juga di Bali di sebuah desa.dengan kata lain desa-desa lain selain pegayaman 
tidak atau belum mendapat Hidayah Tuhan (ALLAH).ini maksudnya apa?? Terjemahan 
bebasnya selain pegayaman sisa dari Bali yang lain adalah KAFIR dan semuanya 
masuk neraka...



  Di daerah Klaten Jawa tengah, umat Hindu Jawa selama puluhan tahun dan sampai 
saat ini sering sekali mendapat intimidasi karena semata-mata mereka Hindu dan 
bukan Islam, dari pengurusan KTP yang di persulit, sengaja di salah-salahkan, 
dan pengurusan ijin-ijin yang lain, demikian juga di sejumlah desa-desa 
kantong-kantong umat Hindu Jawa, seperti misalnya di Jatim.



  Pura Krembung di Sidoarjo, 6 km dari pusat Lumpur, dalam masa pembangunannya 
sering dilempar batu, mau dirusak oleh orang-orang muslim sekitarnya, tapi atas 
perlindungan Hyang Widhi mereka tidak berhasil merusak pura ini, bahkan 
batu-batu ini terlempar kembali ke penyerangnya oleh tangan-tangan gaib yang 
tidak terlihat..



  Di Jawa Barat, khususnya Bandung dan sekitarnya sangat susah sekali membangun 
pura di daerah sipil, satu orang saja (biasanya ulama) tidak setuju maka pura 
tidak boleh dibangun. Akibatnya apa, di Bandung sekitarnya Pura hanya bisa 
berdiri di daerah militer. Pura Cimahi, Pura Ujung Berung, Margahayu Sulaeman 
semuanya berdiri di daerah militer..tapi kalau di Bali gampang sekali orang 
membangun mesjid ataupun gereja..karena orang Bali (Hindu) sangat polos tidak 
neko-neko..



  Tahun 65-66, pada masa pembantaian PKI, sejumlah orang-orang Ansor (NU) 
dengan mendompleng militer masuk ke Bali terutama di daerah Jembrana, mereka 
orang-orang Islam ini dengan senang hati ikut membantai ribuan orang-orang Bali 
PKI, karena menganggap orang-orang Bali layak dibunuh karena kafir.(tidak 
beragama)..saya mempunyai saksi Hidup yang bercerita pada saya saat masih 
mahasiswa di bandung, namanya Pak Nyoman Sirna Mph. Saat itu kebetulan ia 
berusaha melindungi beberapa orang yang dikejar-kejar orang-orang militer dan 
Ansor ini ..200 ribu orang yang tidak berdosa, dan sama sekali tidak tahu 
tentang politik di bantai di Bali.cerita gelap ini tidak pernah di buka karena 
sangat melukai dan merupakan trauma mendalam bagi rakyat bali, dan juga di luar 
bali terutama di Jawa Timur (korban terbesar setelah bali)..sampai sekarang 
tidak ada pernyataan minta maaf atas kejadian ini baik oleh orang-orang Militer 
maupun Ansor.dan seperti biasa pemerintah diam saja (mungkin pemerintah tidak 
mau minta maaf, takut harus memberikan santunan).padahal permintaan maaf dan 
rekonsialisi nasional ini sangat penting, terutama bagi para korban/keluarga 
yang ditinggalkan.kami orang-orang Bali tidak dendam, tapi sedih sangat sedih 
sekali atas kejadian ini.



  Kristen sama saja, Cuma jarang menggunakan kekerasan phisik, penindasan yang 
dilakukan mereka kepada orang-orang Hindu lebih halus, yang sama seperti Islam, 
menganggap orang-orang Hindu belum mendapatkan Kebenaran dari Tuhan Yesus, 
sehingga perlu di-konversi (dirubah agamanya menjadi Kristen).

  Sebagian orang bali mungkin sudah tahu : 1 desa di Dalung Tabanan setengahnya 
dikonversi menjadi Kristen dengan cara -cara halus dan licik..dibangun gereja 
dengan ornament Bali, bahkan ritual serupa dengan ritual adat Hindu Bali, 
menggunakan banten dsb..Cuma rohnya dicabut, doa-doa menggunakan bahasa Bali, 
tapi Sang Hyang Widhi diubah namanya menjadi Sang Hyang Yesus..benar-benar 
cara-cara yang halus dan licik untuk mengkonversi orang-orang yang sudah 
beragama..akibatnya Bale banjar dibagi dua.setengah untuk yang sudah pindah ke 
Kristen, setengahnya masih Hindu. Beberapa donatur Hindu baru-baru ini 
memberikan sumbangan buat membangun kembali pura kecil, yang sederhana yang 
ter-abaikan di bagian desa yang masih hindu di Dalung.sungguh kasihan dan 
merana kehidupan sisa warga Hindu yang masih bertahan di desa ini. 



  Toko buku Gramedia, hanya menjual buku-buku Agama Kristen dan Islam!..kecuali 
di Bali, diluar Bali buku-buku Hindu di Gramedia jarang sekali bahkan tidak ada.

  Oke lah Gramedia memang grup kepunyaan Kristen, tapi sangat mencolok sekali 
sama sekali tidak membantu saudaranya yang minoritas (Hindu), menurut saya ini 
disengaja, mereka tidak mau Hindu berkembang. Hanya di Bali mereka terpaksa 
memajangnya takut di-protes..



  Di daerah saya ada sejumlah kejadian provokas/siar misi Kristen ke kantong 
umat Hindu asal transmigrant dari Bali (daerah Sangkulirang, Kutai Timur). 
Seorang pendeta Kristen meng-iming-imingi warga Hindu dengan memberikan kredit 
motor, dengan tujuan agar suatu saat mereka bisa pindah/beralih ke Kristen.



  Paus di Vatikan secara tegas menyatakan beberapa tahun lalu untuk 
mengkristen-kan belahan India (yang belum Kristen) dan Asia sisanya. Memberikan 
Sinar Cahaya Suci Allah menerangi Asia, untuk segera mewujudkan Sorga di Bumi. 
Dalam pandangan Gereja Katolik surga di Bumi baru muncul setelah semua manusia 
menjadi pengikut Yesus.pantas saja Islam dan Kristen selalu bentrok dan saling 
membunuh di Indonesia dan belahan lain di bumi. Kerusuhan Poso, Kerusuhan 
Ambon..ini karena kedua agama ini (Kristen dan Islam) saling berebut pengaruh 
dalam siar agama masing-masing.saya punya teman Kristen di tempat kerja, waktu 
saya tanya, kenapa ya di kota Sangata yang kecil ini banyak sekali ada Gereja 
(tidak kurang dari 20 gereja)..jawaban dia kalem saja: "Bli itu berarti sorga 
di bumi sudah dekat".

  Saya cuma bisa terdiam..



  Agama Hindu memang bukan agama missi tidak seperti Islam maupun Kristen, tapi 
dengan demikian bukan berarti seenaknya boleh di-konversi baik secara halus 
maupun dengan kekerasan. Sayangnya Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika Cuma 
sekedar slogan. Pasal 29 UUD 45, Cuma mengatur kebebasan beragama dan 
menjalankan ibadah agama, tapi tidak ada perlindungan terhadap kaum minoritas. 
Seharusnya ada undang-undang yang melarang mengkonversi orang-orang yang sudah 
beragama yang diakui resmi di Indonesia (saat ini ada 6 : masuknya Konfucu 
kembali) ..



  Mudah-mudahan penyampaian fakta-fakta ini tidak membuat orang-orang Islam dan 
Kristen menjadi tersinggung, karena kami umat Hindu adalah korban, yang pantas 
marah, sedih atau tersinggung adalah kami umat Hindu bukan kalian orang-orang 
Kristen maupun Islam.tapi kami umat Hindu tidak dendam, Cuma sedih, berharap 
agar  penindasan yang selama ini terjadi dan terus terjadi bisa 
berkurang..paling tidak biarkan kami yang jumlahnya sangat sedikit ini untuk 
bertahan, tolong jangan ubah kami menjadi Islam ataupun Kristen.terimakasih.



  Note : Ini hanya garis besar, kalau semua saya ceritakan akan menjadi 1 buku 
tebal...



  Gede Ngurah Ambara





  -----Original Message-----
  From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Chepy 
R.Nasution
  Sent: Friday, October 05, 2007 7:31 PM
  To: bali@lp3b.or.id
  Subject: [bali] Re: bukti Ilmiah Mahabaratha



  Yth Pak Ngurah Ambara,



  Salam kenal dulu Pak, Nama saya Chepy Nasution, saya selalu mengaku sebagai 
orang Sumber Kima walaupun saya tidak lahir disana, saya mengikuti Milis ini 
semenjak beberapa tahun yang lalu, dan saya merasa comfortable mengikuti Milis 
LP3B ini, kalau saya di Buleleng saya telah terbiasa berbaur dengan masyarakat 
disana, bahkan mereka bagai saudara sekampung bagi saya. Tidak pernah saya 
menghadapi perbedaan masalah agama disana. Seperti yang saya sampaikan diatas 
bahwa saya selalu mengaku orang Sumber Kima itu saya buktikan dengan perbuatan 
dimana saya dengan bantuan Masyarakat berhasli mengadakan kegiatan Aero Sport 
Show di Lapangan Terbang Let.Kol Wisnu pada tahun 2001 dan tahun 2006 yang 
lalu, bahkan saya dan teman teman berhasil menjadikan desa Sumber Kima 
dinobatkan Menjadi Desa Dirgantara karena Desa tersebut telah berhasil 
mengadakan kegiatan Aero Sport Show. Bahkan, di Jully 2008 yang akan datang 
kami akan mengadakan lagi Bali Buleleng Fly-In 2008 yang mudah2an jauh kebih 
besar dari yang lalu. Saat ini lebih dari 30 Pesawat terbang dari Thailand 
telah bersedia berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Semua itu saya lakukan 
deng ikhlas untuk dapat membantu saudara saudara saya di Buleleng dengan 
pengetahuan yang saya miliki.



  Telah lebih dari tujuh tahun saya dekat dengan Saudara2 saya di Bali tidak 
pernah saya merasakan adanya perasaan ataupun ungkapan saudara saudara saya di 
Bali bahwa agama yang saya anut telah menindas umat Hindu, apakah mereka tidak 
tahu?, nah untuk itu saya meminta kepada Pak Ngurah Ambara untuk dapat 
menjelaskan pada saya penindasan macam apa dan kezoliman apa yang dilakukan 
oleh umat Islam kepada umat Hindu?.hal ini "terpaksa" saya tanyakan kepada 
Bapak karena saya membaca beberapa diskusi Bapak yang selalu akhirnya 
menyatakan pernah ada penindasan yang dilakukan oleh umat lain (Islam dan 
Kristen), dan inilah yang menggelitik saya untuk menanyakan kepada Bapak.



  Kalau boleh saya usulkan Pak mungkin sudah bukan saatnya lagi kita bangsa 
Indonesia mendebatkan masalah golongan maupun Agama, karena saat ini kita 
sebaiknya membicarakan bagaimana kita membangun Negara ini agar tidak menambah 
keterpurukan bangsa kita, lebih khusus lagi membangun Bali Utara.



  Mohon maaf jika ungkapan saya kurang dapat diterima oleh Bapak.



  Wasallam,

  Chepy R.Nasution








------------------------------------------------------------------------------

  From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Ambara, Gede 
Ngurah (KPC)
  Sent: 05 Oktober 2007 15:40
  To: bali@lp3b.or.id
  Subject: [bali] Re: bukti Ilmiah Mahabaratha



  Agnostik memang sebuah pilihan, menyakiti atau tidak menyakiti orang lain itu 
bukan karena mereka beragama atau tidak beragama, agama tidak terkait dengan 
itu.

  Apakah Mbak Asana menilai selama ini pembicaraan saya telah menyakiti Mbak 
Asana? Kalau ya bagian yang mana? Dan kalau itu benar saya minta maaf, selama 
ini saya berkata dengan fakta, bahwa uma Hindu sering ditindas oleh umat lain 
(Islam dan Kristen), dan saya mengungkapkan fakta itu. Pertanyaannya mana yang 
lebih menyakitkan, saya yang mengungkapkan fakta ini ataukah orang-orang yang 
melakukan penindasan terhadap umat Hindu? 



  -----

Kirim email ke