Pak Ngurah Ambara,

 

Betul Pak Ngurah, tentu yang dimaksudkan disini adalah Kebenaran Universal
bukan kebenaran pribadi atau kelompok atau yang lainnya.

Saya fikir hanya dengan landasan Kebenaran Universal ini kita bisa sama2
melangkah maju menuju kehidupan yang harmonis didalam heterogenitas hidup
yang ada ini.

Apapun adanya dalam  hidup ini bahwa terdapat elemen2 yang berjuang untuk
kepentingan kelompoknya mari kita terima sebagai suatu realita saja. Saya
yakin lebih banyak manusia yang memilih hidup saling hormat menghormati ,
hidup berdampingan dalam harmoni. 

Pak Ngurah mungkin ingat lagu  Imagine-nya  John Lennon ?

 

Suksme,

 

GNS

 

  _____  

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
Ambara, Gede Ngurah (KPC)
Sent: Friday, October 19, 2007 1:33 PM
To: [email protected]
Subject: [bali] Balasan: Eksistesialisme

 

Pak Nyoman dan rekan-rekan lain

 

Agama memang tidak perlu dibela, tapi Kebenaran yang dibela, saya setuju
ini, tapi tetap harus hati-hati, kebenaran menurut versi mana..

Menurut orang Islam, yang namanya Jihad, berjuang, berperang di jalan Tuhan
adalah Kebenaran menurut versi mereka..

Kebenaran inipun ternyata relative.untuk itulah dibuatkan konvensi/konsensus
baik bersifat Internasional maupun Nasional, konvensi Internasional yang
dideklarasikan oleh PBB misalnya Universal Declaration of Human Right yang
didalamnya menyangkut sejumlah kebenaran yang diakui/diratifikasi oleh
banyak negara

-          Freedom of speech

-          Freedom from Fear  dst.

Dan di Indonesia consensus kebangsaan kita telah tegas dinyatakan dengan
mengakui Pancasila sebagai dasar negara, UUD45 yang menjamin pelaksanaan hak
asasi manusia didalamnya, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai
perekat/semboyan bangsa..dan perlu disadari, pada masa sekarang ini, tidak
semua elemen bangsa masih mengakui Pancasila sebagai dasar negara ataupun
Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat bangsa.

 

Suksme

GNA 

 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
nyoman
Sent: Friday, October 19, 2007 2:14 PM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: Balasan: Eksistesialisme

 

Mbak Viebeke ,Pak Made Wiryana dan Pak Ngurah,

 

Menarik sekali artikel Atheis yang disodorkan mbak Viebeke dalam milis ini.

Saya fikir ini masih bisa dilanjutkan diskusinya karena kita bicara /
mendiskusikan antara Agama ( yg penganutnya diajarkan percaya pada Tuhan )
dgn Atheis ( yg pengikutnya tidak mempercayai keberadaan Tuhan ). Jadi bukan
mendiskusikan perbandingan Agama yang bisa menjurus SARA kalau remnya tidak
pakem.

Yang menggelitik saya adalah pertanyaan : apa guna Agama bagi perbaikan
dunia.

Dari pengalaman pribadi saya hidup dalam dunia yang heterogen ini , tuntunan
Agama yg saya anut ( Hindu ) banyak sekali memberikan tutunan agar bisa
hidup harmonis  ( sesuai tri hita karana , tat twam asi , karma phala dst.
), jadi menurut saya, kita diberi kemudahan, tinggal mengikuti tuntunan itu
saja ( untuk tahap yang paling sederhana/dasar , itupun sudah  sulit ). Jadi
pendapat saya pribadi  Agama jelas ada gunanya untuk perbaikan dunia.

Masalah  terjadinya keributan antar Agama atau keributan dalam Agama yg sama
diatas dunia ini saya fikir tidak cukup untuk dijadikan klaim bahwa Agama
itu biang keladi terjadinya keributan, karena sebenarnya massmedia kadang2
tidak adil  dalam pemberitaan sehingga sisi dimana Agama membawa kedamaian
hidup manusia sering tidak  diberitakan , mungkin karena kurang komersil.? 

Kalau kita kembali bahwa didunia ini ada yang lahir, tumbuh, dan kemudian
mati , saya fikir hal tersebut bisa diterima sebagai kehendak yang Maha
Menentukan dan akan sulit hal tersebut  kita terima kalau kita berfikir
dengan selera/keinginan kita atau malahan hal tersebut terjadi karena semua
mau hidup dengan seleranya/keinginannya sendiri-sendiri. Jadi bukan masalah
di agamanya, tapi di cara berfikirnya barangkali.

Kalau saya ditanya apakah Agama layak dibela, saya cenderung meminjam ucapan
Mahatma Gandhi katanya :saya lebih memilih " Kebenaran adalah Agama " dari
pada " Agama adalah Kebenaran " . Jadi menurut saya Kebenaran lah yang layak
kita bela.

Demikian , kalau ada yang tidak berkenan mohon dimaafkan dan diperbaiki.

 

 

Salam,

 

Gde Nyoman Swastika

 

 

 

 

  _____  

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
made wiryana
Sent: Friday, October 19, 2007 9:54 AM
To: [email protected]
Subject: [bali] Balasan: Eksistesialisme

 

Terima KAsih atas tanggapan Pak Ngurah,

Saya hanya lebih menfokuskan pada eksitensi manusia.

Dan saya juga tidak meragukan keberadaan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Malah dengan menyadari akan eksistensi manusia yang diberikan Hyang Widhi
pada kita, saya merasa yakin saya harus berjuang dengan eksistensi saya
untuk menuju kearahNya. Dan saya bersyukur dalam agama kita /kitab suci kita
tidak ada doktrin untuk melenyapkan penganut lain (setahu saya) kecuali
Adharma, barangkali karena agama hindu yang kita percaya sebagai agama
tertua saat diwahyukan belum terpengaruh/bias karena belum ada agama lain
saat itu. Namun marilah jangan diperpanjang diskusi tentang agama dalam
milis ini (nanti dimarahin pak moderator).

Kita fokus pada eksistensi manusia.

Dengan menyadari eksistensi, semoga kita menggunakan eksitensi itu untuk
menuju jalan pencerahan umat manusia yang heterogen dengan menebar kasih dan
kedamaian, bukan memanfaatkan eksistensi yang dimiliki untuk menebar
pertentangan dan teror.

Damai di hati, di dunia dan damai selalu

 

Salam

"Ambara, Gede Ngurah (KPC)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Meng-generalisasi semua agama demikian sebenarnya kurang tepat..

Dalam sejarah agama-agama dari satu rumpun (Abrahamik: Semitik: Yahudi,
Kristen, Islam) mungkin pertentangan ini memang sering terjadi 

Tapi dalam sejarah agama-agama Timur yang telah ada ribuan tahun sebelum
Agama Semitik muncul : para penganut Veda, ataupun yang tidak setuju
(menentang Veda) : seperti Buddha, Jain, termasuk Kongfucu, Tao, dsb,
pertentangan sampai berdarah-darah ini tidak pernah terjadi.

Buddha sebagai pembaharu Hindu, dimana Buddha menolak Veda,  tidak dianggap
musuh oleh umat Hindu, dalam kitab Hindu malah disebutkan Buddha adalah
salah satu dari Avatara, yaitu Avatara ke-9 (Setelah Rama dan Krisnha).

 

Sangat menyedihkan sekali melihat patung-patung Buddha yang besar-besar
(raksasa), yang merupakan warisan sejarah dunia, di-bom oleh Kelompok
Taliban..

Padahal para pengikut Buddha adalah cinta damai, dan tidak pernah
berinteraksi dengan kelompok Taliban..

Agama-agama Timur lebih introspeksi ke-dalam melalui yoga dan meditasi.

 

Sebenarnya agama-agama Semitik (Kristen, Islam, Yahudi) punya juga aliran
yang lebih menyempurnakan manusia ke-dalam batin dan bukan ekspansif dan
external ..

Misalnya para penekun Tasawuf dan Sufi dari kalangan Islam, dan juga
ordo-ordo meditative gereja tertentu yang lebih mencari pencerahan ke-dalam
jiwa..

Cuma masalahnya yang sekarang lebih menonjol adalah aspek-aspek External,
expansif dan kekerasannya..mungkin karena mass-media yang tidak seimbang,
selalu menampilkan hal-hal yang buruk/kekerasan, dan jarang sekali meliput
hal-hal tentang kebaikan, kedamaian, kasih sayang dsb.

 

Saya tidak melihat Atheistik, agnotisme dll, sebagai jawaban/alternatif
atas, kekisruhan antar umat beragama dewasa ini, di setiap agama ada ajaran
untuk proses kontemplatif, meditative, melihat kedalam batin, ke pencerahan
jiwa, dan bukan hanya sekedar aksi kekuatan, pamer, expansif, yang lebih
bersifat external.

 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
made wiryana
Sent: Friday, October 19, 2007 8:44 AM
To: [email protected]
Subject: [bali] Eksistesialisme

 

Diskusi seperti ini sangat bagus jika dimunculkan.

Diperlukan toleransi dan kejujuran intelektual tanpa bias oleh

fanatisme sempit tentang agama tertentu.

 

Ternyata filsafat eksistensialisme memang benar adanya.

Sangat lama saya berpikir hal yang sama seperti ditulis mbak vieb.

Pikiran ini timbul dengan adanya pertanyaan dalam diri saya

 

1. Jika Tuhan maha segalanya, mengapa tidak dengan ke-maha-annya menyatukan
manusia untuk tidak saling menyakiti?

2. Jika yang disebut Tuhan segala agama sama, mengapa dalam akidahnya sering
bertentangan agama satu dengan yang lainnya?

3. Jika akidah diturunkan Tuhan mengapa sejarah sering mempengaruhi akidah?

 

Begitulalah pertanyaan yang sering timbul dalam benak saya.

Akhirnya saya menemukan (menurut saya) dalam filsafat eksistensialisme,
ternyata manusia memiliki "eksistensi" dalam dirinya yang mandiri dan tidak
dipengaruhi oleh apapun selain apa yang ada dalam benaknya.

 

Jika benaknya menginginkan sesuatu dan tekad bulat untuk mencapai sesuatu
tentu dengan segala cara dijalankan untuk mencapai sesuatu itu.

 

Jika dibenaknya menginginkan kedamaian dan tidak saling menyakiti, orang
atheispun yang mungkin tidak kenal agama akan berbuat kebajikan bahkan
melebihi orang yang beragama. Begitu sebaliknya jika dibenak orang ingin
menguasai sesuatu untuk dirinya/kelompoknya, akidah apapun akan
diinjak-injak bahkan dicari pembenarannya dalam agamanya untuk mencapai
sesuatu itu.

 

Jadi Eksistensi pikiran manusialah yang menentukan apa yang terjadi dalam
kehidupannya. Ingat perang dan saling menyakiti telah terjadi sejak manusia
diciptakan, kemudian mengenal agama, sampai saat ini.

 

Yang diperlukan saat ini adalah eksistensi pikiran manusia yang saling
mengasihi, apa yang ada dalam dirimu adalah sbagian dari diriku, begitupun
apa yang ada dalam diriku sebagian adalah milikmu (kamu adalah aku, aku
adalah kamu) lupakan akidah-akidah aku adalah aku kamu adalah kamu, kamu dan
aku berbeda.

Smoga pencerahan akan datang dari segala penjuru dan menyinari semua mahluk
di dunia ini.

 

Salam

Wiryana

 

  


  _____  


Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http:/id.answers.yahoo.com/>
Answers

 

  

  _____  

Kunjungi halaman depan Yahoo!
<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http:/id.yahoo.com/>  Indonesia
yang baru!

Kirim email ke