Terimakasih Mbak Asana, sepertinya pernah saya baca tentang yang Mbak
Asana paparkan..dari buku Zen...

Masih ingat proposal yang pernah saya berikan? Sekarang ini
masing-masing kota besar pusing dengan Urbanisasi dari daerah desa
(miskin) ke daerah kota-kota besar (kaya : atau dianggap kaya)...

 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Asana Viebeke Lengkong
Sent: Sunday, October 21, 2007 10:30 PM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: Balasan: Eksistesialisme

 

P Ngurah Ambara,

 

ini sekelumit dari sahabat

 

" 

Tuhan itu...........

mesti menyejukan bukan, vie kalau tengah menyebut 'Tuhan", otomatis hati
dan tubuh terasa dilindungi. Karena itu selalu beda cara merasa-rasakan,
seperti kata orang bijak, melihat-lihat itu jauh berbeda dengan melihat.
Kalau jalan-jalan, pohon, batu, semua hal bisa terlihat, tapi sering
lupa nama pohonya, gimana dan apanya, secara umum ya melihat, merangkum
lewat mata. Tetapi bila melihat, dengan dalam, sekalipun sebatang pohon,
kita tahu, betapa tidak cukup sehari, setahun bahkan bertahun-tahun,
bahwa pohon itu ternyata punya akar,punya daun, punya
kulit..............dst sampai kita sadar, betapa kita tidak kenal pohon
dengan riwayatnya, takdir hidupnya, cara kembang biaknya. Karena itu,
jeg terasa kecil dan bodohlah ketika, menyoal tuhan, agama, itu mungkin
tak hanya melihat-lihat dan melihat. Pastilah lebih dari sekedar itu."

 

salam, 

 

vieb

        ----- Original Message ----- 

        From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  

        To: [email protected] 

        Sent: Friday, October 19, 2007 2:32 PM

        Subject: [bali] Balasan: Eksistesialisme

         

        Pak Nyoman dan rekan-rekan lain

         

        Agama memang tidak perlu dibela, tapi Kebenaran yang dibela,
saya setuju ini, tapi tetap harus hati-hati, kebenaran menurut versi
mana..

        Menurut orang Islam, yang namanya Jihad, berjuang, berperang di
jalan Tuhan adalah Kebenaran menurut versi mereka....

        Kebenaran inipun ternyata relative...untuk itulah dibuatkan
konvensi/konsensus baik bersifat Internasional maupun Nasional, konvensi
Internasional yang dideklarasikan oleh PBB misalnya Universal
Declaration of Human Right yang didalamnya menyangkut sejumlah kebenaran
yang diakui/diratifikasi oleh banyak negara

        -          Freedom of speech

        -          Freedom from Fear  dst...

        Dan di Indonesia consensus kebangsaan kita telah tegas
dinyatakan dengan mengakui Pancasila sebagai dasar negara, UUD45 yang
menjamin pelaksanaan hak asasi manusia didalamnya, serta Bhinneka
Tunggal Ika sebagai perekat/semboyan bangsa....dan perlu disadari, pada
masa sekarang ini, tidak semua elemen bangsa masih mengakui Pancasila
sebagai dasar negara ataupun Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat
bangsa...

         

        Suksme

        GNA 

         

        -----Original Message-----
        From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of nyoman
        Sent: Friday, October 19, 2007 2:14 PM
        To: [email protected]
        Subject: [bali] Re: Balasan: Eksistesialisme

         

        Mbak Viebeke ,Pak Made Wiryana dan Pak Ngurah,

         

        Menarik sekali artikel Atheis yang disodorkan mbak Viebeke dalam
milis ini.

        Saya fikir ini masih bisa dilanjutkan diskusinya karena kita
bicara / mendiskusikan antara Agama ( yg penganutnya diajarkan percaya
pada Tuhan ) dgn Atheis ( yg pengikutnya tidak mempercayai keberadaan
Tuhan ). Jadi bukan mendiskusikan perbandingan Agama yang bisa menjurus
SARA kalau remnya tidak pakem.

        Yang menggelitik saya adalah pertanyaan : apa guna Agama bagi
perbaikan dunia.

        Dari pengalaman pribadi saya hidup dalam dunia yang heterogen
ini , tuntunan Agama yg saya anut ( Hindu ) banyak sekali memberikan
tutunan agar bisa hidup harmonis  ( sesuai tri hita karana , tat twam
asi , karma phala dst. ), jadi menurut saya, kita diberi kemudahan,
tinggal mengikuti tuntunan itu saja ( untuk tahap yang paling
sederhana/dasar , itupun sudah  sulit ). Jadi pendapat saya pribadi
Agama jelas ada gunanya untuk perbaikan dunia.

        Masalah  terjadinya keributan antar Agama atau keributan dalam
Agama yg sama diatas dunia ini saya fikir tidak cukup untuk dijadikan
klaim bahwa Agama itu biang keladi terjadinya keributan, karena
sebenarnya massmedia kadang2 tidak adil  dalam pemberitaan sehingga sisi
dimana Agama membawa kedamaian hidup manusia sering tidak  diberitakan ,
mungkin karena kurang komersil...? 

        Kalau kita kembali bahwa didunia ini ada yang lahir, tumbuh, dan
kemudian mati , saya fikir hal tersebut bisa diterima sebagai kehendak
yang Maha Menentukan dan akan sulit hal tersebut  kita terima kalau kita
berfikir dengan selera/keinginan kita atau malahan hal tersebut terjadi
karena semua mau hidup dengan seleranya/keinginannya sendiri-sendiri.
Jadi bukan masalah di agamanya, tapi di cara berfikirnya barangkali.

        Kalau saya ditanya apakah Agama layak dibela, saya cenderung
meminjam ucapan Mahatma Gandhi katanya :saya lebih memilih " Kebenaran
adalah Agama " dari pada " Agama adalah Kebenaran " . Jadi menurut saya
Kebenaran lah yang layak kita bela.

        Demikian , kalau ada yang tidak berkenan mohon dimaafkan dan
diperbaiki.

         

         

        Salam,

         

        Gde Nyoman Swastika

         

         

         

         

        
________________________________


        From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of made wiryana
        Sent: Friday, October 19, 2007 9:54 AM
        To: [email protected]
        Subject: [bali] Balasan: Eksistesialisme

         

        Terima KAsih atas tanggapan Pak Ngurah,

        Saya hanya lebih menfokuskan pada eksitensi manusia.

        Dan saya juga tidak meragukan keberadaan Tuhan/Ida Sang Hyang
Widhi Wasa.

        Malah dengan menyadari akan eksistensi manusia yang diberikan
Hyang Widhi pada kita, saya merasa yakin saya harus berjuang dengan
eksistensi saya untuk menuju kearahNya. Dan saya bersyukur dalam agama
kita /kitab suci kita tidak ada doktrin untuk melenyapkan penganut lain
(setahu saya) kecuali Adharma, barangkali karena agama hindu yang kita
percaya sebagai agama tertua saat diwahyukan belum terpengaruh/bias
karena belum ada agama lain saat itu. Namun marilah jangan diperpanjang
diskusi tentang agama dalam milis ini (nanti dimarahin pak moderator).

        Kita fokus pada eksistensi manusia.

        Dengan menyadari eksistensi, semoga kita menggunakan eksitensi
itu untuk menuju jalan pencerahan umat manusia yang heterogen dengan
menebar kasih dan kedamaian, bukan memanfaatkan eksistensi yang dimiliki
untuk menebar pertentangan dan teror.

        Damai di hati, di dunia dan damai selalu

         

        Salam
        
        "Ambara, Gede Ngurah (KPC)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

                Meng-generalisasi semua agama demikian sebenarnya kurang
tepat..

                Dalam sejarah agama-agama dari satu rumpun (Abrahamik:
Semitik: Yahudi, Kristen, Islam) mungkin pertentangan ini memang sering
terjadi 

                Tapi dalam sejarah agama-agama Timur yang telah ada
ribuan tahun sebelum Agama Semitik muncul : para penganut Veda, ataupun
yang tidak setuju (menentang Veda) : seperti Buddha, Jain, termasuk
Kongfucu, Tao, dsb, pertentangan sampai berdarah-darah ini tidak pernah
terjadi...

                Buddha sebagai pembaharu Hindu, dimana Buddha menolak
Veda,  tidak dianggap musuh oleh umat Hindu, dalam kitab Hindu malah
disebutkan Buddha adalah salah satu dari Avatara, yaitu Avatara ke-9
(Setelah Rama dan Krisnha)...

                 

                Sangat menyedihkan sekali melihat patung-patung Buddha
yang besar-besar (raksasa), yang merupakan warisan sejarah dunia, di-bom
oleh Kelompok Taliban....

                Padahal para pengikut Buddha adalah cinta damai, dan
tidak pernah berinteraksi dengan kelompok Taliban....

                Agama-agama Timur lebih introspeksi ke-dalam melalui
yoga dan meditasi...

                 

                Sebenarnya agama-agama Semitik (Kristen, Islam, Yahudi)
punya juga aliran yang lebih menyempurnakan manusia ke-dalam batin dan
bukan ekspansif dan external ..

                Misalnya para penekun Tasawuf dan Sufi dari kalangan
Islam, dan juga ordo-ordo meditative gereja tertentu yang lebih mencari
pencerahan ke-dalam jiwa....

                Cuma masalahnya yang sekarang lebih menonjol adalah
aspek-aspek External, expansif dan kekerasannya..mungkin karena
mass-media yang tidak seimbang, selalu menampilkan hal-hal yang
buruk/kekerasan, dan jarang sekali meliput hal-hal tentang kebaikan,
kedamaian, kasih sayang dsb...

                 

                Saya tidak melihat Atheistik, agnotisme dll, sebagai
jawaban/alternatif atas, kekisruhan antar umat beragama dewasa ini, di
setiap agama ada ajaran untuk proses kontemplatif, meditative, melihat
kedalam batin, ke pencerahan jiwa, dan bukan hanya sekedar aksi
kekuatan, pamer, expansif, yang lebih bersifat external...

                 

                -----Original Message-----
                From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of made wiryana
                Sent: Friday, October 19, 2007 8:44 AM
                To: [email protected]
                Subject: [bali] Eksistesialisme

                 

                Diskusi seperti ini sangat bagus jika dimunculkan.

                Diperlukan toleransi dan kejujuran intelektual tanpa
bias oleh

                fanatisme sempit tentang agama tertentu.

                 

                Ternyata filsafat eksistensialisme memang benar adanya.

                Sangat lama saya berpikir hal yang sama seperti ditulis
mbak vieb.

                Pikiran ini timbul dengan adanya pertanyaan dalam diri
saya

                 

                1. Jika Tuhan maha segalanya, mengapa tidak dengan
ke-maha-annya menyatukan manusia untuk tidak saling menyakiti?

                2. Jika yang disebut Tuhan segala agama sama, mengapa
dalam akidahnya sering bertentangan agama satu dengan yang lainnya?

                3. Jika akidah diturunkan Tuhan mengapa sejarah sering
mempengaruhi akidah?

                 

                Begitulalah pertanyaan yang sering timbul dalam benak
saya.

                Akhirnya saya menemukan (menurut saya) dalam filsafat
eksistensialisme, ternyata manusia memiliki "eksistensi" dalam dirinya
yang mandiri dan tidak dipengaruhi oleh apapun selain apa yang ada dalam
benaknya.

                 

                Jika benaknya menginginkan sesuatu dan tekad bulat untuk
mencapai sesuatu tentu dengan segala cara dijalankan untuk mencapai
sesuatu itu.

                 

                Jika dibenaknya menginginkan kedamaian dan tidak saling
menyakiti, orang atheispun yang mungkin tidak kenal agama akan berbuat
kebajikan bahkan melebihi orang yang beragama. Begitu sebaliknya jika
dibenak orang ingin menguasai sesuatu untuk dirinya/kelompoknya, akidah
apapun akan diinjak-injak bahkan dicari pembenarannya dalam agamanya
untuk mencapai sesuatu itu.

                 

                Jadi Eksistensi pikiran manusialah yang menentukan apa
yang terjadi dalam kehidupannya. Ingat perang dan saling menyakiti telah
terjadi sejak manusia diciptakan, kemudian mengenal agama, sampai saat
ini.

                 

                Yang diperlukan saat ini adalah eksistensi pikiran
manusia yang saling mengasihi, apa yang ada dalam dirimu adalah sbagian
dari diriku, begitupun apa yang ada dalam diriku sebagian adalah milikmu
(kamu adalah aku, aku adalah kamu) lupakan akidah-akidah aku adalah aku
kamu adalah kamu, kamu dan aku berbeda.

                Smoga pencerahan akan datang dari segala penjuru dan
menyinari semua mahluk di dunia ini.

                 

                Salam

                Wiryana

                 

                  

                
________________________________


                Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di
bidang Anda di Yahoo! Answers
<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http:/id.answers.yahoo.com/>


         

          

        
________________________________


        Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia
<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http:/id.yahoo.com/>  yang
baru!

Kirim email ke