Terima kasih Vieb,
   
  Saya baca berulang ulang.

Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      @font-face {   font-family: Tahoma;  }  @font-face {   font-family: Times 
NewRoman;  }  @page Section1 {size: 595.45pt 841.7pt; margin: 1.0in 1.25in 
1.0in 1.25in; }  P.MsoNormal {   FONT-SIZE: 12pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; 
FONT-FAMILY: "Times New Roman"  }  LI.MsoNormal {   FONT-SIZE: 12pt; MARGIN: 
0in 0in 0pt; FONT-FAMILY: "Times New Roman"  }  DIV.MsoNormal {   FONT-SIZE: 
12pt; MARGIN: 0in 0in 0pt; FONT-FAMILY: "Times New Roman"  }  A:link {   COLOR: 
blue; TEXT-DECORATION: underline  }  SPAN.MsoHyperlink {   COLOR: blue; 
TEXT-DECORATION: underline  }  A:visited {   COLOR: blue; TEXT-DECORATION: 
underline  }  SPAN.MsoHyperlinkFollowed {   COLOR: blue; TEXT-DECORATION: 
underline  }  P {   FONT-SIZE: 12pt; MARGIN-LEFT: 0in; MARGIN-RIGHT: 0in; 
FONT-FAMILY: "Times New Roman"  }  SPAN.emailstyle18 {   COLOR: navy; 
FONT-FAMILY: Arial  }  SPAN.emailstyle19 {   COLOR: navy; FONT-FAMILY: Arial  } 
 SPAN.emailstyle20 {   COLOR: navy; FONT-FAMILY: Arial  }  SPAN.EmailStyle21 {  
 COLOR: navy; FONT-FAMILY: Arial  }  DIV.Section1 {   page: Section1  }      
Semeton milis,
   
  permasalah kemiskinan dan pemiskinan itu kan sudah lama terjadi dan prosesnya 
tidak dicegah jadi tidak heran ketika tiba tiba menjadi esar dan tak terkendali.
   
  kita semua kan punya kemampuan masing masing dan kalau itu kemudian di 
kolaborasi melalui 'partnership' yang selalu di sebut oleh Mas Tjahjo itu, kita 
semua bisa berbagi.... berbagi saja nggak usah memberi.... itu cukup untuk 
langkah ke keadilan yang kita harapkan karena kalau mereka yang miskin tidak 
bisa melihat harapan itu lagi jadi mereka hanya bisa ambil jalan pintas saja 
yang mana lah yang lebih mudah... mengemis.... mencuri... atau bunuh diri 
dengan nama harga diri....
   
  kita kita ini lo yang 'privilege' yang mungkin perlu untuk men-satu-kan upaya 
partnership itu karena sudah tidak jaman lagi untuk menyerang atau menyalahkan 
pemerintah... wong isinya pemerintah juga sama dengan kita kita ini...
   
    Maksudnya tidak lain adalah untuk 'incourage productivity' melalui 
performance management untuk dapat memperbaiki posisi sebagai masyarakat yang 
mempunyai hak.  Fokus nya lebih realistik kepada program2 yang aplikatif yang 
di dasari oleh keterbatasan sdm, kemampuan managerial pemerintah.  Perfomance 
management ini penting untuk menetapkan dan mengukur prestasi kerja seluruh 
bagian dalam organisasi atau kolaborasi yang perlu di tumbuhkan eksistensinya. 
Dengan demikian kita sanggup mengintegrasikan sasaran-sasaran kelompok (team).  
Management kinerja ini juga dapat membantu mengkomunikasikan visi dan sekaligus 
menyokong pembentukan core values dari team kelompok tadi.  Cara ini membantu 
kita untuk dapat merubah kultur dan perilaku organisasi sekaligus individu yang 
terkumpul di dalamnya.  Pendelegasian (wewenang) pun menjadi tearah, pemimpin 
bisa fokus pengembangan gerakan-gerakan positif selanjutnya.
   
  kita mungkin perlu untuk menentukan pilihan dan komitment masing masing yang 
konsisten dalam kaitannya dengan contribusi msing masing dengan kemampuan, 
kecocokan kultur; membangun kepercayaan bersama (tanpa harus saling menuduh dan 
bersyak wasangka); berproses bersama dalam strategy planning (langsung menuju 
perumusan sasarn bersama).  Kita perlu juga seorang pemimpin yang melayani 
dengan ketrampilan cukup tinggi untuk menerapkan akuntabilitas dan kompetensi, 
penentuan sasaran dan ukuran kinerja dan kontribusi disamping team yang 
inovatif yang dapat memastikan bahwa kondisi dapat dipelihara.
   
  Kita semua ada di dalam sebuah kapal yang sedang banyak lobang bocornya, 
bersama, kita coba untuk menyumbat lobang-lobang itu dan mempertimbangkan 
banyak sekali hal dan semoga kita dapat mempertimbangkan hal2 yang perlu, 
konstruktif, inovatif, konsisten dengan komitment yang tinggi.
   
  Model koperasi itu saya pikir yang paling paten untuk memulai gerakan gerakan 
bersama ini.  Bali kecil lo dan sistem politik kita belum menunjukkan 
keberpihakan kepada masyarakat, jadi siapa yang harus mulai kalau bukan kita 
kita ini?  Selangkah demi selangkah... tapi dengan komitment tinggi dan 
konsisten... jadi tidak perlu merasa waktunya kurang untuk berbagi...
   
  salam, vieb

    ----- Original Message ----- 
  From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, October 23, 2007 8:55 AM
  Subject: [bali] Balasan: Eksistesialisme
  

    Terimakasih Mbak Asana, sepertinya pernah saya baca tentang yang Mbak Asana 
paparkan..dari buku Zen…
  Masih ingat proposal yang pernah saya berikan? Sekarang ini masing-masing 
kota besar pusing dengan Urbanisasi dari daerah desa (miskin) ke daerah 
kota-kota besar (kaya : atau dianggap kaya)…
   
  -----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Asana Viebeke 
Lengkong
Sent: Sunday, October 21, 2007 10:30 PM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: Balasan: Eksistesialisme
   
    P Ngurah Ambara,

     

    ini sekelumit dari sahabat

     

    " 
    Tuhan itu...........

    mesti menyejukan bukan, vie kalau tengah menyebut 'Tuhan", otomatis hati 
dan tubuh terasa dilindungi. Karena itu selalu beda cara merasa-rasakan, 
seperti kata orang bijak, melihat-lihat itu jauh berbeda dengan melihat. Kalau 
jalan-jalan, pohon, batu, semua hal bisa terlihat, tapi sering lupa nama 
pohonya, gimana dan apanya, secara umum ya melihat, merangkum lewat mata. 
Tetapi bila melihat, dengan dalam, sekalipun sebatang pohon, kita tahu, betapa 
tidak cukup sehari, setahun bahkan bertahun-tahun, bahwa pohon itu ternyata 
punya akar,punya daun, punya kulit..............dst sampai kita sadar, betapa 
kita tidak kenal pohon dengan riwayatnya, takdir hidupnya, cara kembang 
biaknya. Karena itu, jeg terasa kecil dan bodohlah ketika, menyoal tuhan, 
agama, itu mungkin tak hanya melihat-lihat dan melihat. Pastilah lebih dari 
sekedar itu."

     

    salam, 

     

    vieb


      ----- Original Message ----- 

    From: Ambara, Gede Ngurah (KPC) 

    To: [email protected] 

    Sent: Friday, October 19, 2007 2:32 PM

    Subject: [bali] Balasan: Eksistesialisme

     

  Pak Nyoman dan rekan-rekan lain
   
  Agama memang tidak perlu dibela, tapi Kebenaran yang dibela, saya setuju ini, 
tapi tetap harus hati-hati, kebenaran menurut versi mana..
  Menurut orang Islam, yang namanya Jihad, berjuang, berperang di jalan Tuhan 
adalah Kebenaran menurut versi mereka….
  Kebenaran inipun ternyata relative…untuk itulah dibuatkan konvensi/konsensus 
baik bersifat Internasional maupun Nasional, konvensi Internasional yang 
dideklarasikan oleh PBB misalnya Universal Declaration of Human Right yang 
didalamnya menyangkut sejumlah kebenaran yang diakui/diratifikasi oleh banyak 
negara
  -          Freedom of speech
  -          Freedom from Fear  dst…
  Dan di Indonesia consensus kebangsaan kita telah tegas dinyatakan dengan 
mengakui Pancasila sebagai dasar negara, UUD45 yang menjamin pelaksanaan hak 
asasi manusia didalamnya, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat/semboyan 
bangsa….dan perlu disadari, pada masa sekarang ini, tidak semua elemen bangsa 
masih mengakui Pancasila sebagai dasar negara ataupun Bhinneka Tunggal Ika 
sebagai perekat bangsa…
   
  Suksme
  GNA 
   
  -----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of nyoman
Sent: Friday, October 19, 2007 2:14 PM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: Balasan: Eksistesialisme
   
  Mbak Viebeke ,Pak Made Wiryana dan Pak Ngurah,
   
  Menarik sekali artikel Atheis yang disodorkan mbak Viebeke dalam milis ini.
  Saya fikir ini masih bisa dilanjutkan diskusinya karena kita bicara / 
mendiskusikan antara Agama ( yg penganutnya diajarkan percaya pada Tuhan ) dgn 
Atheis ( yg pengikutnya tidak mempercayai keberadaan Tuhan ). Jadi bukan 
mendiskusikan perbandingan Agama yang bisa menjurus SARA kalau remnya tidak 
pakem.
  Yang menggelitik saya adalah pertanyaan : apa guna Agama bagi perbaikan dunia.
  Dari pengalaman pribadi saya hidup dalam dunia yang heterogen ini , tuntunan 
Agama yg saya anut ( Hindu ) banyak sekali memberikan tutunan agar bisa hidup 
harmonis  ( sesuai tri hita karana , tat twam asi , karma phala dst. ), jadi 
menurut saya, kita diberi kemudahan, tinggal mengikuti tuntunan itu saja ( 
untuk tahap yang paling sederhana/dasar , itupun sudah  sulit ). Jadi pendapat 
saya pribadi  Agama jelas ada gunanya untuk perbaikan dunia.
  Masalah  terjadinya keributan antar Agama atau keributan dalam Agama yg sama 
diatas dunia ini saya fikir tidak cukup untuk dijadikan klaim bahwa Agama itu 
biang keladi terjadinya keributan, karena sebenarnya massmedia kadang2 tidak 
adil  dalam pemberitaan sehingga sisi dimana Agama membawa kedamaian hidup 
manusia sering tidak  diberitakan , mungkin karena kurang komersil…? 
  Kalau kita kembali bahwa didunia ini ada yang lahir, tumbuh, dan kemudian 
mati , saya fikir hal tersebut bisa diterima sebagai kehendak yang Maha 
Menentukan dan akan sulit hal tersebut  kita terima kalau kita berfikir dengan 
selera/keinginan kita atau malahan hal tersebut terjadi karena semua mau hidup 
dengan seleranya/keinginannya sendiri-sendiri. Jadi bukan masalah di agamanya, 
tapi di cara berfikirnya barangkali.
  Kalau saya ditanya apakah Agama layak dibela, saya cenderung meminjam ucapan 
Mahatma Gandhi katanya :saya lebih memilih “ Kebenaran adalah Agama “ dari pada 
“ Agama adalah Kebenaran “ . Jadi menurut saya Kebenaran lah yang layak kita 
bela.
  Demikian , kalau ada yang tidak berkenan mohon dimaafkan dan diperbaiki.
   
   
  Salam,
   
  Gde Nyoman Swastika
   
   
   
   
        
---------------------------------
  

  From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of made wiryana
Sent: Friday, October 19, 2007 9:54 AM
To: [email protected]
Subject: [bali] Balasan: Eksistesialisme

   
    Terima KAsih atas tanggapan Pak Ngurah,

    Saya hanya lebih menfokuskan pada eksitensi manusia.

    Dan saya juga tidak meragukan keberadaan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

    Malah dengan menyadari akan eksistensi manusia yang diberikan Hyang Widhi 
pada kita, saya merasa yakin saya harus berjuang dengan eksistensi saya untuk 
menuju kearahNya. Dan saya bersyukur dalam agama kita /kitab suci kita tidak 
ada doktrin untuk melenyapkan penganut lain (setahu saya) kecuali Adharma, 
barangkali karena agama hindu yang kita percaya sebagai agama tertua saat 
diwahyukan belum terpengaruh/bias karena belum ada agama lain saat itu. Namun 
marilah jangan diperpanjang diskusi tentang agama dalam milis ini (nanti 
dimarahin pak moderator).

    Kita fokus pada eksistensi manusia.

    Dengan menyadari eksistensi, semoga kita menggunakan eksitensi itu untuk 
menuju jalan pencerahan umat manusia yang heterogen dengan menebar kasih dan 
kedamaian, bukan memanfaatkan eksistensi yang dimiliki untuk menebar 
pertentangan dan teror.

    Damai di hati, di dunia dan damai selalu

     

    Salam

"Ambara, Gede Ngurah (KPC)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

      Meng-generalisasi semua agama demikian sebenarnya kurang tepat..

    Dalam sejarah agama-agama dari satu rumpun (Abrahamik: Semitik: Yahudi, 
Kristen, Islam) mungkin pertentangan ini memang sering terjadi 

    Tapi dalam sejarah agama-agama Timur yang telah ada ribuan tahun sebelum 
Agama Semitik muncul : para penganut Veda, ataupun yang tidak setuju (menentang 
Veda) : seperti Buddha, Jain, termasuk Kongfucu, Tao, dsb, pertentangan sampai 
berdarah-darah ini tidak pernah terjadi…

    Buddha sebagai pembaharu Hindu, dimana Buddha menolak Veda,  tidak dianggap 
musuh oleh umat Hindu, dalam kitab Hindu malah disebutkan Buddha adalah salah 
satu dari Avatara, yaitu Avatara ke-9 (Setelah Rama dan Krisnha)…

     

    Sangat menyedihkan sekali melihat patung-patung Buddha yang besar-besar 
(raksasa), yang merupakan warisan sejarah dunia, di-bom oleh Kelompok Taliban….

    Padahal para pengikut Buddha adalah cinta damai, dan tidak pernah 
berinteraksi dengan kelompok Taliban….

    Agama-agama Timur lebih introspeksi ke-dalam melalui yoga dan meditasi…

     

    Sebenarnya agama-agama Semitik (Kristen, Islam, Yahudi) punya juga aliran 
yang lebih menyempurnakan manusia ke-dalam batin dan bukan ekspansif dan 
external ..

    Misalnya para penekun Tasawuf dan Sufi dari kalangan Islam, dan juga 
ordo-ordo meditative gereja tertentu yang lebih mencari pencerahan ke-dalam 
jiwa….

    Cuma masalahnya yang sekarang lebih menonjol adalah aspek-aspek External, 
expansif dan kekerasannya..mungkin karena mass-media yang tidak seimbang, 
selalu menampilkan hal-hal yang buruk/kekerasan, dan jarang sekali meliput 
hal-hal tentang kebaikan, kedamaian, kasih sayang dsb…

     

    Saya tidak melihat Atheistik, agnotisme dll, sebagai jawaban/alternatif 
atas, kekisruhan antar umat beragama dewasa ini, di setiap agama ada ajaran 
untuk proses kontemplatif, meditative, melihat kedalam batin, ke pencerahan 
jiwa, dan bukan hanya sekedar aksi kekuatan, pamer, expansif, yang lebih 
bersifat external…

     

    -----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of made wiryana
Sent: Friday, October 19, 2007 8:44 AM
To: [email protected]
Subject: [bali] Eksistesialisme

     

      Diskusi seperti ini sangat bagus jika dimunculkan.


      Diperlukan toleransi dan kejujuran intelektual tanpa bias oleh


      fanatisme sempit tentang agama tertentu.


       


      Ternyata filsafat eksistensialisme memang benar adanya.


      Sangat lama saya berpikir hal yang sama seperti ditulis mbak vieb.


      Pikiran ini timbul dengan adanya pertanyaan dalam diri saya


       


      1. Jika Tuhan maha segalanya, mengapa tidak dengan ke-maha-annya 
menyatukan manusia untuk tidak saling menyakiti?


      2. Jika yang disebut Tuhan segala agama sama, mengapa dalam akidahnya 
sering bertentangan agama satu dengan yang lainnya?


      3. Jika akidah diturunkan Tuhan mengapa sejarah sering mempengaruhi 
akidah?


       


      Begitulalah pertanyaan yang sering timbul dalam benak saya.


      Akhirnya saya menemukan (menurut saya) dalam filsafat eksistensialisme, 
ternyata manusia memiliki "eksistensi" dalam dirinya yang mandiri dan tidak 
dipengaruhi oleh apapun selain apa yang ada dalam benaknya.


       


      Jika benaknya menginginkan sesuatu dan tekad bulat untuk mencapai sesuatu 
tentu dengan segala cara dijalankan untuk mencapai sesuatu itu.


       


      Jika dibenaknya menginginkan kedamaian dan tidak saling menyakiti, orang 
atheispun yang mungkin tidak kenal agama akan berbuat kebajikan bahkan melebihi 
orang yang beragama. Begitu sebaliknya jika dibenak orang ingin menguasai 
sesuatu untuk dirinya/kelompoknya, akidah apapun akan diinjak-injak bahkan 
dicari pembenarannya dalam agamanya untuk mencapai sesuatu itu.


       


      Jadi Eksistensi pikiran manusialah yang menentukan apa yang terjadi dalam 
kehidupannya. Ingat perang dan saling menyakiti telah terjadi sejak manusia 
diciptakan, kemudian mengenal agama, sampai saat ini.


       


      Yang diperlukan saat ini adalah eksistensi pikiran manusia yang saling 
mengasihi, apa yang ada dalam dirimu adalah sbagian dari diriku, begitupun apa 
yang ada dalam diriku sebagian adalah milikmu (kamu adalah aku, aku adalah 
kamu) lupakan akidah-akidah aku adalah aku kamu adalah kamu, kamu dan aku 
berbeda.


      Smoga pencerahan akan datang dari segala penjuru dan menyinari semua 
mahluk di dunia ini.


       


      Salam


      Wiryana


     

      

        
---------------------------------
  


    Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

   
    
      
---------------------------------
  

  Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!



 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke