Hehehehehehehe

Kalo ada yang boleh makan babi guling, coba be guling "odah sampreg" di
sanur..

Rasa dan penyajian masih tradisional, harga kalo ngga salah Rp. 8000 sama
the botol, lokasi di sebelah hardy's sanur hehehehehe

 

Suksma,

 

eka

 

  _____  

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
ngurah beni setiawan
Sent: 05 Nopember 2007 10:44
To: [email protected]
Subject: [bali] OOT -- kuliner 10rb

 

Kalo begitu, mudah2an yang saya baca itu "yang serius". tapi kalo seandainya
pun itu "bukan yang serius", wong yang "ga serius" aja tulisannya bagus,
gimana kalo yang "serius" yah...

 

sip lah Bli Popo (tyang panggil begitu ngga pa pa kan?), nanti saya tunjukin
juga kelas kuliner 10rb. kebetulan pecinta kuliner pasar juga nih...pasar
sanglah, pasar badung sampe pasar seririt...

 

Pak De Wis, katanya dulu pernah membuat pernyataan akan menggalakkan subject
kuliner nih...hehehe...*ngomporin*

 

rahajeng,

ngurah beni setiawan

 

 

*punten akang, teteh...numpang lewat bahas kuliner sedikit
<http://mail.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/04.gif> 
 

pi = 3.14 
love just like 'pi'...it's natural, irrational and very important 

 

----- Original Message ----
From: Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, November 6, 2007 1:35:47 PM
Subject: [bali] Re: FW: Popo's text attached

Ini juga ngeri, buku yang mana ya yang pernah dibaca. Soalnya saya suka
sembarang menulis. Ada yang serius, ada yang ngaco.
Ngomong-ngomong soal tipat cantok, saya memang konsultan kuliner, tapi
spesialisasinya yang kelas warung saja, yang 10 ribuan sudah wareg.
Yang satu itu bisa dibahas di jalur lain.

Saya tumben rada rajin nulis disini, soalnya, pesawatnya delay ..... Ha ha
ha ....
pd


On 11/5/07 2:16 PM, "ngurah beni setiawan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Om Suastiastu,
 
Bli Popo Danes, salam kenal, tyang sempat baca buku yang bli tulis
(co-writer).
aduh! kalo bahas yang bli bahas sepertinya pemikiran luar biasa...otak ini
blm sampe kesana.
 
tapi yang menarik, di akhir email ada kata "tipat cantok"
nah, ini yang paling nyangkut di hati...hehehe
 
selamat atas sukses nya "misi" di jepun..
 
salam kenal,
ngurah beni setiawan
 
pi = 3.14 
love just like 'pi'...it's natural, irrational and very important 


----- Original Message ----
From: Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, November 6, 2007 12:32:11 PM
Subject: [bali] Re: FW: Popo's text attached


Kok saya mau dibedah. Gawat ini. Take it easy pak Tjahjo, saya nggak ada
apa-apanya kok. Saya cuman melakoni apa yang saya bisa jalani. Believe in
what I do, Do what I believe in. Maklum, karena kita gembar-gembor sudah
duluan banyak yang jegal, hasut, dsb. Betul nggak ? Nah, itu yang harus
dipadamkan dulu di masyarakat kita.

Apa yang kita lakukan, pasti ada saja yang nggak suka dan merasa terusik.
Kalau kita menanam sesuatu, jarang yang bantu. Memelihara, apa lagi. Kalau
panen, ngajak-ngajak dong, masak teman sendiri dilupakan.
Gitu kan pak ?

Sekarang saya sudah di lounge di Narita, nanti malam sampai di Bali, besok
sudah boleh makan tipat cantok.
pd


On 11/5/07 9:16 AM, "CHPStar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Selamat pagi Bali,

saya sendiri sedang mempelajari keberhasilan Pak Popo dan pakem pakem nya,
dan rekan milis lain bantu ya membedah Popo Danes ini,

Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Re: [bali] Re: FW: Popo's text attached      Terimakasih pak Tjahjo,
 
 Memang kalau saya lihat, selama ini kita terlalu mensakralkan bidang kita
masing-masing dan enggan berkolaborasi. Apalagi masih ada orang eksakta yang
sedikit memandang miring orang sosial. Saya kebetulan, entah orang sosial
yang berjalan dijalur eksakta atau orang eksakta yang larut dibidang sosial,
saya pikir keduanya sama saja. (kolaborasi sosisial dan eksata apakah ada di
pendidikan nasional? adakah azas ini di UU Dasar 1945? apabila ada, apakah
ini GAP yang bagus untuk diisi sebagai new infrastructure?)
 
 Karena mulai concern sama ethnography, perusahaan-perusahaan gede sekarang
mulai mempekerjakan antropolog, dan mereka sering dihargai lebih daripada
insinyur, karena lebih berfilosofi, tidak cuma bertukang, ha ha ha ... Saya
pikir ini sudah merupakan satu langkah maju dalam usaha memanusiakan
manusia, dan seterusnya (saya yakin intuisi Pak Popo menguat terus karena
biasa kerjasama dengan tukang tukang di lapangan dan Owner yang uangnya
relatif terbatas kan? mungkin ada yang tahu, mengapa masyarakat lebih
mengenal Project Management (PM) dari pada Construction Management (CM) ?)
 
 Di UN Climate Change Conference nanti rencananya ada juga display karya
saya yang mendapatkan Asean Asean Energy Award 2004. Sebetulnya kita bisa
melakukannya dari yang remeh-remeh. Coba saja kalau semua kantor di Jakarta
diset temperaturnya 26 derajat C, instead of 22, berapa uang yang dihemat.
Belum kalau kita menghitung ongkos laundry mereka yang harus pakai jas ke
kantor karena kedinginan. Padahal seharusnya cukup pakai pakaian tropis
biasa (apakah 2004 -2007 sudah menimbulkan berbagai proses spt learning dan
planning? pentingkah Pendidikan dan Kompetensi Guru, atau Perencanaan dan
Kompetensi Perencana?) 
 
(maksud saya ..............untuk menyimpulkan apakah gerakan  koperasi di
Bali, di Indonesia dan di ASEAN sudah punah? .............butuh Gerakan
GreenWar? )

 Salam,
 popo
 Tjahjo-
 
 On 11/5/07 2:08 AM, "CHPStar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
 

Selamat Pak Popo,
   
  
   
 jadi Pak Popo berhasil memberikan landasan Art bagi masa depan Science  ? ?
Text terlampir akan saya manfaatkan untuk kepentingan yang lebih tinggi ya
?. 
   
  
   
 Memang orang ornag energi seperti saya sedang mencari tempat dan model
happiness yang bisa meluas dan menerus.
   
  
   
 Ternyata lebih efektif untuk memulai dengan Hemat Enegi terlebih dahulu
daripada memulai dengan membeli tekologi energi terbarukan ya? dan harus ada
Arsitek, dan lain lain SDM yang kompeten.
   
  
   
 What next? UN Climate Change Conference benar benar menungu apa kata Bali
tentang Art dan Hemat Energi dengan arti yang seluas luasnya dan setinggi
tingginya.. Misi Arsitek mohon dilanjutkan Pak.
   
  
   
 Salam, Tjahjo-
   
 
 
 Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
 

Hallo pak Wiw, Vieb, dan teman-teman yang lain,
 
 Tadi siang saya sudah kasih presentasi di Tokyo University. Menarik juga,
mereka mulai scientific-kan banyak ilmu-ilmu yang mendengarkan saja bikin
kita menyeringai. Ada program studi tentang hidup dan bangka, dan
sebagainya. Karena keturunan dalang, saya ikutan bicara tentang Happiness,
padahal ini kurikulum yang dijalankan dimana-mana di Bali sambil metuakan.
 
 Tadi juga ada Professor dari Seoul yang pesentasikan hubungan happiness
dengan sustainability, ada komikus beken disini, jazz pianos orang Jepang
yang bermukim di New York, dan bberapa pembicara menarik lainnya. Dari acara
dua hari terakhir, saya melihat, untuk future lifestyle banyak sekali yang
bisa kita create dari Bali. Kalau kita seriusin beberapa topik di Bali,
sembari mengurangi ajum-ajuman, bakalan banyak yang bisa kita angkat sebagai
sesuatu yang futuristik. Maklum, zaman semakin informal, dan semua orang
sudah ingin menjauhi stress.
 
 Ada kabar baik, tadi sore saya ditelpon Dirjen Energy dan Sumber daya
Mineral, katanya besok malam saya mau dikasih penghargaan oleh pemerintah di
JCC, dihadiri pak SBY segala, karena dianggap sebagai undagi yang jemet,
yang mau concern untuk ikutan menghemat energy dalam design-design yang kita
buat. Nah, depang anake ngadanin. Karena saya masih nyangklek disini, besok
mau diwakili oleh kakak saya, Ciuk.
 
 Oh iya, akhirnya saya jadi bawa foto-nya pak Wis, tapi sebelumnya sudah
saya maini di photoshop dan tak pasangin udeng. Cukup banyak tuh yang
tertarik.
 
 Salam dari Jepun,
 pd 
  

Kirim email ke