Mau Babi Guling yang lebih lezat dan harga yang masih murah, hanya Rp 5000 
saja, silahkan mampir di daerah penambangan Kampung Tinggi didepan Singaraja 
Theater.
Selamat menikmati! 
  ----- Original Message ----- 
  From: eka mardika 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, November 05, 2007 7:23 AM
  Subject: [bali] Re: OOT -- kuliner 10rb


  Hehehehehehehe

  Kalo ada yang boleh makan babi guling, coba be guling "odah sampreg" di 
sanur..

  Rasa dan penyajian masih tradisional, harga kalo ngga salah Rp. 8000 sama the 
botol, lokasi di sebelah hardy's sanur hehehehehe

   

  Suksma,

   

  eka

   


------------------------------------------------------------------------------

  From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ngurah beni 
setiawan
  Sent: 05 Nopember 2007 10:44
  To: [email protected]
  Subject: [bali] OOT -- kuliner 10rb

   

  Kalo begitu, mudah2an yang saya baca itu "yang serius". tapi kalo seandainya 
pun itu "bukan yang serius", wong yang "ga serius" aja tulisannya bagus, gimana 
kalo yang "serius" yah...

   

  sip lah Bli Popo (tyang panggil begitu ngga pa pa kan?), nanti saya tunjukin 
juga kelas kuliner 10rb. kebetulan pecinta kuliner pasar juga nih...pasar 
sanglah, pasar badung sampe pasar seririt...

   

  Pak De Wis, katanya dulu pernah membuat pernyataan akan menggalakkan subject 
kuliner nih...hehehe...*ngomporin*

   

  rahajeng,

  ngurah beni setiawan

   

   

  *punten akang, teteh...numpang lewat bahas kuliner sedikit 
   

  pi = 3.14 
  love just like 'pi'...it's natural, irrational and very important 

   

  ----- Original Message ----
  From: Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Tuesday, November 6, 2007 1:35:47 PM
  Subject: [bali] Re: FW: Popo's text attached

  Ini juga ngeri, buku yang mana ya yang pernah dibaca. Soalnya saya suka 
sembarang menulis. Ada yang serius, ada yang ngaco.
  Ngomong-ngomong soal tipat cantok, saya memang konsultan kuliner, tapi 
spesialisasinya yang kelas warung saja, yang 10 ribuan sudah wareg.
  Yang satu itu bisa dibahas di jalur lain.

  Saya tumben rada rajin nulis disini, soalnya, pesawatnya delay ..... Ha ha ha 
....
  pd


  On 11/5/07 2:16 PM, "ngurah beni setiawan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Om Suastiastu,
   
  Bli Popo Danes, salam kenal, tyang sempat baca buku yang bli tulis 
(co-writer).
  aduh! kalo bahas yang bli bahas sepertinya pemikiran luar biasa...otak ini 
blm sampe kesana.
   
  tapi yang menarik, di akhir email ada kata "tipat cantok"
  nah, ini yang paling nyangkut di hati...hehehe
   
  selamat atas sukses nya "misi" di jepun..
   
  salam kenal,
  ngurah beni setiawan
   
  pi = 3.14 
  love just like 'pi'...it's natural, irrational and very important 


  ----- Original Message ----
  From: Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Tuesday, November 6, 2007 12:32:11 PM
  Subject: [bali] Re: FW: Popo's text attached


  Kok saya mau dibedah. Gawat ini. Take it easy pak Tjahjo, saya nggak ada 
apa-apanya kok. Saya cuman melakoni apa yang saya bisa jalani. Believe in what 
I do, Do what I believe in. Maklum, karena kita gembar-gembor sudah duluan 
banyak yang jegal, hasut, dsb. Betul nggak ? Nah, itu yang harus dipadamkan 
dulu di masyarakat kita.

  Apa yang kita lakukan, pasti ada saja yang nggak suka dan merasa terusik. 
Kalau kita menanam sesuatu, jarang yang bantu. Memelihara, apa lagi. Kalau 
panen, ngajak-ngajak dong, masak teman sendiri dilupakan.
  Gitu kan pak ?

  Sekarang saya sudah di lounge di Narita, nanti malam sampai di Bali, besok 
sudah boleh makan tipat cantok.
  pd


  On 11/5/07 9:16 AM, "CHPStar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


  Selamat pagi Bali,

  saya sendiri sedang mempelajari keberhasilan Pak Popo dan pakem pakem nya, 
dan rekan milis lain bantu ya membedah Popo Danes ini,

  Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Re: [bali] Re: FW: Popo's text attached      Terimakasih pak Tjahjo,
   
   Memang kalau saya lihat, selama ini kita terlalu mensakralkan bidang kita 
masing-masing dan enggan berkolaborasi. Apalagi masih ada orang eksakta yang 
sedikit memandang miring orang sosial. Saya kebetulan, entah orang sosial yang 
berjalan dijalur eksakta atau orang eksakta yang larut dibidang sosial, saya 
pikir keduanya sama saja. (kolaborasi sosisial dan eksata apakah ada di 
pendidikan nasional? adakah azas ini di UU Dasar 1945? apabila ada, apakah ini 
GAP yang bagus untuk diisi sebagai new infrastructure?)
   
   Karena mulai concern sama ethnography, perusahaan-perusahaan gede sekarang 
mulai mempekerjakan antropolog, dan mereka sering dihargai lebih daripada 
insinyur, karena lebih berfilosofi, tidak cuma bertukang, ha ha ha ... Saya 
pikir ini sudah merupakan satu langkah maju dalam usaha memanusiakan manusia, 
dan seterusnya (saya yakin intuisi Pak Popo menguat terus karena biasa 
kerjasama dengan tukang tukang di lapangan dan Owner yang uangnya relatif 
terbatas kan? mungkin ada yang tahu, mengapa masyarakat lebih mengenal Project 
Management (PM) dari pada Construction Management (CM) ?)
   
   Di UN Climate Change Conference nanti rencananya ada juga display karya saya 
yang mendapatkan Asean Asean Energy Award 2004. Sebetulnya kita bisa 
melakukannya dari yang remeh-remeh. Coba saja kalau semua kantor di Jakarta 
diset temperaturnya 26 derajat C, instead of 22, berapa uang yang dihemat. 
Belum kalau kita menghitung ongkos laundry mereka yang harus pakai jas ke 
kantor karena kedinginan. Padahal seharusnya cukup pakai pakaian tropis biasa 
(apakah 2004 -2007 sudah menimbulkan berbagai proses spt learning dan planning? 
pentingkah Pendidikan dan Kompetensi Guru, atau Perencanaan dan Kompetensi 
Perencana?) 
   
  (maksud saya ..............untuk menyimpulkan apakah gerakan  koperasi di 
Bali, di Indonesia dan di ASEAN sudah punah? .............butuh Gerakan 
GreenWar? )

   Salam,
   popo
   Tjahjo-
   
   On 11/5/07 2:08 AM, "CHPStar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
   

  Selamat Pak Popo,
     
    
     
   jadi Pak Popo berhasil memberikan landasan Art bagi masa depan Science  ? ?  
Text terlampir akan saya manfaatkan untuk kepentingan yang lebih tinggi ya ?. 
     
    
     
   Memang orang ornag energi seperti saya sedang mencari tempat dan model  
happiness yang bisa meluas dan menerus.
     
    
     
   Ternyata lebih efektif untuk memulai dengan Hemat Enegi terlebih dahulu 
daripada memulai dengan membeli tekologi energi terbarukan ya? dan harus ada 
Arsitek, dan lain lain SDM yang kompeten.
     
    
     
   What next? UN Climate Change Conference benar benar menungu apa kata Bali 
tentang Art dan Hemat Energi dengan arti yang seluas luasnya dan setinggi 
tingginya.. Misi Arsitek mohon dilanjutkan Pak.
     
    
     
   Salam, Tjahjo-
     
   
   
   Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
     
   

  Hallo pak Wiw, Vieb, dan teman-teman yang lain,
   
   Tadi siang saya sudah kasih presentasi di Tokyo University. Menarik juga, 
mereka mulai scientific-kan banyak ilmu-ilmu yang mendengarkan saja bikin kita 
menyeringai. Ada program studi tentang hidup dan bangka, dan sebagainya. Karena 
keturunan dalang, saya ikutan bicara tentang Happiness, padahal ini kurikulum 
yang dijalankan dimana-mana di Bali sambil metuakan.
   
   Tadi juga ada Professor dari Seoul yang pesentasikan hubungan happiness 
dengan sustainability, ada komikus beken disini, jazz pianos orang Jepang yang 
bermukim di New York, dan bberapa pembicara menarik lainnya. Dari acara dua 
hari terakhir, saya melihat, untuk future lifestyle banyak sekali yang bisa 
kita create dari Bali. Kalau kita seriusin beberapa topik di Bali, sembari 
mengurangi ajum-ajuman, bakalan banyak yang bisa kita angkat sebagai sesuatu 
yang futuristik. Maklum, zaman semakin informal, dan semua orang sudah ingin 
menjauhi stress.
   
   Ada kabar baik, tadi sore saya ditelpon Dirjen Energy dan Sumber daya 
Mineral, katanya besok malam saya mau dikasih penghargaan oleh pemerintah di 
JCC, dihadiri pak SBY segala, karena dianggap sebagai undagi yang jemet, yang 
mau concern untuk ikutan menghemat energy dalam design-design yang kita buat. 
Nah, depang anake ngadanin. Karena saya masih nyangklek disini, besok mau 
diwakili oleh kakak saya, Ciuk.
   
   Oh iya, akhirnya saya jadi bawa foto-nya pak Wis, tapi sebelumnya sudah saya 
maini di photoshop dan tak pasangin udeng. Cukup banyak tuh yang tertarik.
   
   Salam dari Jepun,
   pd 
    

Kirim email ke