Yth. Lengkey,
 
Sependapat, kritik pada sebuah pendapat sering diartikan sebagai ketidak
kesepakatan pada pribadi (seutuhnya) atau 
bahkan serangan yang bersifat pribadi. 
 
Masalahnya  karena   kita tidak atau belum bisa berprilaku  sachlich
(jerman), zakelijk (belanda), relevant, pertinent 
(inggeris). Kalau  saya (kita)  tidak setuju pada pendapat tertentu, itu
terbatas hanya  pada hal itu saja. Sebab
cuma itu  yang dipermasalahkan,  hanya  itu saja yang terkait, relevant
( dipersoalkan). Sama sekali tidak menyinggung 
pendapat lain. Tidak ada kaitan (relevansi) dengan pendapat yang lain ,
apalagi  dengan pribadi orang itu.
 
Pribadi itu merupakan suatu keutuhan seorang umat manusia, dengan
berbagai macam pendapat bahkan dengan
semua pengetahuan, pribadi  yang dimilikinya. 
 
Karena itu kita (kedua kumokator)  perlu fokus pada masalah yang
dipersoalkan saja. Ini masalah budaya,bermula dari 
pendidikan sejak kecil  dirumah. 
Kita sering bersifat dangkal dan sering generalized ( menyamaratakan
semua). Misalnya ia jahat, ia bodoh. Misalnya ia 
tidak bisa berhitung kita sudah sebut dia bodoh, padahal ia kebetulan
salah berhitug 6x 9= 62. Ia jahat pada hal dia tak
sengaja melukai, atau lupa mengembalikan pinjaman.
 
Berprilaku  sachlich, kita hanya  akan membahas satu masalah saja. Lebih
mudah memecahkannya dari pada mencapurbaurkannya dengan banyak masalah
seluruh pribadi. Dengan demikian komunikasi akan  lebih sederhana dan
" ngekoh" bisa dikurangi. Dialog bisa dilanjutkan .Pendidikan kemajuan
bisa berlanjut.
Untuk itu perlu prilaku jujur mau mencari dan mengakui kebenaran
bersama.
 
Dengan demikian debat kusir bisa dikurangi kalau kita fokus dan berani
menyatakan hal tertentu tidal relevan.
 
Sekian ,  terima kasih.
 
SALAM.
Nengah Sudja.

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, January 09, 2008 2:45 PM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: Sekali perlu juga baca cerpen kan? Agar tak panas
diskusi


Pada dasarnya kita tidak biasa menerima kritik dan mengritik secara
ilmiah. Kritikan dari seseorang akan selalu dirasakan sebagai serangan
yang bersifat pribadi. Akhirnya untuk melakukan diskusi atau dialog
sudah "ngekoh". Setiap karya ilmiah atau seperti cerpen juga tidak akan
lewat untuk diuji. ;-)
Yah kalau kita tidak sepaham atas isi cerpen itu, paling tidak kita bisa
memberikan kommentar. Kalau komentar itu tidak ditanggapi, yah
sudah.....the game is over....kata pak Nengah:  "jangan jadi debat
kusir"
 
Salam Pak Nengah!
 
MfG
Thom Lengkey

----- Original Message ----- 
From: Nengah  <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Sudja 
To: [email protected] 
Cc: kubu-lalang <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  
Sent: Wednesday, January 09, 2008 4:46 AM
Subject: [bali] Re: Sekali perlu juga baca cerpen kan? Agar tak panas
diskusi

Yth.P Gde Wisnaya, Semeton Sareng Sami,
 
Dulu waktu saya  kecil , kata BEH.......BEH.....ungkapan kekaguman
sering  dipakai. Ketika membaca
Novel  Vicki Baum (lahir di Austria, hidup di Amerika, seperti Arnold
Schwartzenegger) :Liebe und Tod in Bali 
( A Tale from Bali), dengan latar belakang waktu sekitar Puputan Badung
(1906)  ungkapan BEH dalam dialog 
antar orang Bali banyak diketemukan.  
 
Saya baca novel ini  1958 di Muenchen (Jerman).Saya terkesima akan
rinciannya mengenai budaya, 
kehidupan orang Bali, adanya penyakit lepra. Vicki  Baum menulis
novelnya berdasarkandari buku harian 
seorang dokter Jerman yang  tinggal  di Bali dan dia sendiri tinggal  di
Bali sebelum menulis novel ini.
Saya beruntung baca novel indah  ini sekaligus bantu melancarkan  bahasa
Jerman karena mengetahui budaya Bali.
 
Dewasa ini  ungkapan 
BEH  jarang terdengar lagi di Bali. Maklum masa itu Bali baru berbuka
dengan dunia luar. Orang Bali terkagum banyak
pada dunia luar yang baru dijumpainya. Dewasa ini dalam suasana
keterbukaan terutama adanya listrik, TV  masuk desa,
dan  banyaknya pergaulan orang Bali  dengan dunia luar, bahkan banyak
yang jadi pelaut sailor di kapal pesiar, 
ungkapan  BEH jarang terdengar lagi.   
 
Karena saya baru tahu bahwa di Buleleng  istilah "nyentana" menjadi
"paid bangkung" , saya terkejut ..... BEH ah keta.
Terima kasih P Wisnaya untuk pencerahannya. Tetapi  karena makna, latar
belakang nyentana itu tidak dijelaskan secara 
memadai pada CerPen Ilalang  ini saya  masih berpedapat akan dapat
menimbulkan banyak  salah tafsir.Mereka yang
dari Beleleng dapat mengerti, tapi saya yang dari selatan (juga  P
Ambara?)  dasar pengertiannya  lain.
 
Jadi, harap maklumlah apalagi kalau  bangkungnya cantik, kaya,  rumah
megah  mertua indah,  tak perlu kerja keras, tahu 
enaknya aja. Ah,aliang tiang Pak Gde. Apalagi  Ilalang kan bukan
bangkung, masih perawan tinting ya  P Artika? 
 
P Gde , sebagai moderator  saya mengerti kekhawatiran dan keinginan
Anda :" Sekali perlu juga baca cerpen kan? 
Agar tak panas diskusi". Tapi ijinkan saya nyampaikan masukan, tanggapan
berikut, karena ini menyangkut masalah yang
lebih besar.
 
Kelemahan bangsa kita dewasa ini adalah ketidaksediaan untuk melakukan
diskusi, dialog menyelesaikan masalah
yang kita hadapi. Apalagi kalau diskusi jadi panas, dihindari. Banyak
contoh. Dua orang menteri berbeda pendapat mengenai 
transfer uangnya Tommy Soeharto. Perbedaan pendapat itu diselesaikan ,
didamaikan secara adat kata Presiden SBY. 
Presiden SBY sendiri  mengadakan konferensi pers menyanggah Amien Rais
mengenai sumbangan dana kampanye pemilu
Menteri Perikanan dan Kelautan. Saya kira ini akan ramai ini, karena ini
menyangkut kepentingan publik. Akan ada debat 
publik. Tapi persoalan kemudian cepat-cepat di diselesaikan, didamaikan
dengan pertemuan lima belas menit di Lapangan 
Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta. Selesai! Damai di bumi, tapi
...............
substansi masalah dugaan KKN, penyalahgunaan kekuasan (abuse of power)
tak terungkap. 
 
Ini terjadi di lingkungan  elite puncak kekuasaan,  tidak ada
tranparansi/keterbukaan, akuntabilitas/ pertanggungjawaban,
pengikutsertaan publik agar persoalan publik dapat dipecahkan secara
adil, efisien. Di daerah  masalah publik 
tidak dipecahkan berlandaskan good corporate governance tentu saja
banyak terjadi, meniru pusat .
 
 
Apakah kita tidak menyadari ,bahwa "budaya damai" , keengganan berduksi
ini tidak menyelesaikan akar masalah yang 
kita hadapi dan yang ingin kita pecahkan bersama untuk mencari kebenaran
bersama. Padahal latar belakang budaya 
Hindu, kaya dengan falsafah disertai dengan dialog,argumentasi yang
intens. Kita rasakan ketika membaca Mahabrata,
Bagawat Ghita. Di masa lalu  di bidang sastera kita dapat menguak
perdebatan  antara pujangga lama dan pujangga baru.
Dari dialog tersebut  dicoba menggali kebenaran bersama. Asah otak,
mendalami masalah  dengan mengunakan argumentasi, 
power of reasoning melalui partisipasi publik meneggakkan demokrasi.
Demokrasi tidak akan jalan kalau partisipasi publik, 
power of reasoning tidak dipraktekkan. Yang  jalan justeru  demo (power
of mass) dan power of gun, penggunaan kekerasan,
penyalah gunaan kekuasaan.
 
Agar dialog berjalan baik yang diperlukan sikap sopan, jangan menghina,
mengejek .Tapi tetap pada substansi masalah.
Diskusi panas bisa terjadi, tapi jangan melakukan tindak penghinaan
apalagi  kekerasan. Terapkan  kejujuran, hargai, akui 
kebenaran teman diskusi dan  jalankan dharma  Ahimsa. 
 
Jangan  hindari budaya diskusi. Diskusi mendorong kemajuan. 
Kehidupan  memang juga perlu diskusi sastera.........cermin budaya.
 
SALAM.
Nengah Sudja.
 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Pan Bima
Sent: Tuesday, January 08, 2008 8:45 PM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: Sekali perlu juga baca cerpen kan? Agar tak panas
diskusi


Peran, fungsi, harga diri hanyalah hasil dari sebuah persepsi. Semua
adalah permainan pikiran dan bersumber dari AKU. . Ada yang mengatakan,
bahwa konsep "nyentana" adalah sebuah solusi untuk suatu masalah
tertentu (misalkan salah satunya di domain  KB, dengan slogannya :
Laki-Perempuan sama saja). Purusha menjadi predana dan sebaliknya. Hanya
saja di Buleleng konsep ini ditampik dengan cara merubah istilah
"nyentana" menjadi "paid bangkung".

Mungkin ini "debatable".

salam
wisnaya


On 1/7/08, Dudik M <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

"Ilalang," kupeluk dia hangat. Ilalang menyambut pelukanku. "Aku hanya
jadi gigolo di tempat tidur ini.Yang dibayar atas aksinya!" Bisikku
lirih.

 

cerpen yang bagus.... sy tunggu di balipost minggu


 
www.yandude.blogspot.com
The real freedome is free from dome 


----- Original Message ----
From: wayan artika <  <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, January 4, 2008 4:28:53 PM 
Subject: [bali] Sekali perlu juga baca cerpen kan? Agar tak panas
diskusi




baca cerpen yukk
        

        

        

  _____  

Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try
it now.
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i6
2sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ> 




  _____  

Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo!
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsear
ch/category.php?category=shopping> Search.




-- 
Gde Wisnaya Wisna
Jl.Dewi Sartika Utara 32A
Singaraja-Bali
website : www.lp3b.com  <http://www.lp3b.com> 



__________ NOD32 2759 (20080101) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com


Kirim email ke