Yth P Ambara, Dalam tingkat kebijaksanaan Nasional sekarang ini memang PLN sedang gencar-gencar meningkatkan produksi listrik dari pembangkit batubara, karena memang sampai sekarang itu yang paling murah yang tersedia berlimpah di Indonesia.. (baca berita dibawah)
Benar pemerintah, PLN merencanakan pembangunan 10 000 MW selesai 2009. Sayangnya pembangunan sebesar itu , dengan perkiraan biaya US $ 10 milyar , dilakukan tanpa disertai studi kelayakan. Dipertanyakan pula mengapa harus selesai 2009? Namun khusus untuk Bali seperti yang disampaikan Wijaya, Pak Suja dan Mbak Silvia, memang perlu kebijaksanaan khusus agar dibangun alternative bukan dari batubara tapi dari sumber yang ramah lingkungan. Walaupun mungkin cost-nya akan lebih mahal. Setuju , tapi mengapa kebijakan khusus (seperti otonomi khusus? ) , apa tak cukup persyaratan ramah lingkungan? Pembangkit listrik tenaga air (di Buleleng ada puluhan air terjun yang potensial). Potensi hydro di Bali kecil , dari Tukad Ayung 44 MW , Tukad Unda 32 MW dan mikro hydro (dibawah 1 MW) dari 23 lokasi 20 kW .Itu baru potensi, apa layak dibangun? Di Tukad Ayung, Unda ada kegiatan perahu rafting, kiranya ada penolakan lingkungan. Atau Cable Listrik Jawa-Bali. Yang saya usulkan saluran udara 500 kV bukan cable laut (submarine cable seperti yang terpasang sekarang tak tahan arus laut deras Selat Bali). Misalnya di bungalow-nya Mbak Silvia, daripada menggunakan bola-lampu listrik coba buat lampu dari minyak kelapa.. Selain ramah lingkungan, minyak kelapa bisa diperoleh dari penduduk local, atau bisa juga pakai minyak bekas dipakai menggoreng (lengis yinyihan : bhs Bali) daripada dibuang..Lampu minyak kelapa kesannya akan eksotis..saya yakin para tamu/wisatawan juga suka.. Menarik hemat energi, pakai obor sekali-sekali ya, AC tetap pakai listrik justeru ini yang besar. ( Maaf ada bagian yang seharusnya ditulis biru tapi tak mau menuruti dikdator maksudnya redaktor). SALAM. Nengah Sudja. -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Ambara, Gede Ngurah (KPC) Sent: Monday, January 14, 2008 1:12 PM To: [email protected] Subject: [bali] konferensi iklim dan bakar batu bara Pak Suja, Wijaya, Mbak Silvia, dan semeton semuanya. Dalam tingkat kebijaksanaan Nasional sekarang ini memang PLN sedang gencar-gencar meningkatkan produksi listrik dari pembangkit batubara, karena memang sampai sekarang itu yang paling murah yang tersedia berlimpah di Indonesia.. (baca berita dibawah) Namun khusus untuk Bali seperti yang disampaikan Wijaya, Pak Suja dan Mbak Silvia, memang perlu kebijaksanaan khusus agar dibangun alternative bukan dari batubara tapi dari sumber yang ramah lingkungan. Walaupun mungkin cost-nya akan lebih mahal. Pembangkit listrik tenaga air (di Buleleng ada puluhan air terjun yang potensial). Atau Cable Listrik Jawa-Bali. Atau mulai sekarang kita menghemat listrik.. Suksme GNA --------------------------------------- Source: Petromindo.Com State-owned electricity company PLN will sign today engineering, procurement and construction (EPC) contracts for four coal-fired power plants (PLTU) to be built in outside Java. Yogo Pratomo, the head of PLN's team for the crash program to build 10,000 megawatt power plants, said in Jakarta on Sunday that the contracts for the four power projects which have a combined capacity of 168 megawatt (MW) were worth about US$1 million per megawatt. The four power projects are PLTU Kalimantan Tengah (2x60 MW) in Central Kalimantan which will be built by a consortium comprising of PT Mega Power Mandri and two Chinese companies Shandong Electric Power Construction and China National Heavy Machinery; PLTU MW Tanjung Balai Karimun (2x7 MW) in Riau islands, PLTU Kendari in Southeast Sulawesi (2x10 MW),and PLTU Ende-Flores (2x7 MW) in East Nusa Tenggara, which will be built by a consortium of Shandong Electric Power Construction and PT Rekadaya Elektrika. "We hope the four power plants can begin commercial operation within the next 24 months or at the end of 2010," he said, adding that with the signing of the four power projects, the construction of all the power plants was expected to be on schedule. PLN earlier signed EPC contracts for five similar projects to be built outside Java. They include the PLTU Lampung (2 x 100 MW), PLTU North Sumatra (2 x 100 MW), PLTU North Sulawesi (2 x 25 MW); PLTU Gorontalo (2 x 25 MW) and PLTU West Nusa Tenggara (2 x 25 MW). The EPC contracts for 16 other coal-fired power plants to be built outside Java would be signed in February and March, he added. Yogo said all the power projects to be built outside Java would cost US$3 billion. PLN will invite local and foreign banks to provide the financing. (*) -------------------------------- __________ NOD32 2788 (20080113) Information __________ This message was checked by NOD32 antivirus system. http://www.eset.com
<<image001.jpg>>
