Hai Popo,

Popo dan teman2 harus nonton film saya ini. Salah satu yang menjadi subyek
film saya adalah saudara kita sendiri (mungkin sangat dikenal), tapi wajah
dan namanya disamarkan karena sampai saat ini belum berani mengaku dirinya
anak dari seorang yang dibantai di tahun 65 demi kelangsungan hidupnya.
Karena keprihatinan saya terhadap tokoh saya ini dan juga kasus yang Popo
alami,  film ini saya buat. Saya ingin masyarakat dunia tahu bahwa anak dan
cucu korban 65 (yang tidak mengerti apa2)  belum merdeka di negaranya
sendiri dan bahkan orang lain yang mengulurkan tangan buat mereka (yang
tidak ada hubungannya dengan kegiatan politik) harus dikejar intel.
Miris rasanya melihat situasi ini, mudah2an suatu saat pemerintah bisa
melakukan koreksi terhadap pelanggaran HAM semacam ini.

Salam,
Wira


On 1/31/08, Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bli Wira,
>
> Terimakasih banyak untuk informasi yang membanggakan ini.
> Bapak yang duduk paling kanan itu pernah meluncurkan buku di tempat kita
> di Denpasar,
> Saya pikir bagus-bagus saja, karena toh sudah ada rekonsiliasi nasional
> dan sebagainya.
>
> Ternyata setelah itu mungkin setahun lebih saya diawasi intel.
> Dan konon kabarnya akirnya mereka close the case karena tidak ada bukti
> saya ngeseng kangin atau ngeseng kauh.
> Jadi, gini-gini saya punya bukti kelakukan baik yang cukup mahal, karena
> mereka pernah keluar biaya serius untuk checking saya. He he he ...
>
> Selamat dan sukses selalu,
> pd
>
>
>
> On 1/30/08 2:03 PM, "wiranegara igp" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  Popo dan teman2 milis,
>
> Terima kasih atas dorongan semangat dan doanya peluncuran film saya TUMBUH
> DALAM BADAI akhirnya berjalan lancar.
> Hadir dalam acara peluncuran film ini sekitar 250 orang (memenuhi seluruh
> kursi teater goethe haus), hal ini sangat menggembirakan bagi kami. Adapun
> hadirin terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, ada yang dari eks tapol
> dan keluarganya, mahasiswa dan masyarakat penikmat film.dan teman2 dari
> media.
> Suatu saat saya ingin putar film ini di kampung halaman, di tempat yang
> netral, tempat yang boleh berbicara tentang sejarah bangsa baik sejarah
> kelam maupun yang cemerlang dari bangsa ini tanpa diintimidasi aparat.
> Berikut saya sertakan berita peluncuran.
>
> Salam,
> Wira
>
>
>

Kirim email ke