Hai Popo, semetons,

Terima kasih atas responnya, kira-kira yang saya angankan persis seperti apa
yang Popo utarakan.  Kiriman bukunya akan sangat membantu saya untuk mulai
masuk ke materi yang akan saya sampaikan.  Melalui film ini kita bisa
melontarkan self critic buat orang Bali agar film ini bermanfaat bagi kita.
Saya masih menunggu komentar dan saran semeton yang lain, atas perhatiannya
saya ucapkan terima kasih.
Bagi semetons yang belum sempat menonton film saya TUMBUH DALAM BADAI, dalam
rangka INDOCS TRAVELLING ke 7 kota di Indonesia, film tersebut akan diputar
di Denpasar pada tanggal: 14 April di New Media College (kalo gak salah
tempatnya di ruko2 sentral parking), jam 15.00. saya akan hadir sebagai
pembicara.
Terima kasih.
Salam,
Wira


On 3/30/08, Popo Danes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bli Wira,
>
> Pastilah, kita akan bantu sebisanya. Nanti juga bisa saya kirimin buku
> yang saya ikut tulis, Bali Living in Two Worlds, berisikan cukup banyak
> illustrasi yang related dengan topik thesis ini, dan juga berfungsi sebagai
> self critic untuk orang Bali.
> Apalagi di bidang arsitektur, kita bisa melihat ada commercial gelebeg,
> holy ruko, tri hita karana, dwi hita karana, hingga zero hita karana.
> Baguslah bli, kalau saya bayangkan film ini bisa dibikin untuk bikin
> penonton merengut dan tertawa. Nanti juga saya siapkan materi-materi yang
> cukup seru dari majalah kartun kita, Bog Bog.
>
> Pokokne, thesisne bli Wira jeg de papase, harus the best-lah.
>
> Salam,
> pd
>
>
> On 3/29/08 2:53 PM, "wiranegara igp" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  Pak Wayan Artika, Popo, semetons,
>
> Sehubungan dengan program paska sarjana saya yang tesisnya berupa film,
> saya ingin membuat film tentang sejarah Hindu sejak kedatangannya sampai
> dengan saat ini. Namun melihat waktu yang tersedia sepertinya karya itu
> terlalu luas belum lagi pasti menyangkut biaya yang besar pula untuk
> dibiayai sendiri.
> Saya ingin pempersempit persoalan dengan mengangkat "Hindu Bali Di Tengah
> Era Globalisasi". Saya sebagai orang Hindu yang sudah lama
> meninggalkan Bali, melihat dari kaca mata awam saya bahwa orang Bali
> dengan agama Hindunya berbeda sekali dengan orang Betawi
> yang makin lama makin terdesak ke pinggir.  Kalau kita melihat situasi
> Kuta saat ini, banyak pendatang dari berbagai etnis dan budaya, namun orang
> Bali yang hidup di Kuta masih tetap melaksanakan kewajiban beragamanya
> sebagaimana mestinya.
> Walupun demikian saya yakin di dalamnya pasti banyak sekali konflik adat
> yang terjadi.
> Nah..saya ingin mengangkat situasi itu dalam film agar situasi itu bisa
> memberi informasi bahkan pencerahan bagi masyarakat luas.
> Saya mohon bantuan saran dan masukan semetons, apa saja yang berkaitan
> dengan suasana adat kita di Bali, baik tentang kesenian tari, lukis, dan
> arsitektur.  Saya berharap film saya nantinya bisa benjadi film yang baik,
> memberi hiburan, informasi, bahkan bila mungkin memberikan pencerahan bagi
> para penontonnya.
> Matur suksma,
> Wira
>
>
>

Kirim email ke