Pernah dikatakan bahwa kita belajar sejarah untuk bisa menjadi orang bijak. 
Lalu pernahkah kita mengambil manfaat dari belajar sejarah? Kita masih ingat 
waktu tempo doeloe setelah merdeka, dengan Maklumat No. X Wakil Presiden, 
berdirilah partai-partai politik seperti jamur dimusin hujan, sampai-sampai 
kehabisan cari tanda gambar dan Pemilu pertama dilaksanakan. Hasilnya apa? 
Lembaga yang dibentuk yang diharapkan mampu menetapkan Konstitusi ternyata 
tidak berhasil melaksanakan tugasnya, alias gagal total. Negara dinyatakan 
dalam keadaan bahaya, Parlemen dibubarkan dan lahirlah Dekrit yang isinya 
kembali ke UUD 45.Jaman Orde Baru, partai disederhanakan, Orde Baru tumbang, 
kita memasuki reformasi, semua orang teriak tentang keterbukaan, kebebasan 
semua tercakup dalam slogan reformasi. Hasilnya, berdirilah partai-partai 
politik, seperti jamur dimusim hujan. Partai besar pecah menjadi 
sempalan-sempalan partai kecil. Orang gagal menjadi Ketua Partai, bikin partai 
baru. Tidak
 ubahnya serperti menjamurnya billboard persaingan operator selular, rokok dan 
sepeda motor. Ditingkat daerah, menyambut Pilkada jalan dipenuhi dengan 
foto-foto calon pemimpin yang penuh dengan janji-janji, pendidikan gratis, 
kesehatan gratis (gak tahu duitnya dari mana), demi rakyat, untuk rakyat 
bersaing ketat dengan billboard XL, Honda dan rokok Jarum. Kader partai 
berebutan nomor kecil untuk mendapat jaminan untuk menjadi anggota legislatif 
meskipun tidak memperoleh suara dalam Pemilu. Inilah faktanya. 
  Partai adalah ibarat kendaraan untuk mencapai tujuan yaitu untuk berkuasa. 
Betapapun idealnya seorang calon independen sama dengan berlomba dengan jalan 
kaki melawan saingannya yang naik BMW. Namun demikian saya dukung calon 
independen untuk tidak putus asa. Siapa tahu suatu saat kita akan belajar dari 
sejarah dan menjadi orang bijak. Time is the best judge, kata nenek saya. 
  Sampai jumpa ya.
  NS

suardana gede <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  dear begawan dwija,
salam kenal, saya gede suardana diperantauan.
apa yang begawan khawatirkan terhadap calon independent adalah logis dijaman 
edan ini, tokoh partai tidak akan tinggal diam, mereka bergrelya dengan segala 
macam cara untuk berusaha mencabik-cabik mental independent, itu pasti. namun 
kalau seorang calon independent punya keteguhan iman, serta selalu berorientasi 
pada kepentingan masyarakat, tanpa menoleh umpan berbagai umpan yang mereka 
lemparkan dengan tetap menjaga kebersihan hati, niscaya si calon independent 
akan tetap bersinar dalam naungan Gusti Ingkang Maha Widdi. yakinilah itu, 
jangan ragu, karena keraguan adalah sumber malapetaka. jalan siapkan dengan 
matang dan penuh percaya diri. saya siap mendukung munculnya calon independent 
yang punya kompetensi dan integritas. selamat berjuang......
salam 
Gede Suardana

Bhagawan Dwija <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  CALON INDEPENDEN ?

Kata yang banyak dipakai : SYAH-SYAH SAJA tetapi nanti
gimana ya, DPR-nya orang-orang Partai.
Bupati/Gubernur-nya independent. Wah nggak punya
temen/pendukung dong, ide-idenya pasti dijegal. Jadi
seperti kerakap tumbuh di batu, hidup enggan mati tak
mau. Atau mungkin ada penjelasan lain yang saya belum
tahu ?


--- ngurah beni setiawan 
wrote:

> Pak Nyoman, Salam kenal dari tyang
> 
> Melihat sisi lucu memang sesuatu yang selalu
> mengasyikan. Menyimak cerita Pak Nyoman mengingatkan
> saya pada cerita Ibu. Ketika beliau kecil dan sempat
> tinggal di Tampaksiring persis di pertigaan dekat
> Istana Presiden. Setiap saat Bung Karno lewat,
> Beliau selalu melambaikan tangan mengurangi
> kecepatan kendaraan diantara barisan siswa dan
> masyarakat yang berdiri menyambut kedatangannya.
> 
> Kalo sekarang, yah...persis seperti yang Pak Nyoman
> ceritakan.
> 
> Tapi kalo dipikir lucu lagi, ada benarnya juga
> mereka ga mau mengalah sama rakyat.
> 
> Coba saja Pak Nyoman bayangkan, jadi pembantu/
> pelayan ngurusin satu orang saja sudah sangat repot.
> Lah ini, jadi abdi rakyat, pelayan rakyat yang
> jumlahnya ribuan bahkan jutaan?!
> 
> Siapa yang kuat. Enak juga ya, seandainya
> bener-bener melayani rakyat.
> Suatu saat saya ingin dibikinin teh manis sama pak
> presiden. Lah, kan pelayan masyarakat.
> 
> *hehe...hanya berusaha melucu.
> 
> 
> ngurah beni setiawan
> P Save a tree...please don't print this e-mail
> unless you really need to
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: lengkey 
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, April 24, 2008 2:58:07 PM
> Subject: [bali] Re: MARI MULAI PROSES DEMOKRASI
> MELALUI CALON INDEPENDEN?
> 
> 
> Sifat Abdi Rakyat yang begini sih dari dahulu (20-30
> Tahun lalu) tidak berubah, selama UU tidak berlaku
> untuk semua Rakyat tentu yang ada hanya DEMO-CRAZY.
> Sabarang...deen be..pak Nyoman!
> 
> MfG
> Th. Lengkey
> ----- Original Message ----- 
> From: nyoman suwela 
> To: [email protected] 
> Sent: Thursday, April 24, 2008 4:44 AM
> Subject: [bali] Re: MARI MULAI PROSES DEMOKRASI
> MELALUI CALON INDEPENDEN?
> 
> 
> Rekan di Milis,
> Maaf kalau saya baru bisa nimbrung. Calon
> independen? Saya sich setuju banget, tapi nampaknya
> masih merupakan mimpi. It is still a long way to go.
> Mana mau orang yang sudah susah-susah mendirikan
> partai, gitu saja calon independen bisa melenggang
> jadi pemimpin, apa itu Bupati kek, Gubernur kek?
> Beberapa hari lalu saya punya pengalaman
> menarik. Saya dalam perjalanan dari Singaraja ke
> Lovina. Dijembatan Anturan, saya papasan dengan
> sebuah sedan persis ditengah jembatan. Tiba-tiba
> dari arah berlawanan datang rombongan plat merah
> dengan sirene yang nguing..nguing..nguing, langsung
> saja menyalip mobil sedan yang berpapasan dengan
> saya. Waduh, ampun mak, hanya nasib baik saja masih
> menyelamatkan saya. Disaat itu saya jadi ingat waktu
> kampanye Pilkada. Calon Bupati dan Wakilnya
> teriak-teriak bahwa kalau mereka dipilih mereka
> bukanlah kemenangan mereka, tapi kemenangan rakyat
> karena beliau adalah ABDI RAKYAT, PELAYAN RAKYAT.
> Setelah dipilih dan jadi Bupati, wah...wah... rakyat
> mesti harus mengalah, seperti yang saya alami
> dijalan itu. Ini DEMOKRASI atau DEMOCRAZY (seperti
> yang disiarkan metro). 
> Dengan kejadian itu, mari kita lihat sisi
> lucunya. Mari kita tertawa. He...he...he...
> SELAMAT TERTAWA. LAUGHTER IS THE BEST MEDICINE. 
> NS
> 
> R Susanto wrote:
> Semeton sekalian, 
> 
> Kali ini mungkin calon independen belum bisa, tapi
> mari kita persiapkan sejak saat ini untuk 5 tahun ke
> depan, siapkan kriterianya .... yang pasti harus
> Muda, minimal S1, Jujur dan Pengusaha (kapitalis
> yang Pancasilais!), dll., syukur-syukur perempuan
> (memimpin dengan kasih sayang dan maju). Mari
> ......kita siapkan!!!
> 
> Salam kangen dari Bandung,
> 
> R. Susanto
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: yayasan dbp 
> To: [email protected]
> Sent: Friday, April 18, 2008 10:18:14 AM
> Subject: [bali] Re: MARI MULAI PROSES DEMOKRASI
> MELALUI CALON INDEPENDEN?
> 
> 
> dear,
> mari kita kubur dulu membicarakan calon independen
> khususnya u pilkada bali. karena kpu dan instansi
> terkait sudah sepakat u tidak menunda pilkada bali.
> barangkali untuk waktu yang akan datang mungkin
> forum ini sangat bermafaat. ya .... kecuali depdagri
> berubah pikiran ..... ha ....ha ... ha ...
> 
> salam
> wayan
> 
> Asana Viebeke Lengkong wrote:
> Selamat pagi untuk semua,
> 
> untuk itu mari kita kemas bagaimana proses demokrasi
> melalui sosialisasi tentang peluang calon independen
> yang sudah memiliki kekuatan hukum.
> Mungkin kita bisa mulai membentuk sebuah forum
> komunikasi untuk hal ini, apa ada yang mau volunteer
> untuk mulai? Mulai dengan membuka saluran informasi
> melalui dialog di tv, di koran harian, di media
> lain, melalui selebaran informasi yang luas...
> sehingga peluang seperti ini menjadi terbaca dan
> dipahami oleh masyarakat sebagai sebuah proses
> pembelajaran politik; MUDA ATAU TUA tidak menjadi
> masalah, yang penting berkompetensi. ...
> 
> Kalau kita terus saja mengeluh atau saling
> menyalahkan proses berpolitik, mungkin sudah
> waktunya kita melakukan sesuatu yang positif. Kita
> bicara tentang politik kehidupan lebih dari pada
> politik praktis yang sekarang ini sangat simpang
> siur, mungkin ini juga merupakan suatu peluang jalan
> keluar agar kita semua tidak terjebak dengan kemelut
> partai dan calon calon yang ada.... calon independen
> tidak perlu ada subjek dulu yang penting penguatan
> dan pemberdayaan masyarakat nya bisa berlangsung
> melalui sosialisasi ini, yang kemudian masyarakatlah
> yang akan menentukan pilihan pemimpin independennya.
> ... saya rasa banyak kok stocknya... cuma belum
> muncul saja, maka mari kita mulai proses nya.... ada
> yang bersedia nggak? Sugi mungkin? Agung Wardana
> mungkin?
> 
> Kecil saja dulu... kemudian menyebar dengan
> alamiah.....
> 
> salam semua, viebeke
> 
> 
> 
> 
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with
> Yahoo! Mobile. Try it now.
> 
> 
> 
> 
> 
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with
> Yahoo! Mobile. Try it now.
> 
> 
> 
> 
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with
> Yahoo! Mobile. Try it now.
> 
> 
> 
>
____________________________________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and 
> know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ



____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

-- 
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : 
Berlangganan : 
Henti Langgan : 

    
---------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke