Majalah TEMPO, Edisi. 16/XXXVII/09 - 15 Juni 2008

Catatan Pinggir

BBM

Ia kurus, keras, kompetitif, brutal. Matanya sering menyempit, penuh wasangka 
dan cerdik. Rahangnya seakan-akan dibentuk buat melumat apa saja.

"Aku penuh persaingan. Aku tak mau ada orang lain berhasil. Kebanyakan orang 
kubenci."

Daniel Plainview, diperankan dengan meyakinkan oleh Daniel Day-Lewis dalam film 
There Will be Blood, mengenal baik perangainya sendiri. Ia harus mengalahkan, 
memukul, atau menipu untuk menang.

Tapi cerita ini bukan tentang jiwa yang sakit, betapapun sentralnya sosok 
Plainview di layar putih itu. Yang kita ikuti adalah kisah tentang kekuasaan 
yang membuat seseorang seakan-akan palu godam, tentang kemauan merengkuh dan 
memiliki yang membuat orang bengis. Sutradara dan penulis skenario Paul Thomas 
Anderson berkisah tentang seorang raja minyak di wilayah California pada awal 
abad ke-20.

Ia bertolak dari novel Sinclair Lewis, Oil!, yang terbit pada 1927. Tapi ada 
beda besar antara film Anderson dan novel Lewis. Tokoh Ross dalam Oil! bukan 
mirip seekor hewan yang paranoid seperti Plainview. Meskipun begitu, Ross 
dengan dingin menyogok politikus dan pejabat, yakin bahwa uang suap bisa 
membuat urusan cepat beres.

Dengan kata lain, Oil! juga hendak menunjukkan betapa berkilau dan licinnya 
minyak bumi, hingga orang sesat dan noda terjadi.

Kita tak hanya menyaksikannya dalam film dan membacanya dalam novel. Di 
Indonesia, kita mengalaminya dalam kehidupan: Indonesia pada 1970-an adalah 
Indonesia yang dimanjakan petrodolar, ketika Pertamina yang seharusnya milik 
Republik itu praktis jadi kerajaan pribadi Letnan Jenderal Ibnu Sutowo dan 
keluarganya, ketika kekayaan para pejabat perusahaan itu berkilau-kilau, 
tersimpan hingga di sudut yang jauh di luar negeri, ketika korupsi dan 
kemewahan membludak seperti tak akan berakhir-dan mungkin memang belum berakhir.

Kejiwaan yang dibentuk oleh uang yang licin, berkilau, dan melimpah dari barel 
demi barel itulah yang merupakan awal jalan sesat Indonesia.

Memang para pejabat Pertamina dan anak cucunya yang gombyor itu bukan makhluk 
seperti Daniel Plainview yang bertulang keras dengan wajah yang siap menerkam. 
Tapi justru perbedaan ini menandai sesuatu yang lebih berarti: bagaimanapun, 
Plainview jadi kaya oleh tangan dan kakinya sendiri, sedangkan para pejabat 
Pertamina dan anak cucu mereka hampir tak pernah meneteskan keringat untuk 
memperoleh harta & kuasa yang begitu menjulang.

Yang merisaukan, kecenderungan gombyor itu menular: seakan-akan Indonesia tak 
harus bersakit-sakit dahulu, seakan-akan kekayaan alam akan selalu tersedia. 
Maka segala hasrat untuk megah & mentereng pun berkobar: pada masa itu ada yang 
berniat membangun "industri" penerbangan tanpa peduli perhitungan laba-rugi, 
ada yang dengan gampang berutang untuk membuat pabrik-pabrik pupuk terapung dan 
armada kapal tangki minyak raksasa; lapangan golf luas pun dibuka di mana-mana, 
rumah mewah besar yang lebih bergas ketimbang yang di Beverly Hills didirikan 
di hampir tiap kota besar.

Saya ingat arsitek pembangunan ekonomi Indonesia, Widjojo Nitisastro, memandang 
gila-gilaan waktu itu dengan masygul: "Seharusnya, kita tak punya minyak.."

Tapi Widjojo dan para ekonom lain yang terkenal dengan "uang ketat" itu tak 
sepenuhnya berkuasa. Presiden Soeharto memang mendengar suara mereka-tapi tak 
selalu, dan tak lama. Mewah dan manja telah jadi jalan sesat Indonesia.

Memang ada usaha untuk mencoba mengingatkan, tapi usaha itu tak laku. Pada 1972 
terbit sebuah laporan yang mengejutkan dunia, The Limits to Growth. Buku itu 
hasil penelitian yang ditugasi oleh The Club of Rome, sebuah lembaga swasta 
yang didirikan Aurelio Peccei, industriawan Italia, dan Alexander King, ilmuwan 
Skotlandia. Dalam The Limits to Growth kita diingatkan, pertumbuhan ekonomi 
akan ada batasnya dan sumber energi akan kian habis.

Saya ingat cendekiawan terkemuka Indonesia, Soedjatmoko, yang diundang untuk 
ikut membahas laporan itu, pulang ke Indonesia dan menyerukan agar kita 
meninjau kembali "strategi pembangunan" . Ia bicara tentang perlunya "teknologi 
madya" yang ramah terhadap lingkungan dan hemat minyak bumi.

Saya menyebutnya "neo-Gandhiisme" : gema suara Gandhi yang memilih hidup 
sederhana, dengan peralatan bersahaja, dan hasrat yang tak muluk dalam 
menikmati benda-benda.

Tapi "neo-Gandhiisme" itu lenyap sebelum jadi. Mungkin karena di dalamnya tak 
ditelaah bagaimana nanti posisi Indonesia di depan dunia luar yang terus 
menumbuhkan ekonomi dan kekuatan teknologi. Semboyan "kecil itu indah" 
Schumacher terdengar terlalu romantis. Di negeri Gandhi sendiri, India, 
teknologi dikembangkan- juga senjata nuklir.

Dan kita juga abai kembali. Kita terus di jalan minyak yang berkilau, licin, 
dan menyesatkan. Melalui "krisis moneter" 1989, kita terus menghimpun mobil 
mewah (dan mendapatkan subsidi untuk bensinnya) dan terus mendirikan mall demi 
mall (dan menikmati subsidi untuk listriknya). Kita melanjutkan "Sutowo-isme" 
yang alpa bahwa energi, terutama BBM, akan mencekik kita.

Maka, ketika harga minyak membubung di dunia, kita kaget. Kita lupa pada 1998 
Campbell dan Laherrere sudah mengumumkan ke dunia harga minyak tak akan bisa 
turun. Kita lupa pertumbuhan ekonomi Cina dan India akan mengkonsumsi BBM 
dengan pesat. Permintaan pun naik, persediaan terbatas.

Kini kita protes karena harga menjulang-dan bukan mengecam pemerintah yang 
takut mengingatkan rakyat bahwa jalan di depan niscaya pedih, bukan jalan 
sim-salabim "blue energy".

"Akan ada darah", itulah kemungkinan yang menakutkan dari riwayat minyak. Di 
salah satu adegan Plainview memperingatkan, ". Kalian punya kesempatan baik di 
sini, tapi ingat, kalian bisa kehilangan ini semua jika tak berhati-hati. ."

Bicarakah ia kepada kita?

Goenawan Mohamad

Kirim email ke