Saya pernah menulis di Jakarta Post dan kemudian dilansir di Internet " Bali's 
tourism industries destroy itself ", ada yang berpendapat bahwa saya "mekecuh 
menek". Ya itu wajar-wajar saja. Saya tidak mau "mungain jit" kata orang Bali, 
selalu menyanjung-nyanjung diri sendiri. Sebenarnya itu juga yang terjadi 
dengan pariwisata Bali. Pejabat berlomba-lomba keluar negeri dengan bendera 
"promosi" pariwisata, semua proyek dicap dengan brand pariwisata tetapi 
kenyataannya apa yang diharapkan wisatawan seperti keamanan, keselamatan dan 
kenyamanan sama sekali tidak digubris. 
Perda tata ruang dibuat, ada kawasan pariwisata dan kawasan industri. Dikawasan 
pariwisata pemerintah mengijinkan dibangun PLTGU, nanti dikawasan industri  
dibangun hotel-hotel supaya wisatawan bisa santai.Tembakau dipakai rokok enak. 
Daging sapi dibuat bakso enak. Tembakau dicampur bakso, katanya juga enak.  
Garis sempadan pantai, sungai, jalan diatur dengan Perda. Faktanya pasir habis 
dibanguni hotel, bangunan, sungai jadi got, hutan lindung jadi villa, danau 
jadi kering, air tidak ada lagi. 
Apa lagi? Kita hanya bisa tertawa. Oleh karena itu, rekan-rekan marilah kita 
tertawa: ha...ha....ha......
Laughter is the best medicine.
NS

--- On Thu, 8/14/08, Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [bali] BALI - DESTINATION OF YESTERDAY
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected]
Date: Thursday, August 14, 2008, 10:32 AM





Aku suka sekali opini ini.  so correct and terperinci......
 




» Opini

Kamis, 14 Agustus 2008

Bali Ternyata hanya ''Destination Of Yesterday"

Oleh Berata Ashrama

PARADOKS! Kata ini, mungkin, tepat menggambarkan peringkat Bali dalam indeks 
daya saing pariwisata dunia. Paradoks, karena Bali yang selama ini selalu 
dipuji -- sebagai pulau impian (the island of dreams), sorga terakhir (last 
paradise), pulau damai (the island of peace), pulau dewata (the island of God), 
bahkan the best destination of the world, dan segudang sanjungan memabukkan 
lainnya -- namun kenyataannya hanya destination of yesterday (destinasi 
kemarin). Sebuah predikat yang bisa dipahami sebagai ''DTW basi atau masam'' 
karena sudah mengalami proses pembusukan.

Rakyat dan pecinta Bali tak perlu marah. Sebab, World Travel & Tourism Council 
(WTTC) melalui World Economic Forum (WEF) sudah mengumumkan ke publik posisi 
Indonesia -- Bali ada di situ -- di urutan 60 dalam indeks daya saing 
pariwisata dunia. Swiss, Prancis berada di puncak anak tangga, menyusul 
Austria, Jerman, Irlandia, USA, Hongkong, Kanada, Singapura, Luksemburg dan 
Inggris masuk peringkat 10, Jepang 25, Taiwan 30, Malaysia 31, Korea 42, dan 
Thailand urutan 43.

Dalam penentuan peringkat tersebut, WTTC menggunakan 13 aspek perhitungan 
(indikator) dengan pendekatan kualitas dan keandalan destinasi jangka panjang 
(long-term mainstay): (1) peraturan dan kebijakan pemerintah; (2) kualitas 
lingkungan; (3) keselamatan dan kenyamanan; (4) kebersihan dan kesehatan; (5) 
prioritas sektor pariwisata; (6) infrastruktur transportasi darat; (7) 
infrastruktur transportasi udara; (8) teknologi informasi; (9) infrastruktur 
pariwisata; (10) harga; (11) kualitas sumber daya manusia; (12) persepsi 
pariwisata nasional; (13) sumber daya alam dan kebudayaan.

Di dalam memaknai 13 indikator tersebut, Bali (Indonesia) hanya unggul pada 
kriteria 10 (harga murah). Jadi, bisa dipersepsikan bahwa Bali (Indonesia) 
mampu bertahan di urutan 60 hanya karena ''strategi'' menjual murah Pulau 
Dewata dan kebudayaannya. Ini menguatkan stigmatisasi ''jual-beli kepala'' yang 
heboh belakangan di Bali, atau ''menginap lima kali, bayar dua kali'' atau 
''hanya bayar sewa kamar dapat breakfast, spa, sport, souvenir'' atau dalam 
skala mikro yang menyentuh pelaku budaya ''seniman dipanggil pentas di depan 
wisatawan asing (hotel) dengan bangga menyatakan OK walau diangkut truk dan 
bayarannya di bawah standar''.

tandar, memang, nyaris tak terdengar di Bali. Kalaupun ada, biasanya, 
mentah-mentah mengikuti kemauan pasar (price taker). Jadi, tak salah disebut 
''Bali untuk pariwisata'' dan bukan ''pariwisata untuk Bali''. Perihal 
standardisasi, komponen Bali terutama private sector (pelaku bisnis) dan public 
sector (penguasa) memang jarang bangga dengan kekuatan lokal. Karenanya, pasti 
susah mendukung penguatan standar mengacu ke local genius (kearifan lokal), 
walau sesungguhnya itulah yang dicari turis.

Selain WTTC, Badan Pariwisata Dunia (UN-WTO) mengeluarkan juga ramalan turisme 
masa depan dengan pendekatan jumlah/kuantitas, dan Cina diposisikan paling atas 
karena diperkirakan mampu meraup 130 juta wisman tahun 2020, Prancis (106 
juta), AS (102 juta), Spanyol (73,9 juta), Hongkong (56,6 juta), Italia (53,5 
juta), Inggris (52,8), Meksiko (48,9 juta), Rusia (48 juta), Cheko (44 juta). 
Apa Bali (Indonesia) yang punya ''strategi'' harga murah bisa unggul tahun 
2020? Tidak! Bali (Indonesia) diperkirakan jeblok ke peringkat 100 jika pola 
pengembangan pariwisatanya sama seperti sekarang.

Ramalan UN-WTO ini ada baiknya dipakai bahan mawas diri untuk lebih serius 
belajar kepada destinasi unggulan dunia yang tidak menjual murah pulau dan 
budayanya. Sebab, cara ini justru membuat reputasi dan integritas Bali tambah 
melorot, sekaligus mempercepat ''proses pembusukan'' tadi.

Pembusukan

Pembusukan yang paling kentara selama ini -- dan, kalau diteruskan praktis 
menambah buram Pulau Dewata -- adalah berkaitan dengan (1) penataan ruang makin 
kacau-balau karena Perda RUTRW Propinsi sudah kedaluwarsa, komitmen penguasanya 
rendah, dan penegakan hukumnya lembek; (2) pengembangan produknya salah haluan; 
(3) manajemen destinasinya amburadul; (4) pembangunan infrastruktur 
kepariwisataan dan pendukungnya salah kaprah.

Inilah penyebab utama daya tarik Bali menurun (less competitive), posisi 
tawarnya melemah (bargaining less position), produk duplikasinya diambil --alih 
pesaing, dan produk intinya -- itu tadi -- didikte pasar (price taker). 
Karenanya, tidak usah marah kalau predikat destination of yesterday jatuh 
bagaikan anak panah lepas dari busurnya menancap ke pusar Bali, terus menghalau 
''turis bermutu'' dengan digantikan ''turis murah'' yang length of stay-nya 
pendek, spend of money-nya rendah, daya rusaknya tinggi. Kita sebut daya 
rusaknya tinggi karena tak semua ''turis murah'' datang ke Bali untuk menikmati 
harga murah, tetapi tak sedikit di antara mereka datang untuk mencari 
pekerjaan, bisnis narkoba, mabuk-mabukan, mengumbar nafsu seks. Ini praktis 
menambah kelam langit Bali, dan oleh karenanya jangan terkejut nanti kalau 
dipredikati last year's destination.

Penguasa Bali dalam dua dasawarsa terakhir memandang kepariwisataan hanya dari 
dimensi industri. Memburu pertumbuhan, mengabaikan pemerataan. Mencambuk 
produktivitas, menafikan loyalitas. Memompakan efisiensi, meremehkan 
efektivitas. Terlalu percaya kepada teori menetes ke bawah (trickle-down) 
sehingga keberpihakannya lebih berat ke pengusaha, bukan ke rakyat. Jadi, benar 
cerita Gubernur Bali terpilih Made Mangku Pastika bahwa tatkala kampanye ke 
desa-desa dulu, dirinya menemukan banyak krama Bali berpenghasilan Rp 
10.000/hari untuk menghidupi empat kepala (suami, istri, dua anak). Sementara 
di seberang sana orang-orang bergelimangan dolar.

Rakyat Bali, memang, hanya jadi objek, bukan subjek. Cara ini akhirnya 
melahirkan mentalitas eksploratif, eksploitatif, intoleran, imbalance, 
disharmoni terhadap alam dan budaya. Pelakunya tidak semata-mata rakyat miskin 
akibat tekanan perut lapar, tetapi justru lebih sporadis dan destruktif 
dilakukan oleh oknum penguasa dan si serakah berkantong tebal.


Penulis, Pemimpin Umum/Perusahaan Media Pariwisata Bali Travel News dan Ketua 
Pengurus Alumni FE Unud

* Penguasa Bali dalam dua dasawarsa terakhir memandang kepariwisataan hanya 
dari dimensi industri.

* Tak semua ''turis murah'' datang ke Bali untuk menikmati harga murah, tetapi 
tak sedikit di antara mereka datang untuk mencari pekerjaan, bisnis narkoba, 
mabuk-mabukan, mengumbar nafsu seks.

* Rakyat Bali, memang, hanya jadi objek, bukan subjek. Cara ini akhirnya 
melahirkan mentalitas eksploratif, eksploitatif, intoleran, imbalance, 
disharmoni terhadap alam dan budaya.



      

Kirim email ke