Very good idea kalau ditinjau dari teknisnya.... dan masuk dalam indikasi no. 8

Apapun masukkan yang terukur bisa saja di lakukan..... kalau dapat dilihat 
secara matrix.... objectnya, subjectnya, kebutuhannya, permasalahannya, 
mekanisme jalan keluarnya...... siapa siapa saja yang bertanggung jawab 
melakukannya, petisinya kalau perlu untuk di sampaikan kepada 'si pengambil 
keputusan' dan juga 'si pembuat peraturan'..... semua bisa terbaca visi, misi, 
input indikasi, output yang di harapkan lengkap dengan siapa siapa nya.....

Kenyataannya : namun kenyataannya hanya destination of yesterday (destinasi 
kemarin). Sebuah predikat yang bisa dipahami sebagai ''DTW basi atau masam'' 
karena sudah mengalami proses pembusukan.
Di dalam memaknai 13 indikator tersebut, Bali (Indonesia) hanya unggul pada 
kriteria 10 (harga murah). 

akibatnya : banyak krama Bali berpenghasilan Rp 10.000/hari untuk menghidupi 
empat kepala (suami, istri, dua anak). Sementara di seberang sana orang-orang 
bergelimangan dolar.

Rakyat Bali, memang, hanya jadi objek, bukan subjek. Cara ini akhirnya 
melahirkan mentalitas eksploratif, eksploitatif, intoleran, imbalance, 
disharmoni terhadap alam dan budaya


WTTC menggunakan 13 aspek perhitungan indikator dengan pendekatan kualitas... 
jadi itu adalah yang perlu di perhatikan satu per satu < WTTC menggunakan 13 
aspek perhitungan (indikator) dengan pendekatan kualitas dan keandalan 
destinasi jangka panjang (long-term mainstay): (1) peraturan dan kebijakan 
pemerintah; (2) kualitas lingkungan; (3) keselamatan dan kenyamanan; (4) 
kebersihan dan kesehatan; (5) prioritas sektor pariwisata; (6) infrastruktur 
transportasi darat; (7) infrastruktur transportasi udara; (8) teknologi 
informasi; (9) infrastruktur pariwisata; (10) harga; (11) kualitas sumber daya 
manusia; (12) persepsi pariwisata nasional; (13) sumber daya alam dan 
kebudayaan.


kemudian sudah juga permasalahan pokok yang berkaitan ada 4 yang perlu 
perbaikan, di re invent kembali, di revitalisasi.... <adalah berkaitan dengan 
(1) penataan ruang makin kacau-balau karena Perda RUTRW Propinsi sudah 
kedaluwarsa, komitmen penguasanya rendah, dan penegakan hukumnya lembek; (2) 
pengembangan produknya salah haluan; (3) manajemen destinasinya amburadul; (4) 
pembangunan infrastruktur kepariwisataan dan pendukungnya salah kaprah.


Ukuran perbandingannya sudah jelas juga <World Travel & Tourism Council (WTTC) 
melalui World Economic Forum (WEF) sudah mengumumkan ke publik posisi Indonesia 
-- Bali ada di situ -- di urutan 60 dalam indeks daya saing pariwisata dunia. 
Swiss, Prancis berada di puncak anak tangga, menyusul Austria, Jerman, 
Irlandia, USA, Hongkong, Kanada, Singapura, Luksemburg dan Inggris masuk 
peringkat 10, Jepang 25, Taiwan 30, Malaysia 31, Korea 42, dan Thailand urutan 
43.

Malahan prediksinya pun jelas <ramalan turisme masa depan dengan pendekatan 
jumlah/kuantitas, dan Cina diposisikan paling atas karena diperkirakan mampu 
meraup 130 juta wisman tahun 2020, Prancis (106 juta), AS (102 juta), Spanyol 
(73,9 juta), Hongkong (56,6 juta), Italia (53,5 juta), Inggris (52,8), Meksiko 
(48,9 juta), Rusia (48 juta), Cheko (44 juta). Apa Bali (Indonesia) yang punya 
''strategi'' harga murah bisa unggul tahun 2020? Tidak! Bali (Indonesia) 
diperkirakan jeblok ke peringkat 100 jika pola pengembangan pariwisatanya sama 
seperti sekarang.


* Penguasa Bali dalam dua dasawarsa terakhir memandang kepariwisataan hanya 
dari dimensi industri. 

* Tak semua ''turis murah'' datang ke Bali untuk menikmati harga murah, tetapi 
tak sedikit di antara mereka datang untuk mencari pekerjaan, bisnis narkoba, 
mabuk-mabukan, mengumbar nafsu seks.

* Rakyat Bali, memang, hanya jadi objek, bukan subjek. Cara ini akhirnya 
melahirkan mentalitas eksploratif, eksploitatif, intoleran, imbalance, 
disharmoni terhadap alam dan budaya.

Kita perlu untuk melihat ini secara keseluruhan dengan jelas dan ini hanya 
mungkin melalui matrix yang dapat di baca secara runtun (sequence: something 
that follows; a subsequent event; result; consequence), hal ini yang kurang di 
latih di sekolah sekolah kita di Indonesia. 

Kalau ada teman yang bisa membuat matrix ini dapat di bandingkan satu dengan 
yang lainnya agar bisa 'nyambung'.

Makasi

Vieb 

  ----- Original Message ----- 
  From: Wibisono Sastrodiwiryo 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Thursday, August 14, 2008 7:11 PM
  Subject: [bali-bali] Re: BALI - DESTINATION OF YESTERDAY


  --- In [EMAIL PROTECTED], "Asana Viebeke Lengkong"
  <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > Wah Bli Kar, ini sudah mekecakan dimana mana kalau soal web tentang
  Bali pariwisata....

  Sebenarnya apa yang diusulkan oleh Bli Nengah Karma masih relevan.
  Sebab situs web yang mekacakan itu hanya menunjukan kuantitas tapi
  belum kualitas.

  Sekarang ini situs web yang ada masih dipandang sebagai alat promosi
  saja. Belum banyak dipakai sebagai aplikasi penunjang penyelenggaraan
  pariwisata yang terintegrasi secara sistematik.

  Kalaupun sudah ada yang bisa dipakai sebagai aplikasi untuk hotel
  reservation/registration tapi masih sporadis dan tidak terintegrasi
  guna membentuk suatu peta layanan yang utuh.

  Kebanyakan orientasi web site sekarang ini masih berorientasi pada
  content, padahal dengan berorientasi pada content maka sumber daya
  akan terpecah.

  Bayangkan tiap tiap hotel atau biro perjalanan yang memiliki
  websitenya masing masing, mereka akan memprovide content dari
  produk/layanan mereka hanya untuk dan tersedia di website mereka.

  Perusahaan lain akan melakukan hal yang sama sehingga terjadi
  redundancy untuk beberapa informasi yang sebenarnya tidak perlu redundant.

  Jika web site tersebut dibangun dengan berorientasi layanan (service
  oriented architecture) maka situs situs web bisa saling terhubung dan
  berbagi layanan sehingga sebuah situs web tidak perlu membuang buang 
  resource untuk hal yang sudah diprovide oleh layanan website yang lain. 

  Ini sangat menghemat resource dan yang paling penting kita bisa
  membangun sebuah sitemap global yang menunjukan layanan secara
  keseluruhan yang ada di Bali. 

  Untuk bisa seperti ini dibutuhkan kerelaan para content provider
  tersebut untuk berbagi content mereka misalnya dengan memberi license
  creative common pada content mereka sehingga pihak lain bisa mengambil
  contentnya untuk dipasang di website yang lain.

  Problem yang sering terjadi jika sebuah perushaan telah memiliki
  database tentang sesuatu maka perusahaan tersebut tidak bersedia
  sharing databasenya kepada yang lain. 

  Tapi ini masih bisa diakalin dengan menyediakan layanan web 2.0
  Yang terbaik adalah pihak pihak yang memiliki database dan content
  rela share informasi mereka untuk kepentingan bersama.

  Waduh.. mudah mudahan uraian saya tidak terlalu teknis yah.

  Seandainya ada lampu hijau tentang kebersediaan share database maka
  bisa saja kita mulai sebuah project berorientasi layanan untuk dapat
  digunakan secara luas.

  Suksma

  Wibi



  __._,_.___ 
  Messages in this topic (6) Reply (via web post) | Start a new topic 
  Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar 
   
  Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
  Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
  Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity
    a..  2New Members
  Visit Your Group 
  New business?
  Get new customers.

  List your web site

  in Yahoo! Search.

  Everyday Wellness
  on Yahoo! Groups

  Find groups that will

  help you stay fit.

  Yahoo! Groups
  Come check out

  featured healthy living

  groups on Yahoo!
  . 
  __,_._,___ 

Kirim email ke