program yang dijalankan oleh bupati sragen pak untung wiyono ini dari dulu 
cukup inovative, salah satunya bikin perda: bagi pasangan yang cerai di 
wajibkan untuk menanam pohon 25 biji, yang membuat kota sragen menjadi semakin 
hijau. sepertinya programnya cukup bersaing dengan program-program dari bupati 
jembrana profesor Gede Winasa.
 
semoga bupati-bupati di bali bisa cepat meniru program yang baik dari luar dan 
di terapkan di bali demi kesejahteraan rakyat bali.
 
salam,

--- IBM Wisadnya <[EMAIL PROTECTED]> schrieb am Fr, 15.8.2008:

Von: IBM Wisadnya <[EMAIL PROTECTED]>
Betreff: [hindu] refrence dari Sragen untuk birokrat di Bali atau Kabuaten.... 
dari Swa
An: [EMAIL PROTECTED]
Datum: Freitag, 15. August 2008, 7:42

Kabupaten Sragen: Banyak Kebijakan dan Terobosan Probisnis
Kamis, 07 Agustus 2008
Oleh : Dede Suryadi dan Wini Angraeni
Sejumlah kebijakan probisnis diterapkan di Kabupaten Sragen, Jawa
Tengah, yang dimotori Bupati Untung Wiyono. Namun, masih ada sejumlah PR
yang perlu segera ditangani. 

Jap Sanjaya, pemilik PT Hanin Nusa Mulya (HNM), merasakan betul
kemudahan mengurus perizinan untuk membuka usaha baru di Sragen.
Perusahaan yang memproduksi pakaian jadi buat ekspor ini baru
pertengahan 2007 mendirikan pabrik di Sragen. Lebih dari 1.000 orang
tenaga kerja di Sragen bekerja di pabrik HNM. "Di Sragen, pengurusan
izin sangat mudah. Semua pengurusan izin berada dalam satu atap yang
dinamakan Badan Pelayanan Terpadu, dan waktu pengurusan izin hanya dua
hari," Jap menuturkan pengalamannya. 

Memang, Pemkab Sragen tak mempersulit pengurusan izin ataupun surat
lainnya seperti kartu tanda penduduk, akte kelahiran, akte kematian,
sertifikat tanah, izin mendirikan bangunan, surat izin usaha, pajak
reklame, hingga izin penutupan jalan. Bahkan, jika membutuhkan informasi
atau ingin melakukan pengaduan, tersedia pula petugas yang siap berjaga
di bilik pelayanan informasi dan pengaduan. Semua itu diberikan melalui
layanan yang mereka sebut one stop services - yang dipusatkan di sebuah
gedung bernama Badan Pelayanan Terpadu (BPT).

" Tidak perlu datang ke berbagai tempat, tapi cukup datang ke satu
tempat, semua selesai di satu tempat," ujar Isnadi, Ketua BPT Sragen.
"Kami jamin tidak akan ada pungutan tidak resmi satu sen pun," ia
menegaskan seraya menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, pengurusan
izin di BPT lebih cepat 65% dari standar yang sudah ditetapkan. Data itu
diperoleh dari hasil survei rutin yang dilakukan BPT. 

Cikal bakal BPT berawal sejak Oktober 2002. Saat itu lembaga ini masih
berupa unit pelayanan yang disebut Unit Pelayanan Terpadu (UPT). Tahun
2003, UPT berganti nama menjadi Kantor Pelayanan Terpadu (KPT).
Selanjutnya, untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan memudahkan
koordinasi dengan stakeholder, status KPT ditingkatkan menjadi BPT.
Tujuan pendirian badan ini - tak lain dan tak bukan - supaya Sragen
memiliki pelayanan perizinan dan nonperizinan yang prima dan satu pintu.
Dengan demikian, diharapkan akan mendorong terciptanya iklim usaha yang
kondusif bagi penanaman modal dan investasi dalam rangka pemberdayaan
ekonomi masyarakat Kabupaten Sragen. Jumlah perizinan yang dilayani pun
meningkat seperti pada 2006 sebanyak 6.576 menjadi 7.179 pada 2007.

Selain berdirinya BPT, Pemkab Sragen yang dimotori oleh bupatinya,
Untung Wiyono, juga membuat serangkaian kebijakan probisnis yang
dituangkan dalam Peraturan Daerah (Perda). "Peraturan Daerah yang
diberlakukan di Kabupaten Sragen tidak ada yang tidak mendukung iklim
usaha dan investasi," kata Untung yang menjabat Bupati Sragen sejak
2001. Malah selama 7 tahun, pihaknya tidak membuat Perda baru yang
terkait dengan pungutan masyarakat/pengusaha. Juga, untuk pajak reklame
diklaim yang termurah di Indonesia. 


"Perda yang membuat ekonomi biaya tinggi banyak yang dihapus," ia
menegaskan. Bahkan, saat ini Pemkab Sragen membebaskan seluruh biaya
perizinan di Kawasan Industri Kalijambe Sragen; Surat Izin Usaha
Perdagangan dan Tanda Daftar Perusahaan pengusaha pemula digratiskan;
serta pembebasan biaya retribusi bagi investor yang ramah lingkungan dan
menyerap tenaga kerja relatif banyak (100 orang atau lebih). Di samping
itu, ada pula Perda tentang pembentukan Kantor Investasi dan Promosi,
Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik, dan Penyertaan Modal Daerah
kepada Pihak Ketiga.

Yang menarik dari serangkaian kebijakan itu, Pemkab Sragen juga melarang
pembangunan mal selama 20 tahun ke depan. "Saya sudah menetapkan Perda,
bahwa 20 tahun ke depan di Sragen tidak ada mal, terhitung mulai tahun
2006," Untung menegaskan. Pasalnya, Pemkab Sragen ingin lebih
mengoptimalkan pasar tradisional lantaran lebih besar potensinya untuk
dikembangkan. Maka, Pemkab berencana memugar semua pasar di Sragen
menjadi lebih bagus lagi. Proyek pertama adalah mengubah Pasar Bunder
menjadi lebih modern dengan dana Rp 25 miliar. Ini merupakan pasar
sentral yang operasionalnya 24 jam nonstop. 

Menurut Untung, setiap daerah memiliki karakteristik tersendiri, dari
segi geografis, keadaan masyarakat, dan budayanya. Untuk bisa menarik
investor dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, harus dilihat potensi
daerah itu sendiri disesuaikan dengan karakteristiknya. Dijelaskan
Untung, kabupaten yang ia pimpin perkembangannya harus sinkron. "Sragen
itu pengembangannya terintegrasi, satu Sragen sebagai penyangga lumbung
padi Jawa Tengah. Kami punya field padi. Jadi, ini harus dioptimalkan
dan berkelanjutan," ujarnya seraya menambahkan, selain padi, Sragen
mengembangkan pula tanaman lainnya seperti tebu dan palawija. "Di
seluruh dunia pasti tidak ada yang seperti kami. Thailand mengklaim bisa
panen padi setahun dua kali dan sistem tanamnya disebar, tapi di Sragen
setahun bisa tiga kali dan sistem tanamnya lebih canggih, termasuk
produksinya. Kami sekarang cuma masih kalah di pengelolaan pascapanen,"
Untung menjabarkan dengan bangga.

Selain pertanian, Untung juga punya perhatian terhadap pengembangan
industri rumah tangga, seperti garmen, produksi makanan dan furnitur.
Hasilnya, "Dalam lima tahun, jumlah perajin meningkat dari 4 ribu
menjadi 16 ribu lebih," ungkapnya. Selanjutnya, pengembangan di bidang
perdagangan dan jasa. Juga, pengembangan di sektor pariwisata. Sragen -
selain sumber air panas - juga memiliki situs sejarah, world heritage
Sangiran (tempat ditemukan fosil 72 jenis manusia purba dan fosil kedua
tertua di dunia). 

Yang tak kalah penting, agar Sragen diminati investor, Pemkab Sragen
berupaya jemput bola. Malah Untung mengatakan, kendati tidak memiliki
bandara dan pelabuhan, Sragen masih diminati investor. "Ini karena
ditunjang oleh pemerintahan yang tidak merepotkan, kami jemput bola,
kami lindungi mereka. Intinya mereka harus nyaman melakukan investasi di
Sragen," Untung menuturkan. Berdirinya BPT adalah salah satu bukti
komitmennya mempermudah investor. 

Di samping itu, dalam upayanya memberi pelayanan yang baik bagi publik,
Pemkab Sragen sudah menerapkan e-government. "Untuk pelayanan publik
harus ada e-government, karena sekarang ini sudah desenstralisasi di
kecamatan dan desa, mengurus sesuatu kan tidak harus ke kabupaten," ia
menerangkan. Setiap daerah pun harus bisa mandiri, seperti pengembangan
telepon lokal dan Internet, sehingga kerja sama antardaerah semakin
mudah, rakyat pun bisa berkomunikasi ke mana saja. "Kalau orang
Karanganyar mau tinggal di Sragen, ya form-nya satu, sama, itu
efisiennya," ia menambahkan. 

Pihaknya kini juga membantu sejumlah daerah di Indonesia untuk
mengadopsi sistem e-gov Sragen. "TI ini sudah dunia maya, jadi bisa
online ke mana saja," ujar Untung. Semua daerah, lanjut Untung, memang
harus mengembangkan e-gov. Tidak masalah, kendati sistemnya berbeda,
yang penting bisa terhubung, sehingga kerja sama lintas regional tidak
ada kendala lagi dan biayanya murah.

Dengan adanya kebijakan dan perubahan tersebut, hasilnya signifikan.
Sebagai contoh, dalam lima tahun terakhir jumlah investasi yang masuk ke
daerah ini terus bergerak. Seperti tahun 2003, investasi yang masuk ke
kabupaten ini baru mencapai Rp 703 miliar, dan pada 2007 meningkat
menjadi Rp 1,3 triliun. Demikian pula Pendapatan Asli Daerah Sragen,
ikut terkerek. Pada 2003 sebesar Rp 68 miliar, dan pada 2007 sudah
mencapai Rp 98,69 miliar. Sementara itu, Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) Sragen berdasarkan data Bank Indonesia tahun 2007 mampu mencapai
pertumbuhan tertinggi di wilayah Surakarta, yaitu 6,89%. Meski begitu,
nilai PDRB-nya belum begitu besar: baru Rp 1,3 triliun di tahun 2007. 

Hanya saja, sebuah survei menyebutkan, efisiensi Pemkab Sragen terendah
di wilayah eks Karesidenan Surakarta, Ja-Teng. Dari skala indeks 10,
Sragen hanya mendapat indeks 3,71, di bawah Kota Solo (3,95). Peringkat
teratas adalah Kabupaten Klaten dengan indeks 7,96. Hal itu terungkap
dalam hasil Survei Iklim Usaha Jawa Tengah pada Proyek Kerja Sama Teknis
Jerman-Indonesia melalui Program Pengembangan Ekonomi Wilayah (Deutsche
Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit-Regional Economic
Development), bekerja sama dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan
Daerah Provinsi Ja-Teng, serta Kantor Bank Indonesia Semarang yang
dipaparkan di Kota Solo pada Juni 2008. 

Menanggapi survei tersebut, Untung mengaku tidak sependapat. "Sragen
berdasarkan penilaian Bank Indonesia tinggi, kok hasilnya seperti itu,"
ujarnya mempertanyakan. Menurut Untung, ada keganjilan di riset ini.
"Wong kami mengikuti terus, di riset ini selalu progresnya baik, kok
malah hasilnya seperti itu. Survei ini tidak benar," katanya. 

Terlepas dari kontroversi itu, Djarwanto, pengusaha asal Sragen mengakui
bahwa Pemkab Sragen terus membuat iklim usaha dan investasi di daerah
ini makin kondusif. "Selama Pak Untung memimpin, banyak sekali terjadi
perubahan di Sragen," kata pengusaha konstruksi ini sambil mencontohkan
banyaknya pembangunan jalan dan sekolah unggulan bertaraf internasional.
Untuk warga yang tinggal 15-20 km dari Sragen dan sedang mengurus surat
izin, seperti sertifikat, bisa melihat secara online dari kantor
kelurahan atau kecamatan setempat untuk mengecek apakah sertifikatnya
sudah jadi atau belum. Sragen, menurutnya, sudah berkembang. Setiap
kecamatan jalannya sudah lebar minimum empat meter, kelurahan pun
jalannya hampir semua sudah bagus, tinggal perbaikan satu-dua lajur,
seperti jalan yang menuju Solo masih terlalu sempit. 

Kehadiran Untung sebagai Bupati Sragen memang telah banyak membawa
perubahan, terutama dalam mendorong aktivitas bisnis. Walau demikian,
masih banyak ruang yang perlu dibenahi untuk membuat Sragen lebih maju
lagi. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Majalah SWA dan Business
Digest, yang melibatkan 130 responden dari kalangan pengusaha di Sragen,
apa yang telah dilakukan Pemkab dalam mendorong aktivitas
bisnis/investasi, ternyata belum sesuai dengan harapan pengusaha. Skor
harapan mencapai 4,14 (angka tertinggi 5), tetapi skor kenyataan 2,96.
Jadi, Sragen baru memenuhi 71,37% harapan pengusaha.

Dengan menggunakan IPA Analysis, ada bebarapa hal yang dianggap penting
oleh pengusaha, tetapi performanya (berdasarkan penilaian pengusaha)
masih biasa-biasa saja, atau bahkan rendah, misalnya soal melindungi
kenyamanan dan keberlangsungan usaha, izin usaha yang mudah, biaya
pengurusan izin yang wajar, serta program mencarikan mitra dan pasar.
Jadi, masih banyak pekerjaan rumah, Pak Bupati.


Riset: Arya Eka Nugroho.

_______________________________________________
Hindu Dharma Mailling List [HDNet]
http://mx1.itb.ac.id/mailman/listinfo/hindu-dharma
http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Sie sind Spam leid? Yahoo! Mail verfügt über einen herausragenden Schutz gegen 
Massenmails. 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke