salam semangat,

yg jadi masalah bila tetangga kita bertengkar, dan parkirnya telinga kita tepat 
dimuka pintu.
selama sang tetangga gak ganggu tetangga lain kanan-kiri....file ini masih bisa 
bicara, kalau keluar dari noktah itu, jadilah monas ladang pembantaian.
drama dimulai lagi.

semoga kedamaian rukun tetangga menjadi ajeg.
msm

----- Original Message -----
From: Pan Bima<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]<mailto:[email protected]>
Sent: Tuesday, August 26, 2008 7:30 PM
Subject: [bali] Fwd: [indonesia] artikel bagus buat yang suka debat

Ini saya ambil dari milis tetangga, siapa tahu berguna (Bagi yang tidak 
berkenan, mohon maaf) :

Istri Tetangga

Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu belajar di Jogja. Waktu itu, 
tiap Rabu malam, saya dan teman- teman memilih nglurug ke patang puluhan, 
rumahnya Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan kiai mbeling Emha Ainun 
Nadjib.

 Kita bikin forum melingkar di situ. Biasanya kita bicara soal kesenian atau 
kebudayaan, tapi juga ngobrolin soal keagamaan.

 Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. Komandannya anak Solo, 
Nasution Wahyudi. Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dgn Nasution yang 
dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma mahasiswa atau pemuda yang beragama 
Islam. Pendek
 kata, pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar disitu.

 Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu.
 "Apakah anda semua punya tetangga?"

 Wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak kost, tentu saja kamar 
sebelah saya bisa disamakan dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi saya 
ikut-ikutan saja menjawab : "Tentu saja punya".

 Cak Nun melanjutkan bertanya : "Punya istri enggak tetangga Anda?"

 Sebagian hadirin menjawab : "Ya, punya dong".
 Saya diam saja. Rasanya tetangga kost saya bujangan semua. Kebanyakan jomblo. 
Maklum anak desa.
 Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya.

 Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya :
 "Apakah anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?
 Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus atau ada bekas korengnya ?"

 Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah pembicaraan Cak Nun.

 Kebanyakan menjawab : "Tidak pernah memperhatikan Cak. Ono opo Cak?"

 Cak Nun ndak peduli.
 Dia tanya lagi : "Body-nya sexy enggak?"

 Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh.
 Apalagi saya yang benar-benar tidak faham arah pembicaraan sang Kiai mbeling 
itu.

 Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis.
 Jawabannya bagus banget. Dan ini senantiasa saya ingat sampai hari ini. Sebuah 
prinsip pergaulan untuk sebuah
 negeri yang memilih Pancasila : "Jadi ya begitu. Jari kakinya lima atau tujuh. 
Bodynya sexy atau tidak bukan
 urusan kita,kan? Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah 
kita dialogkan, diskusikan atau
 perdebatkan. Biarin saja".

 "Kenapa cak?" salah satu teman bertanya, penasaran.

 "Ya apa urusan kita ? Nah, keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri 
orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, 
mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian 
bahwa istrinya
 begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati 
saja".

 Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan.
 Saya setuju dengan pandangan Cak Nun.

 Dia melanjutkan serius : "Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan 
itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini 
bahwa Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang 
Islam, agama lain itu salah, justru berdasar itulah maka ia menjadi orang 
Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan 
diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.

 Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan 
masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak 
usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu 
sunatnya pakai calak dan tidak
 pakai dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak 
usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. "

 Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya.

 Cak Nun terus berkata : "Itu prinsip kita dalam memandang berbagai agama. 
Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan 
pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke 
rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, 
padahal waktunya mendesak, dia boleh pinjam baju koko tetangganya
 yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung 
soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar 
dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.
 Begitu."

 Kami semua terus menyimak paparannya.

 "Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. Itu sama aja anda ngajak 
gelut tetangga anda. Mana ada orang yang mau isterinya dibahas dan diomongin 
tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai 
parpol, golongan,
 aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama di bidang usaha 
perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi 
masing-masing. "

 "Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki pagar bersama-sama, bisa 
gugur gunung membersihkan kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple 
dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, 
kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Itulah lingkaran tulus 
hati dgn hati. Itulah maiyah," ujarnya.

 Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris tanpa emosi. Tapi serius dan 
dalam. Saya menyimaknya sungguh-sungguh. Dan saya catat baik-baik dalam hati 
saya. Sayangnya dunia memang tidak ideal.
 Di Ambon dan Palu, misalnya saya lihat terlalu banyak orang usil mengurusi 
isteri tetangganya. Begitu juga di berbagai tempat di dunia. Di Bosnia. Atau 
yang paling baru di Irak dan Afghanistan. Akibatnya ya perang dan 
hancur-hancuran. Menyedihkan.

 Sangat menyedihkan.


--
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG. Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.6.1/1605 - Release Date: 
8/11/2008 4:59 PM



--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt



--
Gde Wisnaya Wisna
Jl.Dewi Sartika Utara 32A
Singaraja-Bali
website : www.lp3b.com<http://www.lp3b.com>

________________________________
IMPORTANT -
The contents of this email and its attachments are intended only for the 
individual or entity addressed above and may contain confidential and/or 
privileged material.
Any unauthorized use of the contents is expressly prohibited. If you receive 
this email in error, please contact us, then delete the email.
Please note that any views or opinions presented in this email are solely those 
of the author and do not necessarily represent those of the company and should 
not be seen as forming a legally binding contract without express written 
confirmation.
Finally, the recipient should check this email and any attachments for the 
presence of viruses. PT Astra Honda Motor accepts no liability for any damage 
caused by any virus transmitted by this email.

Kirim email ke