http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/2/2/b7.htm
 
Renungan Kuningan  ---
Mencapai ''Santha Jagadhita'' 
 
Hari ini, Sabtu Kliwon, umat Hindu kembali merayakan rerahinan Kuningan, 
setelah merayakan Galungan sepuluh hari lalu. Hari-hari raya keagamaan tersebut 
penting dimaknai hakikatnya, tak hanya dirayakan secara rutinitas. Sebab, 
banyak makna penting tersirat di dalamnya yang perlu ''dibumikan'' dalam 
kehidupan sehari-hari. 
 
Bagaimana dengan Kuningan? Apa yang mesti dimaknai dari perayaan Kuningan yang 
sarat dengan simbol-simbol atau niyasa upakara seperti tamiang, endongan dan 
sebagainya?
-------------------------- 
 
UMAT Hindu hendaknya jangan berhenti pada terselenggaranya perayaan hari 
keagamaan, tetapi memaknainya. Sebab, ada banyak makna yang terkandung dalam 
perayaan keagamaan tersebut. 
 
Dosen IHDN Denpasar yang mantan Dirjen Bimas Hindu Depag RI Dr. Wayan Suarjaya, 
M.Si. mengatakan, para leluhur membuat banyak rerahinan agar umat selalu ingat 
kepada Sang Pencipta -- Ida Sang Hyang Widi Wasa dan mensyukuri karunia-Nya. 
Melalui perayaan hari raya keagamaan, umat dituntut selalu ingat menyamabraya 
-- meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial. Selebihnya, melalui rerahinan 
umat diharapkan selalu ingat kepada lingkungan.
 
''Guna mendapatkan sarana upakara, umat mesti menjaga kelestarian lingkungan 
(kebersihan lingkungan). Selain buah, bunga dan daun (sarana upakara), umat 
menggunakan tirta (air suci) dalam penyelenggaraan yadnya. Karena itu dalam 
konteks ini, ada pesan penting yang mesti diimplementasikan dalam kehidupan 
sehari-hari, yakni umat mesti menjaga alam -- jangan mencemari air,'' ujarnya.
 
Tetapi kenyataannya, banyak sungai yang sudah tercemar. Di sinilah pentingnya 
kesadaran untuk memelihara alam. Jadi dalam konteks kekinian, pesan yang bisa 
kita petik dari perayaan hari keagamaan adalah umat mesti selalu ingat Tuhan, 
menjaga persatuan, peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan selalu menjaga 
alam lingkungan. Semua itu sesungguhnya implementasi dari konsep Tri Hita 
Karana.
 
Lambang Perlindungan 
 
Dalam perayaan Kuningan, simbol-simbol upakara menjadi ciri khasnya seperti 
tamiang dan endongan. Apa maknanya?
 
Tamiang, kata Ketua Parisada Bali Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. berasal 
dari kata tameng yang berarti alat penangkis senjata. Sebagai alat penangkis, 
tamiang memiliki lambang perlindungan. Di samping itu, tamiang juga sebagai 
lambang Dewata Nawa Sanga, karena menunjuk sembilan arah mata angin. Tamiang 
juga melambangkan perputaran roda alam -- cakraning panggilingan. Lambang itu 
mengingatkan manusia pada hukum alam. Jika masyarakat tak mampu menyesuaikan 
diri dengan alam, atau tak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh 
roda alam. Melalui pelaksanaan Kuningan, tegas Sudiana yang dosen IHDN Denpasar 
itu, umat diharapkan mampu menata kembali kehidupan yang harmonis (hita) sesuai 
dengan tujuan agama Hindu. 
 
Selain tamiang, dalam perayaan Kuningan juga terdapat endongan yang bermakna 
perbekalan. Bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu 
pengetahuan dan bhakti (jnana). Sementara senjata yang paling ampuh adalah 
ketenangan pikiran. Ketenangan pikiran ini yang tak dapat dikalahkan oleh 
senjata apa pun.
 
 Ikang manah pinaka witing indra, yang artinya pikiran itu sumber dari indria. 
Itu berarti senjata pikiranlah yang paling ampuh dan utama dalam menghadapi 
berbagai persoalan hidup.
 
Saat Kuningan, Batara-Batari diyakini turun dari kahyangan, dan kemudian 
kembali lagi ke alamnya. Karena itu umat Hindu berusaha menghaturkan upacara 
sepagi-paginya, pada hari raya Kuningan.
 
Tetapi yang penting dari semua itu, kata Asdir I Program Ilmu Agama dan 
Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Drs. Wayan Budi Utama, M.Si., 
umat Hindu mesti lebih menguatkan bekal (endongan) hidup yakni ilmu 
pengetahuan. Umat Hindu mesti unggul dari segi kualitas, sehingga memiliki 
posisi tawar dan menang menghadapi persaingan global.
 
Untuk meningkatkan kualitas, pendidikan adalah bekal dan senjatanya. Karena itu 
yadnya dalam bidang pendidikan mesti digalakkan di kalangan umat. Bila 
memungkinkan, sumbangan dana pemerintah ke desa pakraman beberapa persennya 
dialokasikan untuk investasi di bidang pendidikan atau beasiswa. Dengan 
demikian, krama yang kurang mampu dari segi ekonomi memiliki kesempatan untuk 
meningkatkan kualitas SDM-nya. Hal ini dinilai penting bagi Bali ke depan. 
''Jika SDM Bali betul-betul berkualitas akan memiliki posisi tawar dalam kancah 
yang lebih luas. Jadi, simbol-simbol yang terdapat dalam Kuningan mesti 
dimaknai lebih luas lagi.
 
Lewat perayaan Kuningan, diharapkan krama Bali lebih terpacu lagi untuk 
mencetak kaum intelektual sebanyak-banyaknya,  sehingga mampu membawa Bali 
lebih baik lagi dalam berbagai aspek, ya... alamnya, budayanya, pendidikannya, 
ekonominya dan sebagainya,'' katanya.
 
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan IHDN Denpasar Dr. Ketut Subagiasta mengatakan 
hal yang sama. Melalui perayaan Galungan-Kuningan umat diisyaratkan agar tak 
henti-hentinya berjuang melawan adharma guna mencapai kejayaan. Dalam konteks 
kekinian, umat mesti terus berjuang untuk mengentaskan kemiskinan, mengentaskan 
buta aksara, selain berjuang mengendalikan diri dan selalu menyucikan pikiran 
biar hening. Semua itu dalam rangka untuk mencapai santha jagadhita atau 
kerahayuan atau keharmonisan yang langgeng. Semoga! (lun)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Sie sind Spam leid? Yahoo! Mail verfügt über einen herausragenden Schutz gegen 
Massenmails. 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke