http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/13/21100060/ugm.bangun.pembangkit.listrik.dari.sampah.buah.
 
UGM Bangun Pembangkit Listrik dari Sampah Buah
 
SLEMAN, SENIN - Universitas Gadjah Mada dan Universitas Boras, Swedia, menjalin 
kerjasama untuk membangun pembangkit energi dari pengolahan sampah buah dan 
sayur basah di Kabupaten Sleman. Proyek ini bertujuan mengurangi ketergantungan 
terhadap bahan bakar fosil dan memanfaatkan sumber energi terbarukan.
 
Rencananya, proyek kerjasama ini dimulai dengan membangun pengolahan sampah 
buah dan sayur di pasar Gamping Sleman. Biogas yang dihasilkan akan 
dimanfaatkan untuk energi listrik dan penerangan.
 
"Proyeksi kami, dalam 20 tahun ke depan, DIY bisa menggantikan sebagian besar 
kebutuhan akan listrik dan bahan bakar fosil dengan biogas," kata Siti 
Syamsiah, Peneliti Pemanfaatan Limbah dari Jurusan Teknik K imia, Fakultas 
Teknik UGM, di Sleman, Senin (13/10).
 
Pengolahan sampah ini rencananya akan menggunakan lahan pemberian Pemerintah 
Kabupaten Sleman seluas 600 meter persegi. Sementara, teknologi pengolahan 
bekerjasama dengan pemerintah Swedia dengan besarnya nilain bantuan sebesar 1,7 
milyar.
 
Siti mengatakan, para peneliti UGM sudah mengadopsi teknologi pengolahan sampah 
yang telah digunakan di semua kota di Swedia selama 30 tahun terakhir itu. 
Setelah berhasil di Kabupaten Sleman, rencananya adalah mengembangkan ke 
kota-kota lain di Indonesia.
 
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut harus meyesuaikan dengan kondisi lokal di 
masing-masing daerah. Beberapa daerah yang telah berminat pada teknologi itu 
Pemerintah Kota Makassar, Jayapura, Pontianak, dan Bandung telah bersedia 
mengadakan konferensi jarak jauh. "Bila daerah-daerah itu mau, pengembangannya 
akan semakin cepat," kata Siti.
 
Pengembang teknologi pengolahan sampah Mohammad Taherzadeh dari Universitas 
Boras Swedia menyebutkan, 10 ton sampah basah buah dan sayur bisa menghasilkan 
700 meter kubik gas metana. "Satu meter kubik gas metan ini setara dengan satu 
liter bensin," kata Taherzadeh.
 
Di Swedia, kata Taherzadeh, sekitar 44 persen sampah sayur dan buah sudah 
diolah menjadi biogas. Dari biogas tersebut dihasilkan energi listrik untuk 
penerangan dan penghangat ruangan serta bahan bakar bagi kendaraan bermotor.
 
Dengan energi biogas ini, penduduk di Kota Boras, Swedia, tidak lagi 
membutuhkan tambahan energi dari bahan bakar minyak (BBM) selama musim panas. 
Selain lebih murah sekitar 30 persen dari bensin, bahan bakar biogas juga ramah 
lingkungan dan terbarukan. Tahun 2012 nanti, kita targetkan untuk menggratiskan 
semua kebutuhan energi, kata Olle Engstrom, Ketua Dewan Energi Kota Boras.


      

Kirim email ke