Yth. Para Semeton Milis,
 
Artikel menarik terkait kisah globaliasi dari dunia luar , Perancis
(Kompas, 19/10/08, hal.19).
 
Kreatif ,inovatif, terjadi di negara budaya modern, , cermin keanekaragaman
berpikir,pandangan
hidup, cirri khas era ini. Keluar dari struktur perilaku dan berpikir  yang
ada.
Mampu mebedakan masalah terkait kepentingan publik dan batasan masalah
terkait  ranah pribadi.
Sungguh beda  dengan suasana di masyarakat yang sedang ribut dengan  RUU
Pornografi.
 
SALAM.
Nengah Sudja 
 
Carla
Minggu, 19 Oktober 2008 | 02:00 WIB 
 
 
 
Samuel Mulia
Tentu yang saya maksud Carla yang bernama belakang Bruni aka Madame Sarkozy.
Sosok yang sekarang menjadi wanita nomor satu di negeri anggur, negeri
cahaya, mode, dan negeri segala rupa kejahatan dan kebaikan.
Saya tak kenal dia, saya tak pernah berniat mengenalnya, bahkan pada saat
saya masih mondar-mandir ke beberapa pusat mode belasan tahun lalu, melihat
dia berlenggak-lenggok dari satu catwalk ke catwalk berikutnya. Saat itu,
saya lebih tertarik untuk mengenal teman-teman sejawatnya yang lebih
kondang, bernama Naomi, Linda, dan Christy.
Saat saya diberi cuma-cuma CD perdananya yang mengetengahkan suaranya yang
gitu deh. saya pun tak menyimpannya terlalu lama. Malah sekarang sudah saya
berikan secara cuma-cuma kepada bekas anak buah saya.
Saat orang mode tahu Mbak Carla bisa bernyanyi, dengan kualitas yang gitu
deh-nya menurut saya, mereka malah bilang oke. Saya heran, kok suara kayak
begitu bagus, tetapi yahhh. namanya selera, tak bisa dibantah, tak bisa
diatur dalam UU. Mungkin sama susahnya mengundang-undangkan sebuah
kepornoan.
Satu dari masyarakat mode itu malah mengingatkan saya untuk mengambil
kembali CD Mbak Carla yang sudah saya berikan kepada bekas anak buah saya
itu, sambil mengatakan, "Siapa tahu CD-nya nanti laku sekian juta dollar
kalau Mbak Carla sudah ndak jadi wanita nomor satu. Atau malah sekarang
bernilai tinggi. Jangan sampai lo nyesel, sel, sel."
Mademoiselle Bruni
Saya menyesal tidak terpikir sampai sejauh itu, tetapi apa iya nama Carla
begitu bernilainya dibandingkan nama yang lain. Tetapi, sekarang Carla
menjadi perhatian saya, terutama cerita masa lalunya yang wuiiihhh gitu loh.
Itu menarik buat saya. Kalau seandainya ada fit and proper test sebagai ibu
negara, bisa jadi ia tak lulus meski katanya ia bisa berbahasa ina dan inu
atau keturunan bangsawan.
Bagaimana mau lulus? Melihat sampul majalah Vanity Fair edisi September 2008
saja, sampulnya menampilkan Bu Presiden pakai celana berkuda sambil
mengangkat kakinya, berpose seperti model ketimbang kelihatan seperti ibu
negara. Di halaman dalam, ia diabadikan dengan gaun merah anggun sambil
memegang rokok. Saya sampai bingung apakah ini foto mode apa foto resmi
kenegaraan? Ibu negara kok bisa diobok-obok. Bisa jadi karena ibu presiden
sebuah negara mode, juga bekas model, jadi bisa dimaklumi.
Dalam artikel itu dibeberkan pula masa lalu si ibu, meski ia membantah
cerita itu. Begini bunyinya (sudah saya singkat). Carla herself become a
mother at age 33. The child's father Raphael Enthoven was 25, a handsome
professor of philosophy and a radio-show host. The conventional wisdom, told
in countless press stories and books, is that Carla stole Raphael away from
his wife, author Justine Levy, while Carla was the mistress of Raphael's
father, publisher, Jean-Paul Enthoven.
Masih dalam artikel yang sama, seorang wartawan bernama Christine Ockrent
menilai Carla begini. "She's kind of Alpha female. She was never a courtesan
like Pamela Harriman-she was more like a female Don Juan."
Meski komentar positif tentang dirinya juga disertakan, tetapi komentar dan
tulisan tadi membuat saya tersedak. Berhenti melanjutkan acara membaca
artikel itu, kemudian membayangkan, saya sebagai ibu negara di negeri ini,
tetapi dengan cerita seperti di atas. Belum lagi kalau foto bugil saya masa
lalu beredar di mana-mana. Jadi, seluruh dunia ini tahu lekuk tubuh saya
sebagai ibu negara. Selamatnya Bu Carla coantik dan bekas model. Duh. coba..
"Coba opo," celetuk teman saya. "Mo ngomong ibu negara yang mana, hayo?"
lanjut dia lagi.
Kemudian saya menyebut sebuah nama, tetapi belum berani saya tulis. Soalnya
saya diajarkan sebuah nilai, jangan membuka borok orang, ndak ilok, cari
perdamaian saja.
Beda dari majalah Vanity Fair yang membuat judul besar di sampul: Carla
Bruni: The New Jackie O? Liberte, Egalite, Nudite. Selamat Bu Carla tidak
jadi WNI, coba kalau ya, wah. ia bisa menjadi ibu negara pertama di dunia
yang dijerat UU Pornografi.
Madame Carla Bruni-Sarkozy
Mengapa saya tersedak? Mungkin latar belakang saya saja yang berbeda karena
tinggal di negara yang sangat menjunjung tinggi rasa tidak ilok dan latar
belakang seseorang. Duduk harus rapat, santun, enggak bisa mengangkang
seperti Bu Carla. Apalagi untuk sampul majalah kondang dengan kaliber
internasional. Itu tak mencerminkan wanita yang baik, tak memberi contoh.
Orang harus bebas PKI, meski yang mengaku beragama dan malah ada yang
korupsi. Itu juga sebuah nilai, nilai yang saya ndak mudeng. Mungkin juga
tak bisa diperbandingkan. Karena perbandingan yang benar adalah apple to
apple, bukan? Jadi PKI sama non-PKI (baca korupsi) tak bisa diperbandingkan.
Kalau dimisalkan sebuah penempatan duduk dalam undangan resmi, mejanya bedo.
Saya terbiasa menilai, baik dari buruk, hanya dengan masa lalu seseorang
saja. Itu sudah cukup. Mengapa? Itu paling mudah. Maka, kalau saya menilai
diri saya sekarang, wah.. saya ndak mungkin jadi ibu negara, atau apalah
itu. Saya punya masa lalu yang kelam meski saya bebas PKI. Salah satu
kekelaman itu adalah menjadi simpanan orang. "Yo mosok seng nyimpen ketek?"
celetuk teman Banyumas saya itu.
Saya juga pernah semi-telanjang meski belum dipublikasikan, tetapi banyak
dari beberapa teman saya tahu. Saya bukan penari striptease, tetapi saya
pernah melenggang dengan celana dalam g-string di depan sejuta mata di
sebuah kelab malam dalam sebuah peragaan busana.
Saya tak kagum kepada Bu Carla, saya kagum kepada rakyatnya yang bisa
memiliki Ibu seperti itu dan asli bukan buatan Perancis pula. Mungkin buat
mereka, Carla telah memberi warna baru yang meluluhlantakkan citra seorang
ibu negara yang membosankan, dari perjalanan masa lalu yang buat beberapa
orang membangkitkan bulu roma.
Di sisi lain, dengan warna barunya, ia membawa negerinya makin kondang saja.
Itu hebat, rakyat yang bisa menerima kekurangan, menerima masa lalu sesuram
apa pun, dan menghadapi masa depan dengan apa adanya, tanpa perlu mengungkit
kenangan lama. Itu mungkin yang disebut nilai luhur. Memahami kemudian
melupakan. Karena melupakan hanya bisa terjadi, kalau saya bisa memahami.
Memahami mengapa saya harus melupakan. Pusing? Sama, saya juga.
Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup
Kilas Parodi
 
 

Kirim email ke