Dear milister dan Bpk. Nengah,

Iya, saya baca email tentang diskusi bapak yang terakhir, yang khusus ditujukan 
ke saya. Tp maap saya tidak membalasnya. Disamping tidak sempet, kemarin saya 
sakit, juga karena saya tidak telalu suka mode berdebat, lebih ke arah sharing 
saja, karena saya merasa tidak dalam kapasitas sebagai pengambil keputusan, 
jadi sekali lagi saya minta maap, kita lanjutkan saja topiknya .... topik apa 
ya sekarang ...

Mengenai novel di bawah, menurut saya ragam bahasa bisa lebih bebas 
menerjemahkan seni, dan media tulis juga lebih leluasa dari pada dua media 
lainnya, yaitu media audio dan visual.


Untuk dapat menerjemahkan dan memahami arti sebuah tulisan diperlukan daya 
imajinasi dan analitis yang relatif lebih tinggi, termasuk untuk menangkan 
nilai2 keindaha/ seni dari sebuah tulisan. Kemampuan ini idealnya dimiliki oleh 
orang2 dengan tingkat intelektual yang relatif lebih tinggi. Karena biasanya 
orang2 yang tertarik atau hobi membaca idealnya akan mencari esensinya, bukan 
sekedar makna luarnya saja. Jadi mengumbar seni lewat tulisan menurut saya jauh 
lebih aman.

Sederhanya, mungkin anak kecil atau orang awam lebih suka menonton tv atau 
membaca komik (bergambar) daripada membaca noval atau karya sastra tulisan 
lainnya.

Salam.


  "There's no heart we can't melt with a certain little smile.
       And no challenge should be faced without a little charm and a lot of 
style" 


--- Pada Kam, 6/11/08, Nengah Sudja <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: Nengah Sudja <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [bali] FW: Goenawan Mohamad  -  Connie
Kepada: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Tanggal: Kamis, 6 November, 2008, 9:04 AM




 
 
 
 
 
 

 

 

 







Yth. Para 
Rekan Milis, 

   

Ketika saya dialog dengan
Sdr Ikki dimilis ini dalam
kaitannya dengan pornografi’ 

saya merujuk
 al. novel Lady Chatterley’s
Lover. 

   

Dari Sdr. Dorpi saya mendapat
posting tulisan Goenawan Mohamad berikut, yang 

saya rasa pantas untuk dibaca.. 

Silahkan merenungkannya, indah
atau porno? 

   

SALAM. 

Nengah Sudja.   

   









From:
 B.DORPI P. [mailto:[EMAIL PROTECTED] 

Sent: Monday, November 03, 2008
10:16 AM

To: ! B.DORPI
 P.

Subject: Re.: Goenawan Mohamad -
Connie

Importance: High 



   



http://www.tempointeraktif.com/ 





  







37/XXXVII 03 November 2008 





  





Connie 





  







Tubuh bisa membuat getar, tapi juga gentar, seperti
lautan.  

Saya
ingat satu pasase dalam Lady Chatterley’s Lover: perempuan itu mengalami
ajaibnya gairah dalam persetubuhan. Dalam pagutan berahi kek
 asih nya, ia merasa diri ”laut”. Ia deru
dan debur, samudra dengan gelombang gemuruh yang tak kunjung putus. ”Ah,
jauh di bawah, palung-palung terkuak, bergulung, terbelah….”  

Apa
yang masuk menyusup ke dalam dirinya ia rasakan kian lama kian dalam. Bertambah
berat empasan, bertambah jauh pula ia jadi segara yang berguncang sampai di
sebuah pantai. Baru di sini deru reda, laut lenyap. ”Ia hilang, ia tak
ada, dan ia dilahirkan: seorang perempuan.”  

Saya
tak sanggup menerjemahkan seluruh pasase ini. Di sini D.H. Lawrence sungguh
piawai: ia uraikan suasana erotik dalam novelnya dalam kalimat dengan ritme
yang naik-turun, membawa kita masuk ke paduan imaji-imaji yang, seperti gerak
laut, tak putus-putus, berulang-ulang….  

Agaknya
Lawrence, seperti kita semua, harus mengerahkan seluruh kemampuan bahasa untuk
menggambarkan sesuatu yang tak mungkin tergambarkan: pengalaman tubuh ketika
kata belum siap, gejolak zat-zat badan ketika bahasa belum menemukan pikiran.  

Seorang
sastrawan memang selalu dirundung oleh bahasa yang ingin ekspresif tapi juga
ingin komunikatif—dua dorongan yang sebenarnya bertolak belakang. Yang
pertama dituntut untuk mengungkapkan langsung apa yang berkecamuk di lubuk
kesadaran, yang tak selamanya jelas dan urut. Yang kedua diminta agar berarti:
sesuai dengan kesepakatan sosial dan membawa hasil.  

Lawrence
mampu menggabung kedua dorongan itu di bagian yang dikutip tadi, tapi bagi saya
sebagai novel Lady Chatterley’s Lover terasa lebih digerakkan keinginan
untuk menyatakan sebuah pendirian. Kalimatnya lebih komunikatif ketimbang
ekspresif. Pertautannya dengan bahasa (untuk tak menyebut ketaatannya pada
pesan dan tema) berbeda dengan misalnya Cala Ubi Nukila Amal atau Menggarami
Burung Terbang Sitok Srengenge, dua novel yang, dengan bahasa yang puitik, tak
hendak mengubah pandangan kita tentang hal-ihwal.  

Lady
Chatterley’s Lover memang sebuah kritik sosial; ia hendak meyakinkan kita
tentang muramnya masyarakat Inggris sehabis perang pada 1920-an. ”Zaman
kita pada hakikatnya zaman yang tragis, maka kita menolak untuk menyikapinya
dengan tragis,” begitulah novel ini dimulai. ”Kita ada di tengah
puing, kita mulai membangun habitat baru kecil-kecilan, untuk mendapatkan harap
baru sedikit-sedikit.”  

Dalam
novel itu, puing itu sampai ke pedalaman. Masyarakat terjebak lapisan-lapisan
kelas, dan industrialisasi yang mulai merasuk, juga peran uang, membuatnya
lebih buruk.  

Kritik
novel ini tersirat dalam tokoh Constance Chatterley. Ia kawin dengan Sir
Clifford, tuan tanah dan bangsawan pemilik tambang. Lelaki ini luka dalam
perang. Ia bukan saja lumpuh, juga impoten, dan hanya menunjukkan kelebihannya
bila ia mulai memimpin bisnisnya. Tampaknya perang, industrialisasi, 
kapitalisme—dan
patriarki—menebarkan racunnya dan membuat hidup perempuan itu, Lady
Constance (”Connie”), terpojok. Kesepian, bosan, hampa, dan
tertindas, ia akhirnya menemukan kembali gairah hidup sebagai perempuan ketika
ia disetubuhi Melleors, game keeper Sir Clifford, lelaki yang tinggal
menyendiri di sebuah gubuk di tanah luas itu, mengurusi burung-burung yang esok
pagi akan dilepaskan terbang untuk jadi sasaran tembak sang majikan.  

Connie
hamil dari hubungan gelap itu. Tapi ia tak takut. Ia memang menghendaki seorang
anak, meskipun percintaannya dengan lelaki kelas bawah itu bukan dimaksudkannya
hanya untuk beroleh keturunan. ”Aku bukan hendak memperalatmu,”
bisiknya di tempat tidur. Mereka saling mencintai. Pada akhirnya Connie meminta
cerai dari Sir Clifford, tapi ditampik. Kisah ini selesai seperti tak selesai:
Connie dan Melleors menanti.  

Agaknya
apa selanjutnya tak penting lagi: protes sudah disampaikan, bahkan dijalani
dengan perbuatan, dan tak seorang pun dihukum. ”Bukan salah perempuan,
bukan salah percintaan, bukan salah seks,” begitulah novel ini bicara.
”Kesalahan itu di sana , di luar
 sana , dalam sinar keji
cahaya listrik dan gemeretak iblis mesin-mesin. Di
 sana , di dunia di mana kerakusan bergerak
seperti mesin… dan kerakusan menghasilkan mesin… di sanalah
terhampar mala yang luas itu, siap untuk menghancurkan apa saja yang tak mau
menyesuaikan diri. Ia akan segera menghancurkan hutan, dan bunga kecubung ini
tak akan bersemi lagi.”  

Dibaca
pada awal abad ke-21, protes seperti ini—ketika yang erotik, yang lemah,
dan yang halus dalam diri manusia diancam dunia modern—tak mengejutkan
lagi. Bahkan bahasa Lawrence 
juga segaris dengan kehendak dunia modern yang ditentangnya, yang serba
mengutamakan pikiran dan hasil, bukan persentuhan yang melibatkan tubuh dalam
pengalaman. Tapi juga ketika dibaca pada awal abad ke-20: Lady
Chatterley’s Lover hanya dianggap karya pornografis. Ditolak di
mana-mana, pada1928, hanya seorang penerbit Italia yang menerimanya; ia tak
begitu paham bahasa Inggris.  

Dengan
segera novel ini laris dan dikejar-kejar. Yang paling ramai di AS, dengan
warisan puritanisme Kristen yang awet dan semangat kapitalisme yang, seperti
digambarkan Lawrence ,
”rakus... seperti mesin” itu, yang melihat tubuh perlu berdisiplin
baja dan gairah seks sebagai ”dosa”, yakni energi yang tak
produktif.  

Maka
pemilik toko buku yang menjual Lady Chatterley’s Lover pun dibui, kantor
pos menolak mengirimkan novel itu, dan Presiden Eisenhower menganggapnya bacaan
yang ”dreadful”. Baru pada akhir 1950-an pengadilan menganggap
karya itu tak pornografis.  

Anehkah
bila bertemu agama dan kapitalisme, juga komunisme, yang rezim-rezimnya
melarang Lady Chatterley’s Lover? Tidak. Bagi mereka, tubuh kita hanya
penting sepanjang bisa dibuat berguna bagi yang mahakuasa, apa pun namanya.  

Goenawan Mohamad  

Naskah
ini pernah dimuat di Tempo edisi 26 Maret 2006 

  

  

  









  





  







  







 




      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke