http://kemoning.info/blogs/
Panti Asuhan Semara Putra Klungkung
Kabupaten Klungkung merupakan kabupaten yang paling kecil dari 9
(sembilan) kabupaten dan kodya yang ada di bali. kabupaten ini memiliki
empat kecamatan yaitu kecamatan klungkung, dawan, banjarangkan dan
kecamatan nusa penida. kabupaten klungkung sesungguhnya lebih dikenal
karena object pariwisatanya Taman Gili Kertagosa, dengan lukisan wayang
kamasannya yang banyak menceritakan sejarah kejayaan Kerajaan Bali
jaman dulu yang berpusat di swecapura (gelgel) hingga ke semarapura.
benda-benda pusaka warisan kerajaan klungkung ini masih tersimpan rapi
dan di pajang di museum Semarajaya yang terletak bersebelahan dengan
Taman Gili Kertagosa. persis bersebelahan dengan Kertagosa terdapat
monumen Lingga joni yang di bangun untuk mengenang perjuangan rakyat
klungkung melawan belanda tgl 28 april 1908, yang akhirnya di kenal
dengan nama puputan klungkung. Bagi yang tertarik melakukan wisata
spiritual (Tirta Yatra), kabupaten klungkung cukup dikenal karena
keberadaan Pura Gowa Lawah, Pura Watu Klotok, Pura Dasar Gelgel, Pura
Kentel Bumi, ataupun pura Dalem Ped yang terletak di kepulauan nusa
penida.
Dari cerita diatas, Kabupaten Klungkung memang banyak dikenal orang
karena sejarahnya di masa lalu, namun tidak banyak yang mengenal
tentang keberadaan Panti Asuhan di kabupaten klungkung, salah satunya Panti
Asuhan Semara Putra, yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika no 5 Semarapura
Klungkung . dimana Panti asuhan yang didirikan sejak tahun 1984, oleh mantan
bupati klungkung yang menjabat saat itu yaitu dr. Cokorda Gede Agung,
yang peduli akan anak-anak cacat yang terdapat di Kabupaten Klungkung.
Dalam perkembangannya hingga sekarang Panti Asuhan ini tidak hanya
mengasuh anak-anak cacat tetapi juga mengasuh anak-anak yang kurang
mampu secara ekonomi agar dapat menyelesaikan sekolahnya hingga
pendidikan SMA.
Saat ini ada sekitar 65 anak-anak kecil yang tertampung di Panti
Asuhan ini, 45 orang anak cacat, dan 20 orang anak-anak normal yang
berasal dari keluarga tidak mampu. Dari ke 65 orang tersebut, hanya 8
orang yang bersekolah di SMP, dan 9 orang yang bersekolah di
SMU/sederajat, sementara sisanya yang berarti sekitar 48 orang
bersekolah di SDLB (sekolah dasar luar biasa).
Untuk memenuhi biaya operasional panti asuhan ini dilakukan secara
swadaya, dengan mengajukan proposal kepada instasi-instansi pemerintah
yang terkait, salah satunya ke pemda kabupaten klungkung dan
departement sosial. namun menurut penuturan kepala Panti Asuhan Ibu
Made Gunasih, saat ini bantuan beras dan lauk serta bantuan keuangan
dari departement sosial sudahlah di hentikan. Oleh karenanya
kekurangan-kekurangan ini haruslah di usahakan sendiri, seperti menjual
hasil kebun, atau hasil ternak, atau hasil penjualan banten canang, dll.
Mendengar kondisi diatas, salah seorang rekan dari Klungkung yaitu
Dr.rer.nat I Made Agus Gelgel Wirasuta M.Si Apoteker (yang orang tuanya
memang sudah berkecimpung sejak berdirinya Panti Asuhan ini) bersama
dengan Drs. Wayan Subaga mengajak rekan-rekan khususnya yang berasal
dari Kabupaten Klungkung ataupun masyarakat Bali lainnya untuk ikut
mulai peduli akan sesama yang kurang beruntung ini dan turut
membantunya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.
Seperti tertulis dalam Undang-Undang Dasar UUD 1945, pasal 34
yang menyebutkan bahwa Fakir Miskin dan anak-anak terlantar di pelihara
oleh negara. pasal 34 ini memiliki 4 ayat: (1) Fakir miskin dan
anak-anak terlantar di pelihara oleh Negara. (2) Negara mengembangkan
sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memperdayakan masyarakat
yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. (3)
Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan
dan fasilitas pelayanan umum yang layak. (4) Ketentuan lebih lanjut
mengenai pelaksanaan pasal ini di atur dalam undang-undang.
Sesuai dengan UUD 1945 diatas, Fakir misking memang menjadi tanggung
jawab pemerintah, namun demikian, menurut bapak Dr. -Ing I nengah
Sudja, warga Klungkung yang saat ini berdomisili di Jakarta, mengajak
setiap orang dari kita untuk turut membantu sesama umat manusia,
berdharma bakti melakukan “Karma Yoga”. Bantuan tidak serta merta di
definisikan dalam bentuk Uang. Bagi yang memiliki keahlian, bisa turut
membantu sesuai dengan keahliannya, seperti apa yang dilakukan oleh
seorang pekerja sosial dari Jerman yang bernama Moritz M, yang saat ini
mengajarkan pelajaran Bahasa Inggris kepada anak-anak Panti Asuhan. dan
kegiatan inipun sudah berlangsung selama 2 bulan. Sehingga kedepannya
anak-anak panti asuhan ini bisa memiliki masa depan yang lebih baik
dengan bekal tambahan ilmu pengetahuannya.
Namun bila ada dari pembaca artikel ini yang berniat ataupun
berminat untuk mebantu dalam bentuk sumbangan uang, bisa menyalurkan
bantuannya ke nomer rekening pak Wayan Subaga dan mengkonfirmasikannya
melalui email berikut. Selanjutnya Pak Wayan Subaga akan menyampaikan
bantuan tersebut ke Panti Asuhan. Tapi bila ada yang berkeinginan
menyalurkannya langsung ke Panti Asuhan Semara Putra yang beralamat di
jalan Dewi Sartika nomer 5 Semara Klungkung, di saat berkesempatan
mengunjungi Klungkung, bantuan bisa juga di alamatkan langsung ke Panti
Asuhan.
Untuk lebih lengkapnya, Koordinator program Dompet Peduli Panti Asuhan Semara
Putra adalah:
I Wayan Subaga
Mobile: 08126409989
email: [EMAIL PROTECTED]
Nomer Rekening:
BCA Cabang Kuta
Acc no: 7720049605
a/n I Wayan Subaga