NYEPI DAUN-DAUN PADI DI SAWAHKU

itukah pagi kita
pada sayong-sayong sisa tadi malam
atas tepi sehelai rumput
di pematang yang hilang
atau juga pada Tukad Yeh Kelih, Yeh Balian
yang menghanyutkan segala doa ke Pantai Surabrata
kau dengar suara sepi
menjadi hari di jalan raya kita
di tungku hari terakhir
karena kita menjadikannya abu
bara mendingin di tengah mimpimu daun-daun

Artika













--- On Sat, 3/21/09, Asana Viebeke Lengkong <[email protected]> wrote:

> From: Asana Viebeke Lengkong <[email protected]>
> Subject: [bali] NYEPI
> To: [email protected], [email protected]
> Date: Saturday, March 21, 2009, 11:58 PM
> 
> 
>  
>  
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> Tanggal 26 Maret 2008 nanti masyarakat
> Bali akan merayakan 
> pergantian tahun Icaka, memasuki tahun 1931, berwatak
> gajah-kumba, jatuh di 
> bulan Kadasa (eka sukla paksa Waisak), yang berakar dari
> tradisi penobatan Raja 
> Kaniskha I ditahun 78 Masehi,yang digunakan sebagai awal
> hitungan Icaka; merujuk 
> pula pada era majapahit yang menggunakan icaka sebagai
> kalendernya dengan 
> penyebutan nama-nama bulan yang berbeda;Kasanga ke Kadasa
> disebut dengan nama 
> Caitra ke Waisaka. 
> Tradisi nyepi di bali juga berakar pada tradisi yang 
> lebih tua dari majapahit, berbagai desa tua, yang ada
> sebelum era Kadiri dan 
> majapahit hingga sekarang masih melaksanakan nyepi desa
> yang terbagi ke nyepi 
> luh (nyepi bagi kaum perempuan); nyepi muani (bagi kaum
> laki-laki), kemudian 
> nyepi ka uma, dst: di desa-desa adat yang memiliki usana
> (tatakrama klan 
> udayana) juga melaksanakan upacara-upacara ngusaba dan
> nyepi desa. Tradisi nyepi 
> dari guru wisesa (pemerintah) inilah yang disebut oleh
> masyarakat bali sebagai 
> nyepi nasional, karena berkaitan dengan pemberian hak libur
> bagi kegiataan 
> keagamaan. Nyepi ini dahulunya dirayakan dengan tapa brata
> yang berbeda-beda; 
> kini seluruh masyarakat bali mensepakati untuk menggunakan
> kelengkapan tapa 
> brata penyepian yakni: pertama,amati Geni, tidak menyalakan
> api serta tidak 
> mengobarkan hawa nafsu, kedua amati karya, yaitu tidak
> melakukan kegiatan kerja 
> jasmani melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani,
> ketiga amati 
> lelungaan, yaitu tidak bepergian melainkan melakukan mawas
> diri, dan keempat 
> amati lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan
> melainkan melakukan 
> pemusatan pikiran terhadap Ida Sanghyang Widhi. 
> Idealnya nyepi ditujukan 
> dalam kerangka penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit
> (makro dan mikrokosmos), 
> mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin
> (jagadhita dan moksa) 
> berlandaskan satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan
> sundaram 
> (keharmonisan-keindahan). Di sisi lain dalam tradisi
> sastra, nyepi adalah proses 
> memahami awal kehadiran semesta yang bertitik dari
> kegelapan, kemudian 
> pusaran-pusaran air yang lama-lama mengental, menjadi bumi,
> dimana cahaya 
> pertama adalah hidup itu sendiri. Dalam proses hidup, sang
> bayi dalam rahim sang 
> ibu pun demikian keadaannya; sedangkan dari sisi spiritual,
> umat hindu adalah 
> penganut siwa budha; yang muaranya dari tri paksa:
> waisnawa, siwa dan budha: 
> yang secara variatif akan ditemukan pula sekte-sekte kuna:
> sekte indra di 
> tenganan, dst. 
> Dalam konteksnya kini nyepi mendapatkan padanan kemanfaatan
> 
> yakni: betapa pengobatan kepada bhuwana itu ternyata dapat
> dilakukan dengan 
> brata penyepian. Bertemulah kearifan timur dengan keresahan
> global dalam 
> persoalan lingkungan. Namun sunya sebagi tujuan menjalankan
> dharma, menetapkan 
> surga adalah persinggahan, tidaklah sebagai tujuan. Sebab
> hidup adalah proses. 
> Yang dulu, kini dan nanti sebenarnya bertumpukan dalam
> putaran hidup seseorang. 
> Di situlah nyepi menjadi sangat kontemplatif: sejenak
> memahami ketika mengawali 
> itu yang 'diam yang relatif, itu yang gelap dia juga
> relatif, semuanya dalam 
> tata krama hubungan antar manusia didharmakan, dijalankan
> sebagai aturan: 
> kemudian menjadi pegangan ketika memulai 'keterjagaan
> awal". Nyepi selalu 
> mendatangkan hentakan di malam hari, desau senyap di siang
> hari. Karena itu, 
> saat panca dasi Krsna Paksa Caitra, saat bulan mati:
> pencaruan dilaksanakan. 
> Mengingatkan unsur phisik dalam bhuwana alit dan bhuwana
> agung: pancamahabhuta 
> itu yang ada dalam koneksi yang bertitian dalam karmanya
> hidup sebagai wujud. 
> Dengan bahagia: selamat nyepi; ngiring nutug surya, ngalap
> sunya...nunas ampura 
> saking suksmaning kayun.
> 
> (cok 
> sawitri) 
> 


      

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [email protected]>
Berlangganan  : <mailto: [email protected]>
Henti Langgan : <mailto: [email protected]>

Kirim email ke