http://kemoning.info/blogs/?p=583
Perayaan Kuningan di Berlin 28 Maret 2009
Melihat pemandangan diatas tentunya mengingatkan kita semua akan pintu gerbang
bersejarah “brandenburg” yang berlokasi di pusat ibukota negara jerman Berlin.
Kota Berlin yang dulu pernah luluh lantak akibat perang dunia ke dua di tahun
1945 dan kemudian di jaman perang dingin dibelah di pisahkan oleh tembok tinggi
yang terkenal dengan sebutan “Tembok Berlin”, sekarang ini jauh terlihat cantik
dan ramah yang tidak hanya berfungsi sebagai ibukota pemerintahan negara jerman
dimana bundes kanselir Jerman Ibu Angela Merkel berkantor, tetapi juga terkenal
karena merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Eropa yang selalu padat dan
ramai di kunjungin wisatawan dunia tidak hanya di hari akhir pekan tetapi juga
di hari-hari biasa.
di hari sabtu kliwon tgl 28 maret 2009, Umat Hindu dimanapun berada, tidak
terkecuali Umat Hindu yang berdomisili di Jerman juga merayakan salah satu hari
raya besar umat hindu “Hari Raya Kuningan”. Perayaan Kuningan di Jerman kali
ini di pusatkan di kota Berlin persisnya di lokasi taman wisata dunia (Gärten
der Welt, Erholungspark Marzahn). Perayaan Kuningan yang berlangsung di Berlin
kemaren merupakan gabungan dari beberapa rentetan hari raya suci umat hindu
Galungan, Kuningan dan Nyepi.
Perayaan Kuningan kali ini terasa spesial karena ada utusan dari bimas Hindu
Dharma jakarta yaitu bapak I Ketut Lancar, yang terbang langsung dari Jakarta,
di samping untuk menyampaikan pesan dari Dirjen Hindu Dharma Jakarta,
melainkan juga untuk memimpin jalannya upacara serta membawa Tirta dari upacara
Panca Wali Krama Besakih. jadi walaupun kita yang di Jerman berada jauh dari
Bali, tapi juga bisa ikut merasakan sejuknya percikan tirta dari Pura Besakih.
Lebih lanjut, dalam dharma wacana yang di sampaikan oleh bapak I Ketut Lancar,
beliau mengatakan permohonan dari Ibu Klian Banjar Nyama Braya Bali (NBB)
Jerman Ibu Agung Aryani-Willems, agar NBB Jerman bisa memiliki seperangkat
gamelan bali di setujui oleh Dirjen Hindu. Perihal ini di setujui dengan
pertimbangan organisasi NBB Nyama Braya Bali Jerman begitu aktif
menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang mempertemukan umat sedharma di daratan
Jerman pada khususnya serta di daratan Eropa pada umumnya. Tidak itu saja,
Dirjen Hindu nantinya juga akan menyumbangkan seperangkat peralatan
persembahyangan seperti Bajra (Genta), sehingga kedepannya kelompok NBB di
Jerman bisa memiliki pemimpin Agama yang selalu siap memimpin jalannya upacara
seperti layaknya jalannya upacara di Bali atau di Indonesia. Harapan dari
Dirjen Hindu terhadap Gamelan yang di sumbangkan ini agar bisa di gunakan
semaksimal mungkin tidak hanya di gunakan untuk kepentingan upacara
keagamaan semata, tapi juga bisa di gunakan untuk mempererat jalinan
persaudaraan diantara sesama Nyama Braya Bali di Jerman, melalui pertemuan
berkala di setiap latihan, juga tentunya bisa di gunakan untuk terus
mempromosikan kebudayaan Bali pada khususnya atau Indonesia pada umumnya
sehingga kedepannya akan semakin banyak warga jerman yang berniat mengunjungi
pulau Bali membantu pariwisata di Bali.
Di gambar berikut tampak Pura yang ada di lokasi Taman Wisata Dunia Berlin,
tempat berlangsungnya perayaan Kuningan 28 maret 2009 kemaren. keberadaan Pura
di Berlin ini juga mempersatukan warga nyama braya bali di berlin dan
sekitarnya di setiap bulannya atau persisnya di setiap purname tilem untuk
melakukan persembahyangan bersama.
Perayaan di Berlin ini di koordinatori oleh Ibu Suputri Sujiwa bersama team
dari nyama braya bali berlin. Persiapan yang cukup panjang dari Ibu Suputri
Sujiwa akhirnya berbuah manis dengan suksesnya kelangsungan jalannya perayaan
Kuningan ini. terbukti dengan cukup banyaknya nyama braya bali yang
berdomisili di seluruh pelosok Jerman datang ke kota Berlin untuk melakukan
persembahyangan bersama ini. Kerinduan akan kampung halaman di bali serta
kerinduan merayakan bersama dengan keluarga besar di Bali terobati oleh suara
gamelan bleganjur yang di pimpin oleh Bli Wayan Pica yang terus menggema
menemani jalannya perayaan Kuningan ini, serasa kita semua berada di Bali di
saat piodalan. diluar tenda tempat berlangsungnya upacara, juga terdapat pasar
cinderamata dimana para ibu-ibu menjajakan souvenir khas bali dan tentunya
masakan khas bali atau indonesia lainnya yang cukup memanjakan pengunjung untuk
betah menunggu pertunjukan yang di peruntukkan bagi
pengunjung umum. Last but not least, tidak ketinggalan masakan Bali yang di
sediakan oleh panitia untuk nyama braya bali beserta para undangan pun tidak
kalah lezatnya dengan masakan khas bali yang ada di Bali, seperti sambal bawang
mentah, tum celeng, sayur urab, sate lilit, dan menu utama yang paling
diminati tentunya Babi Guling, serta jajajan bali lainnya.
Di akhir acara, setelah selesai jalannya upacara keagamaan, setelah usai
sambutan dari undangan Ibu Walikota Berlin, Ibu ketua departement kebudayaan
Berlin, bapak ketua pengelola Taman Dunia Berlin, bapak utusan KBRI Berlin,
serta bapak utusan dari Dirjen Hindu Jakarta, dan juga setelah selesai jamuan
makan siang bagi Nyama Braya Bali dan para undangan , dan tentunya setelah
selesai acara foto-foto bersama bagi nyama braya bali di Jerman, kemudian tiba
saatnya acara pertunjukkan tari-tarian bagi pengunjung umum. Seperti tampak di
gambar berikut, dimana pengunjung umum begitu antusias dan berdesak-desakan
mendekati podium agar bisa menonton lebih dekat jalannya tari-tarian seperti
tarian panyembrama, tari blisbis, tari oleg tamulilingan, dll. dan yang paling
memikat penonton adalah ketika tarian joged bumbung di pagelarkan, dimana
penonton “bule” di ikut sertakan berpartisipasi untuk “ngibing” secara
bergantian. perasaan haru dan gembira
bercampur aduk menjadi satu ketika melihat para tamu undangan ikut serta
menari “ngibing”, seolah-olah kita semua bersaudara.
Akhir cerita, saya mengucapkan terimakasih atas perjuangan dari Panitia yang
telah mempertemukan kami Nyama Braya Bali yang berdomisili di seluruh Jerman
untuk bisa berkumpul bersama melakukan persembahyangan bersama di negeri orang
ini. Perjalanan jauh dari Stuttgart menuju Berlin yang saya tempuh sekitar
hampir selama 11 jam dengan kendaraan, terasa tidak berarti apa-apa bila di
bandingkan dengan besarnya keinginan untuk mewujudkan berkumpul bersama,
bertemu sesama nyama braya bali di jerman. kelelahan selama perjalanan dan
rasa kentuk karena kurang tidur selama perjalanan, sirna terobati oleh rasa
senang dan bahagia dengan bersembahyang bersama di perayaan Kuningan kemaren.
Terlebih yang membuat saya begitu senang di saat perayaan kuningan kemaren
adalah kesempatan untuk ikut berpartisipasi megamel bersama “nigtig” cengceng
bersama nyama braya bali yang laki-laki lainnya.
harapan saya, semoga kita semua bisa di pertemukan kembali di acara / perayaan
Kuningan berikutnya 6 bulan nanti, yang mungkin akan di laksanakan di kota
Hamburg, bersembahyang bersama sekaligus melaspas Pura Jagadnata yang saat ini
sedang di bangun. Semoga Ida Sang Hyang Widi selalu memberikan kita panjang
umur dan kesehatan, sehingga kita semua bisa mewujudkan apa yang kita cita-cita
kan. semoga.
salam waRning,