Sedih ya dengan keadaan seperti ini. Saya juga berfikir yang sama dengan P.
Suwela, kok bagi-bagi nasi bungkus pasil ya ? Gila ya, kita bagi-bagi nasi
bungkus aja belum mampu. Mungkin mental ngalih susuk apang liu yang menjadi
penyebabnya. Saya dengar nasi bungkus harus dibawa dari singaraja untuk
dibagikan ke grokgak (singaraja-grokgak 90 km). Kenapa nggak beli di grokgak
saja ?

Lalu turnamen golf itu kan biasanya simbol turnamen orang berduit. Uang yang
digunakan untuk biaya penyelenggaraan turnamen tsb dari mana ya ? Turnamen
ini kurang membangkitkan rasa memiliki warga terhadap ultah kotanya, maka
saya juga menangkap kesan Ultah Kota Singaraja kok biasa-biasa saja, padahal
pendiri kota singaraja adalah Raja Yang disegani pada saat itu, Anglurah Ki
Panji Sakti.

Saya setuju perlu ada pemikiran baru untuk tahun depan tentang bagaimana
cara merayakan ultah Kota Singaraja.

salam
gde wisnaya

2009/4/1 nyoman suwela <[email protected]>

> Pengalaman guru terbaik?
>
>    Orang bijak mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Namun,
> belum tentu semua orang menarik pelajaran dari pengalaman.
>
> Terpetik berita di media lokal, lebih dari 100 orang keracunan dan harus
> dirawat di rumah sakit di Singaraja, setelah menyantap nasi bungkus yang
> dibagikan Pemda Buleleng dalam PESTA RAKYAT menyambut HUT Kota Singaraja.
>
> Dalam Harian NUSA tanggal 1 April 2009. Bupati Buleleng menyatakan itu
> sebagai musibah, naum demikian, beliau tidak akan menghentikan tradisi pesta
> rakyat dengan membagikan nasi bungkus.
>
>     Bisa dibayangkan, membuat nasi bungkus yang jumlahnya ribuan, tentu
> akan menimbulkan pertanyaan: siapa yang membuat, bagaimana bahannya, cara
> membuatnya, yang terpenting SIAPA DAN BAGAIMANA PENGAWASANNYA sehingga
> makanan yang dibagikan benar-benar layak dikonsumsi? Biasanya, pembagian
> nasi bungkus dilakukan dalam keadaan darurat seperti bencana alam, banjir,
> gempa bumi, sehingga para korban disediakan nasi bungkus untuk bisa bertahan
> hidup. IT IS A MATTER OF SURVIVAL.
>
>      Disisi lain, terpasang baliho dengan foto pejabat sedang mengikuti
> TOURNAMENT GOLF. Disatu pihak, HUT dirayakan dengan membagikan nasi bungkus
> ( timbul kesan rakyat sedang kurang makan) dan dilain pihak dirayakan dengan
> tournament golf, yang sementara ini masih dianggap oleh rakyat tidak mampu
> sebagai olah raga mahal. Mungkin akan lebih banyak rakyat yang bisa ikut
> merayakan HUT dengan olah raga murah seperti sepak bola antar kecamatan,
> volley, bulu tangkis, catur, bahkan cerdas cermat diantara pelajar dengan
> hadiah yang menarik kepada mereka yang berprestasi, ketimbang membagikan
> nasi bungkus yang membawa musibah.
>
>     Semoga tulisan di Milis ini menjadi masukan bagi mereka yang memiliki
> wewenang mengambil keputusan dan Dinas Kesehatan Kabupaten tentunya sekarang
> memiliki tanggung jawab  berat.
>
>      Semoga masyarakat yang terkena musibah nasi bungkus cepat sembuh.
>
> TO ERR IS HUMAN. MULTIPLE ERR IS GOBLOK.
>
>     See you mate.
>
> NS
>
>


-- 
Gde Wisnaya Wisna
Jl.Dewi Sartika Utara 32A
Singaraja-Bali
website : www.lp3b.com

Kirim email ke