wahh teng kyu infonya...
tapi masih binun , gambarnya ga ada jadi ga tau gimana tanamannya


On Fri, Mar 14, 2008 at 12:08 PM, suwastinah atmodjo <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

>   KELADI TIKUS (RODENT TUBER) MAMPU SEMBUHKAN KANKER"
>
> Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi
>
> Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di
> Indonesiadapat
> memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan
> ditemukannya tanaman
> "KELADI TIKUS" (Typhonium Flagelliforme/ Rodent
> Tuber) sebagai tanaman
> obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai
> penyakit kanker dan
> berbagai penyakit berat lain.
>
>
>
> Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25
> sampai 30 cm ini hanya
> tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari
> langsung. "Tanaman
> ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata
> Drs.Patoppoi Pasau,
> orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia
> ..
>
>
> Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh
> Prof Dr Chris
> K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD
> dari Universiti
> Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang,
> Malaysia. Lembaga
>
>
> perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah
> membantu ribuan
> pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris , Australia ,
> Selandia Baru,
> Singapura, dan berbagai negara di dunia.
>
>
>
> Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh
> Patoppoi di
> Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi
> mengidap kanker
> payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari
> 1998. Setelah
> kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri
> Patoppoi harus
> menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh
> sel, Red) untuk
> menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.
>
> "Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar
> kami
> menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan
> mengakibatkan
> kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan
> hilangnya nafsu makan,"
> jelas Patoppoi.
>
>
>
> Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi,
> Patoppoi terus
> berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya
> dia mendapatkan
> informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia
> untuk mengobati
> kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke
> Malaysiauntuk membeli
> teh tersebut,"
>
> ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang
> berada di sebuah
> toko
>
> obat di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat
> dan membaca buku
> mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet
> They Live karangan
> Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996.
>
> "Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli
> buku tersebut.
> Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi
> membeli teh Lin Qi,
> tapi langsung pulang ke Indonesia ," kenang Patoppoi
> sambil tersenyum.
> Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium
> flagelliforme itu.
>
>
> Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi,
> pensiunan pejabat
> Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan
> mencari tanaman
> tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di
> berbagai tempat,
> familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas
> menghubunginya. Ternyata,
> mereka menemukan tanaman itu di sana . Setelah
> mendapatkan tanaman
> tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi
> menghubungi Dr. Teo di
> Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang
> ditemukannya itu.
>
>
> Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan
> menjelaskan bahwa
>
>
> tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo
> mengatakan agar
> tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,"
>
> lanjut Patoppoi.
>
> Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk
> kesembuhan, Patoppoi mulai
> memproses tanaman tersebut sesuai dengan
> langkah-langkah pada buku
> tersebut
>
> untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi
> menghubungi putranya,
> Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut
> mencarikan tanaman
> tersebut.
>
> "Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya
> mulai mencari di
> pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan
> tanaman tersebut
> tumbuh liar di
>
> pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya
> saat itu.
>
>
> Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri
> Patoppoi mengalami
> penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya.
> Rambutnya berhenti
> rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang.
> "Bahkan nafsu makan
> ibu saya pun kembali normal," lanjut Boni.
>
>
>
> Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri
> Patoppoi menjalani
> pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif,
> dan itu sungguh
> mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ," kata
> Patoppoi. Para
> dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa
> yang diberikan pada
> isterinya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah
> salah memberikan
> dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi.
>
>
>
> Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent
> Tuber, para dokter
> pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan
> agar
> mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya
> yang tidak
> mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras
> tersebut. Dan
> pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali
>
> diundur menjadi enam bulan sekali."Tetapi karena
> sesuatu hal, para
> dokter tersebut tidak mau mendukung secara
> terang-terangan penggunaan
> tanaman sebagai
>
> pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa.
>
>
>
> Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan
> peningkatan
> keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi
> kemudian menghubungi
> Dr.Teo
>
>
>
> melalui fax untukmenginformasik an bahwa tanaman
> tersebut banyak terdapat
> di Jawa dan
>
> mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman
> ini di Indonesia.
> Kemudian Dr .. Teo langsung membalas fax kami, tetapi
> mereka tidak tahu
> apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang
> jauh," sambung Patoppoi.
> Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka
> diterjemahkan dalam
> bahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia, Dr.
> Teo menganjurkan
>
>
> agar kedua belah pihak bekerja sama dan
> berkonsentrasi dalam usaha
> nyata membantu penderita kanker di Indonesia.
>
> Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos
> mengulas habis mengenai
> meninggalnya Wing Wir yanto , salah satu wartawan
> handal Jawa
> Pos,Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci
> mengenai gejala,
> penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos,
> ternyata sama dengan
> salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus
> yang dijelaskan
> di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan
>
> tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut.
>
> "Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis
> di Jawa Pos,"
> ujar Boni.
>
> Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar
> dugaan. Dalam sehari,
> bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini,
> sudah ada sekitar
> 300 orang
>
> yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di
> Jl. KH. Khamdani,
> Buduran Sidoarjo.
>
>
>
>
>
> Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker
> Mulut Rahim
> stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan
> harus dioperasi.
> Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil
> menunggu rumahnya laku
> dijual
>
> untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca
> Jawa Pos.
> Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak
> lama kemudian pasien
> tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak
> perlu dioperasi,
> karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.
>
>
>
> Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat
> tinggi, Patoppoi
> berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas
> bantuan Direktur
> Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen
> Kesehatan, Sampurno,
> Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang , Malaysia
> . Di kantor Pusat
> Cancer Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat
> penerangan lebih lanjut
>
>
> mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki
> nama Indonesia ..
> Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet
> They Live" edisi
> revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan
> dalam buku tersebut,
> serta pengalaman
>
> isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker.
> Dari pembicaraan
> mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan
>
>
>
> perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya . Maka
> secara resmi,
> Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan
> lembaga sosial Cancer
> Care Indonesia , yang juga disebutkan dalam buletin
> bulanan Cancer Care,
> yaitu di
>
> Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta Timur, telp.
> 021-4894754, 4894786, 4897686
> dan di Buduran, Sidoarjo.
>
> Cancer Care Malaysiatelah mengembangkan bentuk
> pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah
> memproduksi
> ekstrak Keladi Tikus
>
> dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan
> dengan berbagai
> tananaman lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis yang
> diperlukan
> tergantung penyakit yang diderita," kata Boni.
>
>
>
> Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus
> mengisi formulir yang
> menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan
> dikirimkan melalui fax
>
>
> ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini,
> dan akan kami fax-kan.
> Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep
> sekaligus
>
>
> obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia ,
> sekitar 40-60 Ringgit
> Malaysia ," lanjut Boni.
>
> "Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami
> tidak menarik
> keuntungan,
>
> malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa
> memberikan perpanjangan
> waktu pembayaran. " tambahnya.
>
>
>
>
>
> Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang
> dicoba oleh salah
> satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang
> mengidap kanker
> ginjal. Adadua pasien yang sedang dirawat dokter yang
> pernah menjabat
> sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di
> Surabayaini. Pasien
> pertama yang
>
> mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan
> dengan keladi tikus,
> karena telah
>
> ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki
> reputasi. Setelah
> menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut
> mengalami kerontokan
> rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah.
>
> Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal,
> dokter ini
> menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi
> tikus untuk membantu
> proses penyembuhan kemoterapi.
>
>
>
> Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek
> yang dialami
> penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan
> normal. Tetapi
> dokter ini menolak untuk diekspos karena
>
> menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di
> Indonesia ..
> Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia
> memakai pengobatan
> alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai
> "ter-kun" atau
> dokter-dukun.
>
> "Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan
> konvensional dan modern,"
> kata dokter tersebut.
>
>
>
> Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima
> dan memberikan
> bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu
> berat putaw dan
> sabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu
> tersebut mendapat
> kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker
> paru-paru stadium III,
> pasien tersebut mengkonsumsi pil
>
> dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan,
> karena ternyata
> obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari
> peredaran darah
> penderita dan
>
> mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut.
>
> "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun
> dengan keladi tikus,
> dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti
> akan timbul
> resistensi. Jadi jangan
>
> seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung
> Boni sambil tertawa.
>
>
> Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung
> kesakitan akibat serangan
> kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa
> sakit sudah tidak
> mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus,
> beberapa saat
> kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa
> kesakitan.
>
>
> Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit
> yang telah
> disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat
> seperti kanker
> payudara, paru-paru, usus besar-rectum,
>
>
>
> liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan,
> tulang, otak, limpa,
> leukemia, empedu, pankreas,
>
> dan hepatitis.
>
>
>
> Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang
> menghabiskan milyaran
> Ringgit
>
> Malaysiaselama 5 tahun
>
> dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.
>
>
>
> Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih
> lanjut sehubungan
> dengan artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi
> perwakilan lembaga sosial
>
>
> "Cancer Care Indonesia " beralamat di Jl. Kayu Putih 4
> no. 5, Jakarta Timur,
> telp : 021-4894754, 4894786, 4897686
>
> __________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and
> know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
> http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
>
>  
>



-- 
salam
http://baliazura.wordpress.com

Kirim email ke