Sekadar curhat. Minggu-minggu ini berita tentang perusakan lingkungan di
Bali terus menggangguku. Di danau Buyan, Bedugul banyak villa sedang di
bangun. Padahal Buyan adalah salah satu dari empat danau terbesar di Bali
yang tidak hanya mengaliri sawah-sawah di sekitarnya. Buyan juga tempat di
mana petani Bali Hindu menghaturkan sembah pada penguasa air.

Lalu di Wongaya Betan, Tabanan juga baru saja diletakkan batu pertama
pembangunan villa atas nama pariwisata. Villa yang katanya untuk terapi
spiritual itu dibangun di kawasan hijau. Tidak hanya tempat petani bercocok
tanam, tapi juga tempat masyarakat Bali menggantungkan sumber pangan selain
Jatiluwih.

Dan, hari ini, ketika aku dan Agung
Wardana<http://bhumisenthana.blogspot.com/>,
teman aktivis Walhi Bali, ketemu dengan Pak Nyoman Sadra di Ashram Candi
Dasa, Karangasem, berita tentang perusakan lingkungan itu juga yang kami
dengar. Pak Sadra mengabarkan pantai di Candi Dasa yang kini direklamasi
dengan alasan pelestarian lingkungan. Padahal reklamasi itu sendiri sudah
menyalahi aturan. Pembangunan di pantai, paling tidak harus berjarak 25
meter dari garis pasang. Toh, ini tetap dijalankan. Ketika kami bertiga ke
pantai itu, traktor dan alat berat lain sedang sibuk menguruk pantai dengan
batu dan pasir

Lalu dari titik di mana pantai sedang direklamasi itu, kami melihat bukit di
dekat Padang Bai justru sedang dikeruk. Bukit-bukit yang menghijau itu
sebagian terlihat kosong, memutih karena tanahnya diambil. Kata Pak Sadra,
di sana juga akan berdiri hotel bintang lima. Atas nama pariwisata,
orang-orang itu merusak alam seenaknya. Aduh..
http://www.rumahtulisan.com/perusakan-atas-nama-pembangunan/

-- 
anton | http://rumahtulisan.com

Kirim email ke